Sponsors Link

Psikologi Komparatif – Pengertian dan Penjelasannya

Sponsors Link

Psikologi dibagi menjadi berbagai macam keilmuan psikologi lainnya. Cabang ilmu psikologi mempelajari hal – hal yang sama terkait kejiwaan dan perilaku makhluk hidup namun dalam konteks atau bidang yang berbeda. Pembagian cabang cabang ini ditujukan agar didapatkan pemahaman yang lebih baik ketika psikologi diterapkan pada cabang ilmu lain.

ads

Terdapat berbagai macam cabang ilmu psokologi seperti psikologi klinis, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi keluarga, psikologi komparatif, psikologi konseling, psikologi agama, psikologi kesehatan, psikologi kognitif, psikologi forensik, psikologi organisasi, dan bentuk cabang ilmu lainnya. Cabang ilmu psikologi mempelajari perilaku makhluk hidup baik pada manusia maupun hewan dan hubungan keduanya. Namun studi lebih lanjut tentang kejiwaan dan perilaku pada hewan akan dibahas pada psikologi komparatif.

Pengertian Psikologi Komparatif

Psikologi komparatif merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku dan kejiwaan hewan yang secara khusus berhubungan dengan sejarah keturunan, adaptasi, dan perkembangan tingkah laku. Psikologi komparatif mempelajari tentang hewan yang digunakan untuk mengetahui tentang manusia.

Terdapat asumsi bahwa pada suatu tingkat perilaku merupakan sama pada setiap spesies. Hal tersebut diketahui setelah mempelajari perilaku hewan tikus, anjing, kucing, dan hewan lainnya yang dapat mewakili manusia. (Baca Juga : Kode Etik Psikologi)

Banyak percobaan atau penelitian menggunakan hewan untuk uji coba keefektifan obat- obatan atau kosmetik sebagai subjek tes sebelum dipakai oleh manusia. Hal ini diperuntukkan melihat efek dari bahan yang digunakan tersebut. Jika ada tidak ada efek samping yang buruk maka produk bisa dicobakan ke manusia. Para peneliti menggunakan psikologi komparatif ini dalam penelitian mereka tentang pertumbuhan anak, dan lainnya.

Psikologi komparatif sering digunakan dalam menekankan perbandingan antar spesies, yang bagaimanapun poin dari peneliti yaitu memahami perilaku hewan untuk nasibnya.

  • Harlow, 1958 menemukan bahwa kera yang dipidahkan dari induknya dan dari kera- kera lainnya menjadi menderita dan mengalami gangguan psikologis. Banyak ilmuan psikologi saling berpendapat bahwa bayi manusia juga akan mengalami periode bergantung yang apabila dipisahkan dari figur yang menjadi subjek ketergantungan (misal induk/ ibu) dalam waktu yang lama maka akan terjadi penderitaan dalam jangka panjang. (Baca : Teori Belajar dalam Psikologi)
  • Charles Darwin merupakan pusat dari pengembangan psikologi komparatif. Dia mengemukakan teori dimana faktor yang menentukan bagian manusia seperti pikiran, moral, spiritual dapat menyumbang prinsip evolusi.
  • George John Romanes juga mempengaruhi bidang pengembangan dan dia membuktikan bahwa hewan memiliki pikiran manusia yang belum sempurna (rudimentary human mind). Psikologi komparatif mencari pemahaman terhadap persamaan dan perbedaan antara bagaimana perilaku manusia dan hewan pada lingkungannya sehari hari.

Psikologi komparatif merupakan studi tentang perbedaan atau persamaan perilaku pada hewan dari berbagai spesies. Psikologi komparatif menganalisa aktivitas individu yang mungkin terjadi juga pada spesies lainnya. Contohnya yaitu pola mendidik anak pada harimau, burung, paus, dan lainnya. Studi ini memiliki pola perilaku yang saling berkaitan.

Beberapa prinsip pola perilaku lainnya pada hewan pada psikologi komparatif ini juga termasuk komunikasi, belajar, migrasi, orientasi, perilaku reproduksi, dan perilaku sosial. Komunikasi merupakan berbagi informasi antara hewan. Belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan skill. Migrasi yaitu perjalanan dari grup yang besar dari sekelompok hewan berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara bersama- sama.

