Sponsors Link

14 Penerapan Psikologi dalam Bidang Kriminal

Sponsors Link

Psikologi kriminal merupakan ilmu pengetahuan tentang jiwa individu atau kelompok secara langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perbuatan jahat serta akibatnya. Psikologi kriminal yang mendasari analisanya dari segi psikologi dalam upaya mengetahui beberapa tipe penjahat.

ads

Sedangkan psikologi juga berusaha menganalisa kejahatan tersebut dari sudut kejiwaan mengenai macam macam frustasi serta tekanan jiwa manusia yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan. Pendekatan tersebut akan mempelajari tentang individual yang menyebabkan sebagian orang melakukan tidakan kriminal yang tidak dilakukan oleh orang lain dengan latar belakang sama.

Untuk itu, biasanya mereka akan memusatkan pada latar belakang individu seperti contohnya perkembangan orang tersebut, disiplin apa yang diterapkan oleh orang tua yang mungkin berperilaku kasar. Berikut akan kami beri ulasan tentang penerapan psikologi dalam bidang kriminal selengkapnya.

1. Pemeriksaan Psikologi [Kompetensi Psikologi]

Penerapan psikologi dalam bidang kriminal adalah untuk memeriksa psikologi dari individu yang melakukan tindakan kriminal sama seperti peran psikologi dalam bidang hukum. Pemeriksaan psikologi tersebut merupakan sebuah proses psikodiagnostika yang diberikan untuk seseorang yang menjadi saksi, tersangka atau korban dalam tindak pidana tertentu.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi psikologis seperti potensi dan profile psikologi tentang seseorang yang berhubungan dengan peristiwa pidana tertentu untuk diinformasikan pada penyidik untuk mengambil langkah langkah tertentu guna mendukung proses penyidikan.

Baca juga :

Tanpa mengecilkan pemeriksaan terhadap subyek yang lain, pemeriksaan ini umumnya lebih diarahkan pada tersangka untuk mengetahui dinamika psikologi seseorang seperti motif, kebohongan, indikasi psikophatologis dan sebagainya serta saran terhadap penyidik supaya bisa mengambil langkah langkah tertentu yang menuntutu kesegeraan.

2. Profiling Psikologi

Profiling psikologi merupakan serangkaian kegiatan profesi psikolog untuk mengidentifikasi ciri ciri yang bersifat khusus mengenai seseorang atau lebih yang diduga menjadi pelaku tindak kejahatan berdasarkan fakta di lapangan.

Artinya, profesi psikologi harus bisa menyelenggarakan psikodiagnostik terhadap seseorang tanpa harus bertemu dengan seseorang namun hanya berdasarkan pada jejak yang ditinggalkan.

Dalam profiling tersebut, psikolog tidak harus menunjuk pada nama atau identitas seseorang secara langsung namun lebih bersifat membantu penyidik untuk memperkecil atau mempermudah dalam memperkirakan siapa yang menjadi pelaku dengan ciri ciri dalam profiling tersebut seperti contohnya korban mutilasi, korban pembunuhan, kasus bom dan sebagainya.

3. Autopsi Psikologi

Autopsi psikologi merupakan penegakan psikodiagnostik dengan membuat sebuah gambaran tentang kepribadian seseorang yang telah mati berdasarkan pada allo anamnese dan juga berbagai keterangan lain dari lingkungan untuk membuat profile perilaku tertentu yang masih diperdalam dan didatakan untuk kepentingan lain yang termasuk objek studi dalam psikologi kriminal. Sebagai contohnya adalah membuat profile tentang pelaku bunuh diri, membuat profile tentang orang yang cenderung menjadi korban dan sebagainya.

4. Analisa Psikologi

Analisa psikologi merupakan kegiatan berupa tulisan yang berisi analisa psikologi mengenai trend kejahatan atau kriminalitas tertentu yang kemudian akan dibuat saran saran dan prediksi tertentu yakni kasuistik, actual dan berjangka waktu. Sebagai contohnya adalah kejahatan di bulan Ramadhan, trend bunuh diri ada anak anak, penyalahgunaan senjata api, KDRT dan masih banyak lagi.

