Home » Teori Psikologi » Kepribadian » Teori Identitas Sosial – Pengertian – Kategori

Teori Identitas Sosial – Pengertian – Kategori

by Tiffany

Sosial merupakan hal yang paling dekat dengan manusia, bahkan bisa dibilang bagian kehidupan manusia. Dimana sebagai seorang manusia yang tidak bisa hidup sendiri maka kehidupan sosial merupakan hal yang paling diutamakan. Sebagai makhluk sosial, yang berlabelkan kehidupan bersama maka dunia sosial akrab dan menjadi bagian hidup setiap manusia.

Rasanya akan aneh jika memiliki teman, keluarga atau seseorang yang agak sulit membaur dan memiliki nilai sosial yang buruk dengan lingkungan, bahkan dalam dunia Psikologi hal seperti itu sudah dikategorikan sebagai permasalahan.

Berbicara soal sosial maka setiap atau masing-masing manusia memiliki identitas. Manusia adalah mahkluk yang bertanya akan dirinya. Mahkluk yang harus mencari identitas dirinya. Mahkluk dengan kesadaran di manakah seharusnya dia berada. Keadaan tersebut tidak terjadi pada mahkluk-mahkluk lainnya, hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya apa itu identitas ? Identitas memiliki pengertian sebagai suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, suatu kesatuan unik yang memelihara kesinambungan arti masa lampaunya sendiri bagi diri sendiri dan orang lain; kesatuan dan kesinambungan yang mengintegrasikan semua gambaran diri, baik yang diterima dari orang lain maupun yang diimajinasikan sendiri tentang apa dan siapa dirinya serta apa yang dapat dibuatnya dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

baca juga:

Pengertian Identitas

Berdasarkan macamnya menurut Erikson, dibedakan menjadi dua yakni, identitas secara pribadi dan identitas dilihat dari ego. Identitas pribadi seseorang berpangkal pada pengalaman langsung bahwa selama perjalanan waktu yang telah lewat, kendati mengalami berbagai perubahan, ia tetap tinggal sebagai pribadi yang sama. Identitas pribadi baru dapat disebut identitas Ego kalau identitas itu disertai dengan kualitas eksistensial sebagai subyek yang otonom yang mampu menyelesaikan konflik-konflik di dalam batinnya sendiri serta masyarakatnya.

Menurut erikson sendiri, proses pembentukan identitas berlangsung secara pelan-pelan dan pada awalnya terjadi secara tak sadar dalam inti diri individu. Proses pembentukan identitas yang berangsur-angsur itu sebenarnya sudah dimulai pada periode pertama, yakni periode kepercayaan dasar lawan kecurigaan dasar.

Sedangkan menurut Jacques Lacan, psikoanalis yang berasal dari Perancis, berpendapat bahwa awal pengenalan identitas diri hadir apabila seseorang telah mengalami apa yang disebut dengan fase cermin (Lacan, 1977). Sebelum masuk kedalam tahap yang disebutkan sebelumnya. Balita belum bisa mengenal pemisahan baik antara diri dan juga orang lain, bayi serta ibunya di dalam dan juga di luar serta laki-laki dan perempuan.

Fase cermin berlangsung dalam bentuk keterbelahan antara aku yang melihat dan aku yang dilihat, sehingga dalam posisi ini sangatlah penting mengenalkan anak-anak akan yang dimaksud dengan identitas. Karena hal tersebut merupakan titik inti bagaimana fase tersebut mengenal identitas.

baca juga:

Henri Tajfel Sebagai Tokoh Teori Identitas Sosial 

Tokoh Teori Identitas sosial adalah Henri Tajfel adalah keturunan Yahudi Polandia yang lahir di Wloclawek pada 22 Juni 1919. Akan tetapi Tajfel sudah bersifat agnostik sejak mudanya. Dia sama sekali tidak menganut secara penuh agama yang dianutnya, bicara soal pribadi Tajfel memang cukup jarang ditemukan dan juga unik.

Semua pelajaran Tajfel didapatkan saat perang dunia kedua yang terjadi, dimana ia sedang belajar ilmu kimia di Universitas Sorbone yang ada di Prancis. Namun setelah peperangan Tajfel yang tertangkap dan menghabiskan waktu di Jerman selama 5 tahun sebagai tahanan perang.

Pengalaman yang dialami oleh tokoh inilah yang ternyata berdampak pada karir dan juga jalan pemikiran kedepannya. Pertama, dia mengembangkan konsep prejudice yang bersifat menetap,  kedua, mengakui kalau nasibnya terikat kuat sepenuhnya dengan identitas kelompoknya sedangkan yang ketiga, dia memahami kalau Holocoust bukan hasil dari psikologi tapi dari operasi proses psikologi dimana konsep yang ada sebelumnya sudah terberi dalam konteks sosial dan politiknya. Meskipun Tajfel sebagai seorang yang lulusan kimia, pemikiran sosial Tajfel berkembang.

baca juga:

Identitas Sosial

Ada beberapa pengertian yang dinyatakan oleh beberapa ahli mengenai identitas sosial Pertama menurut Tajfel  yaitu identitas sosial adalah bagian dari konsep masing-masing individu yang berasal dari keanggotaannya dan berada dalam satu kelompok sosial dimana kelompok sosial tersebut dan nilai serta signifikasi emosional yang ada dilekatkan dalam keanggotaan tersebut. Sering kali identitas ini untuk menampilkan kelompok tersebut agar lebih eksis.