Orientasi meliputi cara hewan menempatkan diri mereka dengan cahaya, panas, dan situasi lainnya. Perilaku repproduksi meliputi kebiasaan hewan dan kepedulian hewan untuk menyayangi yang lebih muda. Perilaku sosial termasuk seperti aktivitas grup seperti burung yang terbang dengan berbagai perubahan formasi atau pada sekelompok serigala yang menggunakan strategi untuk memburu mangsanya. (Baca juga: Kepribadian Ganda)

Sponsors Link

Kelebihan dan Kekurangan Psikologi Komparatif

Berikut ini merupakan kelebihan dan kekurangan dari psikologi komparatif :

  • Kelebihan Psikologi Komparatif
  1. Manusia adalah sama dengan spesies lainnya. Contohnya dalam membentuk kawasan teritorial, ritual hubungan. Manusia memperthankan kemudaannya, menjadi agresif apabila terancam, suka bermain dan lainnya. Banyak hubungan paralel yang sama antara manusia dan mamalia lainnya dalam komplek organisasi sosial. (Baca juga: Hakikat Manusia dalam Prespektif Psikologi)
  2. Mempelajari spesies lainnya sering menghindari beberapa masalah etik yang kompleks termasuk mempelajari manusia. Contohnya yaitu efek dari pemisahan bayi dari ibunya atau penelitian isolasi terhadap manusia tidak bisa dilakukan seperti halnya pada spesies lainnya.
  • Kekurangan Psikologi Komparatif

Meskipun dari beberapa aspek manusia disamakan dengan spesies lain, namun manusia sebenarnya berbeda. Manusia memiliki tingkat intelegensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya. Manusia memiliki perilaku yang menghasilkan hasil dari pembuat keputusan atau insting.

Manusia juga berkembang dalam hal bahasa. Selain itu hewan berkomunikasi menggunakan tanda tanda sedangkan manusia menggunakan simbol dan bahasa yang mampu menceritakan masa lalu, masa depan dan ide- ide.

Banyak orang berpendapat bahwa melakukan penelitian menggunakan hewan merupakan tindakan yang keliru secara etik. Apabila dilakukan pada manusia akan bisa memberikan persetujuan. Sedangkan hewan tidak memiliki kebebasan untuk memilih. Banyak kritik muncul tentang hal ini.

Baca juga:

Spesies yang Dipelajari dalam Psikologi Komparatif

Berbagai macam spesies sudah banyak dipelajari oleh psikologi komparatif. Beberapa spesies mendominasi dan paling banyak digunakan dalam penelitian.

  • Ivan Pavlov menggunakan anjing, meskipun pernah digunakan dalam penelitian dan jarang sehingga kurang tampak. Meningkatnya ketertarikan terhadap penelitian perilaku hewan yang abnormal memunculkan penelitian menggunakan hewan domestik yang baik hati.
  • Thrndike menggunakan kucing dalam penelitiannya, namun psikologi komparatif di Amerika menggantikannya dengan cepat pada tikus yang lebih ekonomis. Tikus menjadi hewan yang selalu digunakan sampai saat ini.
  • Skinner mengenalkan penggunaan merpati dan bisa digunakan dalam bidang tertentu.
  • Primata juga menarik perhatian untuk digunakan dalam penelitian, Harry F. Harlow menggunakan rhesus kera dalam penelitiannya tentang maternal deprivation (pemisahan dengan induk). Kellog dan Kellog 1933 melihat efek keturunan dan lingkungan dari primata muda.
  • Cross-fostering mempelajari persamaan antara bayi manusia dan bayi simpanse. Dari kedua penelitian tersebut, Cross-fostered mendapatkan simpansenya lebih baik dalam mengenal bau manusia dan pakaiannya. Sedangkan milik Kellogg lebih baik mengenal manusia dari wajahnya.

Baca juga:

Primata juga pernah dilakukan perbandingan perkembangan primata dan perkembangan manusia. Gardner (1967) sukses mengajarkan 350 kata pada simpanse. Bahasa linguistik yang diajarkan pada simpanse yaitu berfokus pada tanda bahasa dimana simpanse ini dapat memahami apa tanda yang diberikan.

Tanda tanda tersebut dihubungkan dengan reward seperti makanan atau mainan. Penelitian lain menyebutkan bahwa apes tidak memahami bahasa linguistik namun menunjukkan minat untuk memahami apa yang dibicarakan.  Penelitian penelitian lain muncul dengan menggunakan berbagai hewan seperti burung kakak tua, lumba- lumba, dan anjing.

Hewan hewan tersebut sebelum digunakan sebagai subjek penelitian terlebih dahulu dipelajari tingkat kemiripannya dengan manusia dari segi genetik maupun perilaku sehingga bisa mewakili hasil yang relatif sama apabila diterapkan pada manusia. Sehingga bisa diperoleh perbandingan untuk mendukung peningkatan perilaku atau kelimuan pada manusia.

Baca juga:

Cara psikologi komparatif mempelajari perilaku hewan

Psikologi komparatif mengamati hewan hewan di lingkungan alami mereka dan mengontrol kondisi di laboratorium dan kebun binatang. Dengan lingkungan yang dibuat seperti itu, peneliti menggunakan metode yang memudahkan mereka mengobservasi perilaku sambil ikut campur atau memberikan stimulus sesedikit mungkin dengan aktivitas makhluk lain.