Baca juga :

5. Pendekatan Tipologi Fisik atau Kepribadian

Pendekatan tipologi ini memandang jika sifat dan karakteristik fisik manusia berkaitan dengan perilaku kriminal yang membuktikan jika hubungan psikologi dengan kriminologi sangat erat. Tokoh yang terkenal pada konsep penerapan ini adalahKretchmerh dan juga Sheldon.

Kretchmer dengan constitutional personality melihat kaitan antara tipe tubuh dengan kecenderungan perilaku. Menurutnya, ada tiga tipe jaringan embrionik dalam tubuh yakni endodern berupa sistem digestifpencernaan, ectoderm yakni sistem kulit dan saraf serta mesoderm yang terdiri dari tulang serta otot.

Ia perpendapat jika sangat normal memiliki perkembangan yang seimbang sehingga kepribadian juga bisa normal. Namun jika perkembangan tidak seimbang, maka akan terjadi masalah kepribadian yang salah satunya menyebabkan tindakan kriminal.

Sebagai contoh, karakteristik fisik pencuri memiliki kepala pendek, rambut merah dan rahang yang tidak menonjol keluar. Sementara karakteristik perampok memiliki rambut panjang bergelombang, telinga pendek dan wajah lebar. Metode ini biasanya mudah digunakan oleh ahli kriminologi yakni dengan mengukur fisik para pelaku kejahatan yang sudah ditahan atau dihukum.

6. Pendekatan Pensifatan atau Trait

Teori tentang epribadian pendekatan menyatakan jika sifat atau karakteristik kepribadian tertentu berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan kriminal. Dari beberapa penelitian yang ada tentang kepribadian, baik yang melakukannya dengan teknik kuesioner atau pun teknik proyektif, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kepribadian mempunyai hubungan dengan perilaku kriminal.

Sebagai contoh yang bisa diambil, seseorang yang cenderung melakukan tindakan kriminal memiliki kemampuan kontrol diri yang rendah. Orang yang cenderung pemberani, memiliki dominasi yang kuat, memiliki power lebih, ekstravert, cenderung asertif macho, dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan fisik yang sangat tinggi dan masih banyak lagi.

7. Pendekatan Psikoanalisis

Freud melihat jika perilaku kriminal adalah representasi dari Id yang tidak terkendali oleh ego dan superego dan berpengaruh pada dampak psikologi pelaku kriminalitas. Id tersebut merupakan impuls yang mempunyai prinsip kenikmatan atau pleasure principle.

Baca juga :

Pada saat prinsip tersebut dikembangkan super ego terlalu lemah untuk mengontrol impuls yang hedonistik. Hasilnya, perilaku sekehendak hati asalah menyenangkan muncul dalam diri seseorang.

Super ego melemah karena resolusi yang tidak baik dalam menghadapi konflik Oedipus yang artinya seorang anak seharusnya melakukan belajar dan beridentifikasi dengan ayahnya namun dilakukan dengan ibunya.

8. Pendekatan Teori Belajar Sosial

Teori ini dimotori oleh Albert Bandura yang menyatakan jika peran model dalam melakukan penyimpangan yang berada di rumah, media serta subcultur tertentu merupakan contoh baik untuk membentuk perilaku kriminal orang lain.

Ada dua cara observasi yang dilakukan terhadap model yakni secara langsung dan juga secara tidak langsung. Nampaknya metode ini yang paling berbahaya dalam menimbulkan tindak kriminal sebab sebagian besar perilaku manusia dipelajari lewat observasi terhadap model mengenai perilaku tertentu.

9. Pendekatan Teori Kognitif

Pendekatan ini menyatakan jika pelaku kriminal memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang normal pada teori dalam psikologi dalam kriminologi. Yochelson dan Samenow sudah mencoba meniliti gaya kognitif pelaku kriminal dan mencari pola atau penyimpangan bagaimana dalam memproses informasi.