Identitas sosial sebagai teori tidaklah berangkat dari kekosongan lalu terbentuk begitu saja menjadi teori yang mengisi bidang psikologi sosial. Teori identitas sosial adalah evolusi teori yang keluar dari teori kategosisasi sosial. Teori kategorisasi sosial sendiri diperkenalkan oleh Tajfel tahun 1972Teori identitas sosial adalah teori yang dikembangkangkan setelah Tajfel melihat kategorirasi yang dilakukan individu dan melekatkan juga nilai-nilai di dalamnya pada kelompoknya dalam menilai kelompok lain. Untuk membahas lebih dalam mengenai teori identitas sosial, ada baiknya dijelaskan dulu mengenai konsep kategori sosial.

Baca:

Memang, sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu yang besar dan lebih lama ketimbang situasi partikular lainnya.

Sedangkan menurut Burke  & Stets (1998), identitas sosial termasuk ke dalam kategorisasi diri dalam kelompok, selain itu lebih terfokus kepada makna yang terkait kategorisasi-diri dalam hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang terkait dalam menjadi anggota kategori sosial. Dengan penekanan yang lebih besar pada identifikasi kelompok, berfokus pada hasil kognitif seperti ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok.

Menurut Sarben & Allen (1968), identitas sosial juga berfungsi sebagai pengacu keberadaan posisi seseorang berada di mana dia. Berada di tingkatan mana kita berada, posisi seperti apa saja yang keberadaannya sama dengan kita dan mana juga yang berbeda. Teori identitas sosial melihat bahwa suatu identitas sosial selalumengklarifikasikan dirinya melalui perbandingan, tapi secara umumnya, perbandigannya adalah antara in-groups dan out-groupsIn-groupsbiasanya secara stereotype positif sifatnya, selalu lebih baik dibandingkan out-groups.

Baca:

Kategorisasi Sosial

kategorisasi sosial Terjadi ketika kita berpikir tentang seseorang baik diri kita atau orang lain sebagai anggota kelompok sosial yang berarti atau bermakna (dalam Stangor, 2004). Dalam hal ini kita melihat saya sebagai bagian kelompok A, misalnya, dan dia sebagai kelompok B. saya berada dalam kelompok ini karena memang sudah terlahir menjadi bagian kelompok yang saya anut sekarang bisa juga memang karena kelompok tersebut memang mendekati akan kriteria kepribadian saya.

kategori sosial ini bisa saja berdasarkan dari ciri-ciri fisik, asal dari instansi mana mereka berasal, jenis kelamin, umur, dan lain-lain yang sekiranya bisa membentuk kelompok sosial. Dalam hal kategori ini, kelompok bisa saja mempengaruhi karakteristik dari individu, namun individu juga bisa mempengaruhi kelompok (dalam Stangor, 2004).

Baca:

Harus disadari juga, dalam kategorisasi sosial, kategori diri juga ikut dipertimabangkan. Ketika kita mengkategorikan seseorang belum itu menggambarkan secara keseluruhan keberadaan seseorang tersebut. Untuk itu, kategori sosial hanya melihat nilai umumnya saja dari suatu individu sebagai dari keloompok yang dia anut.

Kategorisasi Diri terjadi ketika seseorang berpikir terhadap dirinya (daripada berpikir tentang orang lain) sebagai anggota kelompok sosial. Kategorisasi diri melibatkan di dalamnya perbandingan antara kelompok yang mereka miliki (in-group) dan kelompok yang tidak mereka rasa memilikinya (out-group).

Tujuan dari kategori sosial merupakan bagian dasar dari persepsi manusia untuk mempersepsikan yang lain. Dengan adanya kategorisasi, orang lebih bisa mempersiapkan hal yang akan dia tampilkan. Jika saja datang undangan pernikahan dengan adat betawi tentu saja pakaian yang dikenakan untuk mengahadiri pesta pernikahan tersebut akan berbeda dengan pakaian ketika akan pergi menghadiri pesta ulang tahun remaja 17 tahun.

Pengaruh dari kategorisasi sosial tidak melulu memberikan pengaruh yang positif saja, malah mungkin cenderung negatif. Contohnyaa saja stereotip; keyakinan seseorang atau kelompok tentang karakteristik dari kelompok sosial atau anggota dari kelompok tersebut. Lalu prasangka; sikap negatif yang unjustifiable terhadap out-group, atau terhadap anggota dari kelompok tersebut. Kemudiandiskrimanasi; tingkah laku negatif yang unjusttifiable terhadap anggota di luar kelompoknya berdasarkan pandangan dari kelompok mereka.

Baca:

Dalam masyarakat yang multi-etnik, multi-kultural, dan berkumpul di sana berbagai macam kelompok memang akan menimbulkan identitas sosial yang komplek sifatnya. Terkadang identifikasi kita sebagai guru terbawa pula pada identifikasi kita sebagai orang tua. Meskipun begitu, dengan adanya identitas-identitas, secara tidak langsung akan mengajarkan diri kita lebih dewasa terhadap pebedaan. Seperti apa yang telah dijelaskan oleh Brewer (2002), identitas yang tinggi keberagaman tinggi pada seseorang biasanya akan lebih bersikap toleran terhadap kelompok lain.

baca juga:

Demikian penjelasan terkait teori identitas sosial. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan anda tentang teori teori psikologi.

You may also like