Contohnya yaitu psikologis meletakkan alat elektronik pada hewan. Alat ini mengirimkan signal tentang letak lokasi mereka dan memberikan informasi tentang tekanan darah, temperatur, dan fungsi tubuh hewan. Pada laboratorium, peneliti mengobservasi perilaku hewan dari kaca satu arah dimana peneliti bisa melihat ke dalam namun hewan tidak bisa melihat peneliti. Dia alam bebas, peneliti melihat perilaku hewan melalui kamuflase.

Para peneliti psikologi komparatif akan mencatat atau mengukur perilaku hewan yang diamati dan mendokumentasikannya pada kertas menggunakan simbol untuk beberapa tipe perilaku. Mereka juga memfilmkan dan merekam beberapa aktivitas. Beberapa juga merencanakan agar hewan merekam data mereka sendiri. Contohnya pada banyak penelitian menggunakan alat yang disebut skinner box, dimana hewan harus mengoperasikan atau bertukar atau beralih pada mekanisme atau suatu tingkah laku yang lain untuk mendapatkan reward.

Pertukaran ini mengaktifkan alat perekam. Peneliti dalam psikologi komparatif menggunakan banyak macam metode stastitik pada pekerjaan mereka. Mereka juga sering menggunakan komputer untuk menganalisa informasi dalam jumlah yang banyak.

Baca juga:

  • Perilaku Menyimpang Hewan

Seorang dokter bedah menyadari bahwa level psikologis pada hewan harus diperhitungkan apabila ingin memahami dan mengoptimalkan perilaku dan kesehatan hewan tersebut. Penyebab paling sering terjadinya perilaku menyimpang dari hewan yaitu kurangnya rangsangan, mendapatkan rangsangan yang tidak benar, atau rangsangan yang berlebihan.

Kondisi ini akan menyebabkan perillaku yang menyimpang, tidak terprediksi, dan perilaku yang tidak diinginkan sampai bisa juga berdampak pada kesehatan fisiknya dan menyebabkan pennyakit. Misalnya pada tikus yayng diberi rangsangan terhadap musik yang keras selama periode yang lama akan membentuk perilaku yang tidak diinginkan seperti suka menggigit pemiliknya. Sama halnya pada anjing, apabila tidak diperikan perlakuan yang baik maka akan berubah menjadi hewan yang berbahaya.

Baca juga:

  • Hubungan Manusia – Hewan

Hubungan antarahewan dan mausia sudah lama menjadi ketertarikan dari antropologis sebagai salah satu jalan untuk memahami evolusi dari perilaku manusia. Kesamaan antara perilaku manusia dan hewan terkadang digunakan untuk memahami evolusi yang signifikan terhadap perilaku yang tidak biasa.

Perbedaan perlakuan kepada hewan merefkleksikan pemahaman masyarakat tentang tempat antara manusia dan hewan dalam suatu skema. Contohnya adalah manusia memperlakukan hewan sebagai sebuah inferior atau sesuatu yang berbeda dengan manusia.

Ingold menandai bahwa anak anak belajar membedakan dan memisahkan diri mereka dari yang lain. Anak- anak tidak keberatan menerima hewan mendapatkan tingkat yang sama dengannya. Namun secara alami, manusia sulit menerima bahwa diri mereka sendiri adalah hewan.

Sehingga manusia membedakan atau mengkategorikan manusia dipisahkan dengan hewan dan hewan dipisahkan ada hewan buas dan hewan jinak, hewan jinak dibedakan menjadi hewan di alam liar dan hewan peliharaan.

Pembagian divisi divisi seperti itu hampir sama dengan pada manusia yaitu manusia yang berada di komunitas dan yang bukan merupakan bagian dari komunitas.

Artikel di majalah New York Times mengatakan adanya keuntungan psikologis dari hewan secara spesifik pada anak dengan hewan peliharaannya. Hal tersebut disebutkan memiliki efek bahwa memiliki hewan peliharaan dapat meningkatkan skli bersosialisasi pada anak. Dr. Sue mengatakan hal tersebut membuat anak lebih kooperatif dan mau berbagi. Selaiin itu anak juga menjadi lebih percaya diri dan lebih empati terhadap teman- temannya.

Baca:

Sponsors Link

Menjadi Seorang Psikolog Komparatif  (Comparative Psychologist)

Psikologi komparatif memang merupakan cabang ilmu dari psikologi, namun keilmuan ini ternyata sudah berdiri sendiri dan memiliki jurusan sendiri, meskipun di Indonesia masih belum ada. Para comparative psychologist haruslah seseorang yang menyukai binatang. Jenjang karir ini cukup unik dan melibatkan beberapa penelitian.