Para peneliti yakin jika pola berpikir lebih penting dibandingkan hanya sekedar faktor biologis dan lingkungan yang menentukan seseorang menjadi kriminal atau tidak.

Dengan mengambil contoh dari pelaku kriminal seperti seseorang yang ahli dalam manipulasi liar yang kompulsif dan orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, maka diperoleh kesimpulan jika pola pikir pelaku kriminal tersebut memiliki logika bersifat internal dan konsisten, namun logikanya salah dan tidak bertanggungjawab. Ketidaksesuaian pola inilah yang sangat berbeda antara pandangan mengenai realitas.

10. Investigasi Kriminal

Peranan psikologi dalam dunia kriminal berikutnya adalah untuk membantu dalam sejumlah kegiatan yang berhubungan dengan investigasi kriminal dari mulai menciptakan profil dari pelaku atau korban berdasarkan informasi yang tersedia untuk melakukan tes psikologis orang yang diadili karena berbagai kegiatan yang sudah dilakukan.


11. Membantu Kelancaran Peradlian

Aplikasi psikologi dalam sistem hukum atau psikologi dalam dunia kriminal juga berguna untuk membantu kelancaran peradilan agar bisa mendapatkan serta mendayagunakan beberapa informasi psikologis yang dibutuhkan seperti untuk memahami kejahatan, membantu proses penyidikan dan pengadilan yakni motif, pelanggaran hukum, tanggung jawab dari pelaku, perilaku yang ditunjukkan selama penyidikan dan juga proses peradilan.

Baca juga :

Selain itu, beberapa hal psikologik dalam menentukan pidana dan upaya pemasyarakatan serta perilaku korban kejahatan yang mungkin juga menjadi penyebab terjadinya pelanggaran hukum tersebut juga akan dibicarakan.

12. Berperan Dalam Kesaksian

Psikolog nantinya akan menganalisa saksi atau tersangka. Melihat dari struktur kognitif, teori atribusi atau mengidentifikasi dari TKP. Psikolog juga membantu saksi mata untuk bisa mengenali sebuah kejadian dan juga membuat saksi mata bisa mendapatkan ingatan mengenai suatu kejadian.

Psikolog juga menganalisa apakah hukuman penjara bisa bekerja dengan baik atau tidak dan juga efek psikologis yang ada pada mereka yang di penjara serta membantu di dalam penjara dengan program pelatihan dan pengobatan perilaku kriminal dengan cara sesi khusus, token ekonomis atau terapi anger managment.

13. Menakar Kemampuan Terdakwa

Sama seperti mempelajari dan melihat karakter terdakwa pada aplikasi psikologi dalam hukum, peran psikologi dalam dunia kriminal juga bisa dipakai untuk mengukur kemampuan yang dimiliki terdakwa. Proses pengadilan sendiri belum tentu bisa selesai hanya dalam satu waktu yang tentu akan menguras pikiran dan juga tenaga.

Untuk itulah, aspek psikis dari seseorang harus dilihat dengan baik dan proses pengadilan bisa ditunda jika terdakwa sudah terlihat lebih baik dalam menghadapi pengadilan tersebut.

14. Memberikan Solusi Pemecahan Masalah

Penerapan psikologi dalam bidang kriminal bisa berupa pemecahan masalah yang dapat ditentukan atas dasar aspek psikologi yang menjadi sebuah pilihan yang umumnya akan dilakukan ketika tidak ada lagi pilihan yang bisa diambil.

Jika beberapa bukti yang ada tidak terlalu kuat akan tetapi secara psikologi dapat dilihat jika memang seseorang melakukan tindakan kriminalitas, maka hakim bisa memutuskan hukuman yang sesuai dengan aspek psikologi yang akan digunakan sebagai barang bukti. Meski terlihat seperti sesuatu yang dilematis, akan tetapi psikologi tetap bisa memberikan banyak bantuan dalam dunia kriminalitas.

Sponsors Link
, ,