Sponsors Link

13 Peran Psikologi Klinis dalam Psikologi Forensik

Sponsors Link

Istilah forensik mungkin cukup sering kita dengar sehari-hari, terutama berkaitan dengan dunia hukum ataupun penyelidikan. Forensik berasal dari Bahasa Latin forensik, yang berarti ‘luar’ dan memiliki asal kata yang sama dengan kata ‘forum’ yang berarti ‘tempat umum’. Namun, seiring berjalannya waktu, istilah forensik mengalami persempitan arti dan memiliki makna ‘penerapan prinsip-prinsip ilmu sains untuk membantu proses penegakan hukum’.

ads

Psikologi forensik merupakan sebuah cabang dari ilmu psikologi yang sangat luas. Psikologi forensik ini mempelajari suatu subjek dari sisi kognitif, afektif dan perilakunya yang berkaitan dengan proses hukum. Dalam artian lain, psikologi forensik adalah titik temu antara bidang psikologi dan bidang hukum.(Baca juga: Psikologi Forensik)

Psikologi forensik memiliki ruang lingkup sendiri. Menurut Nietzel dan Bernstein (1998), ada lima bidang yang ditawarkan oleh psikologi forensik, antara lain:

  • Kompetensi untuk menjalani pemeriksaan/persidangan dan tanggung jawab criminal
  • Kerusakan psikologis dalam pemeriksaan sipil
  • Kompetensi sipil
  • Autopsy psikologi dan criminal profiling
  • Child Custody (hak asuh anak) dan parental fitness (kelayakan sebagai orang tua)

Dengan melihat ruang lingkup psikologi forensik di atas, kita mengetahui bahwa psikologi forensik merupakan aplikasi dari psikologi klinis pada masalah yang dihadapi oleh para jaksa dan polisi di bidang peradilan yang berhubungan dengan civil, criminal dan administrative justice. Hal inilah yang membedakannya dengan psikologi hukum yang lebih fokus kepada aspek-aspek yang bersifat eksperimental.  (Baca juga: Sejarah Psikologi Eksperimen)

Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh para penegak hukum adalah ketika klien atau terdakwa di persidangan berpura-pura sakit untuk bisa mangkir dari persidangan. Maka, seringkali jaksa dan para penegak hukum membutuhkan pendapat dari para psikolog untuk melihat kondisi klien secara klinis. Berikut ini akan dibahas 13 peran psikologi klinis dalam psikologi forensik:

  1. Untuk Melihat Kondisi Mental Klien atau Subjek

Telah dibahas secara singkat sebelumnya bahwa terdakwa siding peradilan seringkali berpura-pura sakit dan tidak sanggup mengikuti jalannya persidangan. Meski tindakan ini termasuk dalam pelanggaran yang memiliki sanksi tersendiri, pihak peradilan pasti membutuhkan bantuan tenaga medis juga psikolog untuk melihat kondisi kesehatan terdakwa.

Baca juga:

Maka, di sini psikologi klinis dapat membantu menjawab pertanyaan, apakah individu yang terlibat sedang mengalami gangguan mental atau gangguan psikologi. Psikologi klinis juga akan menilai apakah individu tersebut memerlukan tindakan medis, bahkan memerlukan perawatan di rumah sakit.

  1. Menilai Perilaku Subjek Dalam Peradilan

Psikolog klinis sering disebut sebagai ahli dalam menilai perilaku seseorang. Maka, tidak heran jika salah satu peran psikologi klinis dalam psikologi forensik adalah untuk menjelaskan perilaku yang berkaitan dengan polisi, jaksa, hakim, dan lain-lain, termasuk subjek yang terlibat di peradilan.

  1. Menilai Kemampuan Subjek Untuk Mengikuti Persidangan

Psikologi klinis juga memiliki peran untuk melihat kesiapan mental dan psikologi terdakwa untuk mengikuti persidangan. Misalnya, apakah terdakwa kuat mentalnya dan tidak dalam keadaan yang sangat tertekan sehingga bisa mengganggu diri dan jiwanya selama persidangan?

  1. Menilai Kondisi Kesadaran Subjek Saat Melakukan Tindak Criminal

Peran psikologi klinis dalam psikologi forensik selanjutnya adalah untuk menilai apakah terdakwa sadar saat melakukan tindak kejahatannya. Hal ini sangat perlu untuk dipastikan karena nantinya akan menentukan vonis dan sanksi untuk individu yang terlibat tersebut.

  1. Melihat Tingkat Trauma yang Dialami

Tidak hanya untuk melihat kondisi subjek yang terlibat dalam tindak kejahatan, psikologi klinis juga berperan untuk memastikan bagaimana kondisi korban tindak kejahatan atau kecelakaan. Dengan psikologi klinis, pihak yang berwenang akan mengetahui seberapa serius kondisi psikologi seseorang yang mengalami kecelakaan atau trauma tersebut. Hal ini akan sangat berguna untuk menentukan penanganan, perawatan dan pemulihan pasca kejadian. (Baca juga: Cara Menghilangkan Trauma Psikis pada Anak)

Sponsors Link

  1. Melihat Kompetensi Seseorang

Melalui psikologi klinis dalam forensik, pihak yang berwenang bisa mempelajari kompetensi seseorang secara kejiwaan dan mentalnya. Hal ini biasanya sangat berguna untuk menentukan kasus perceraian, menentukan hak asuh anak, dan sebagainya. (Baca juga: Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak)

  1. Menilai Kemampuan Pembuatan Keputusan

Psikologi forensik tidak melulu berkaitan dengan tindak kejahatan atau kecelakaan. Psikologi forensik juga mecakup kasus-kasus sipil, seperti kasus jual beli, persengketaan tanah dan lain sebagainya. Dalam hal ini, psikologi klinis dibutuhkan perannya untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membuat keputusan yang penting, juga untuk mempertimbangkan dampak psikologis yang mungkin muncul akibat persengketaan yang terjadi.

  1. Profiling Criminal

Selanjutnya, psikologi klinis juga berperan sebagai profiler yang bisa mendeskripsikan tersangka criminal. Dengan ilmu psikologi, pihak yang berwenang bisa membuat deskripsi kategori tersangka kejahatan yang paling memungkinkan.

  1. Menentukan Perawatan Untuk Korban

Seringkali korban kecelakaan atau tindak kejahatan mengalami trauma psikologis yang mendalam. Hal ini memerlukan perawatan yang bisa ditentukan melalui pemeriksaan klinis untuk membantu korban bangkit dari traumanya. Psikolog diharapkan mampu memberi motivasi dan kekuatan untuk korban yang bisa membangkitkannya dari trauma yang dialami.

Baca juga:

Bantuan perawatan pasca mengalami kecelakaan atau kejahatan pasti dibutuhkan oleh korban. Hal ini dikarenakan korban kecelakaan atau kejahatan hampir pasti mengalami shock dan ketakutan yang jika dibiarkan akan membuat psikologisnya terganggu.

Sponsors Link

  1. Melihat Tingkat Keakuratan Saksi Mata

Dalam sebuah kasus, biasanya polisi ataupun jaksa akan meminta bantuan saksi mata untuk memberi kesaksian atas kejadian yang dilihatnya. Tidak jarang ingatan dan penjelasan saksi mata tersebut terganggu oleh adanya distorsi ingatan, hingga kepentingan-kepentingan lain yang membuat keterangan yang diberikan tidak lagi akurat. Di sini, psikologi klinis akan membantu untuk melihat lebih jauh apakah ingatan dan keterangan saksi patut dipercaya atau perlu untuk digali lebih jauh.

  1. Layanan di Penjara

Melalui psikologi klinis, pihak yang berwenang juga bisa menilai dampak psikologi yang dialami para pelaku kejahatan. Di sini, psikolog bisa membantu memberi pelayanan untuk memulihkan kesehatan mental para pelaku kejahatan di penjara agar nantinya mereka siap kembali terjun di masyarakat setelah selesai masa tahanan. (Baca juga: Penerapan Psikologi Sosial dalam Hukum)

  1. Memberi Rujukan atau Nasehat Untuk Proses Hukum

Psikolog klinis biasanya akan menilai kondisi individu yang terlibat dalam peradilan apakah mampu mengikuti jalannya persidangan, menjalani hukuman dan lain sebagainya. Maka, dengan psikologi klinis pula, seorang psikolog bisa memberi nasehat atau rujukan untuk proses hukum yang sedang berjalan. (Baca juga: Kegunaan Psikologi dalam Bidang Hukum)

  1. Memprediksi Bahaya

Psikologi klinis juga akan bisa membantu bahaya psikologis yang mungkin terjadi dari kecelakaan atau kejahatan yang terjadi, baik kepada korban maupun kepada pelaku. Dengan prediksi ini, bisa diberikan penanganan-penanganan yang mungkin bisa mencegah atau mengurangi dampak kejahatan atau kecelakaan yang mungkin dialami. (Baca juga: Objek Studi dalam Psikologi Kriminal)

Semoga artikel kali ini bermanfaat, ya!

Sponsors Link
, , ,
Oleh :
Kategori : Psikologi Forensik