Menurut American Psychological Association, Psikologi komparatif merupakan cabang ilmu psikologi yang melibatkan studi perilaku dan kognisi pada hewan dalam menentukan hubungan evolusi antara spesies. Kebanyakan dari bidang ini merupakan offshoot seperti yang dikemukakan teoris Charles Darwin dan Ivan Pavlov.

Pembelajaran dalam bidang ini terkait persamaan dan perbedaan antara spesies hewan yang membantu meningkatkan pencerahan dalam psikologi manusia. Konsepnya berupa mengobservasi herediter, adaptasi, evolusi, dan perilaku perilaku lainnya. (Baca juga: Antropologi)

Seorang comparative psychologist mempelajari banyak aspek pada kelompok hewan seperti sensori, sosial, rekognisi, komunikasi, dan sistem kognisi. Para profesional juga mempelajari komponen yang ditemukan dalam perilaku hewan, seperti psikologi, lingkungan, dan lainnya.

Pada posisi ini kontribusi jurnal peneliti dibutuhkan untuk lebih memahami fungsi hewan dan bagaimana mereka berkontribusi dalam pembelajaran tentang perilaku manusia. Tempat pembelajaran studi ini bisa di kebun binatang atau di habitat alami hewan. Tempat kerja yang tersedia pada keilmuan ini bervariasi bisa dimana saja yang melibatkan etimologi, perilaku, dan kognisi hewan.

Baca juga:

Di Amerika untuk menjadi seorang comparative psychologist harus memiliki dasar S1 di bidang psikologi terlebih dahulu. Lulusan S1 akan menjadi asisten lab pada tempat kerja di bidang ini. Rencana studi pada comparative psychologist meliputi topik tentang desain penelitian, psychobiology, etik, perilaku manusia, metode mengajar, dan kognisi hewan. Tempat yang paling cocok untuk bekerja sebagai comparative psychologist di Amerika yaitu American Psychological Association divisi 6 yang fokus tentang perilaku neurosains dan psikologi komparatif.

Meskipun bidang keilmuan ini kurang diketahui oleh masyarakat, namun bidang ilmu ini memberikan masyarakat informasi yang lebih bagus tentang fungsi manusia melalui interaksi hewan, perilaku dan evolusi. Jika Anda merupakan orang yang memiliki pikiran analisis, menikmati penelitian dan menemukan suatu informasi yang baru, pekerjaan sebagai comparative psychologist mungkin sangat cocok.

baca juga :

Psikologi komparatif merupakan salah satu bidang keilmuan psikologi yang mempelajari psikologi pada hewan. Penjelasan tentang psikologi komparatif diatas memberikan banyak pengetahuan dan gambaran tentang ilmu yang mempelajari terkait kejiwaan dan perilaku pada hewan dan dampak psikologi komparatif dengan keilmuan pada psikologi dalam perkembangan manusia.

Ilmu pengetahuan atau teoti psikologi perkembangan manusia pada awalnya diteliti dan diujikan pada hewan. Perilaku pada hewan- hewan tertentu bisa mewakili perilaku dan psoses adaptasi pada manusia.

Berkenaan dengan hal etik atau kemungkinan adanya efek buruk pada suatu percobaan apabila langsung dilakukan pada manusia, kemudian psikologi komparatif ini menjadi dasar digunakannya hewan yang dapat mewakili atau sebagai pengganti manusia untuk penelitian uji coba. Beberapa hewan yang sering digunakan sebagai percontohan atau model uji sebelum pada manusia yaitu anjing, kucing, tikus, kelinci.

Apabila tidak ada efek buruk yang ditunjukkan pada hewan, maka uji coba selanjutnya baru boleh dilakukan pada manusia. Namun hal ini memicu beberapa kontra terhadap hak asasi dari hewan coba yang dianggap tidak memiliki kebebasan menentukan pilihan. Namun studi psikologi komparatif ini berperan penting membawa banyak manfaat dalam peningkatan kemajuan perkembangan manusia.

Baca juga:

Perbedaan Psikologi Komparatif dan Etologi

Terdapat cabang ilmu lain yang juga mempelajari tentang perilaku hewan yaitu cabang ilmu etologi. Etologi dapat dibedakan dari psikologi komparatif yang juga sama mempelajari tentnag perilaku hewan. Namun dilihat dari cabang psikologinya, psikologi komparatif memandang perilaku hewan dalam konteks yang dikenal sebagai psikologi manusia.(Baca juga: Psikologi Warna)

Sedangkan etologi memandang perilaku hewan dari anatomi dan fisiologinya. Psikologi komparatif berfokus pada studi pembelajaran dan cenderung mengamati perubahan perilaku dalam keadaan buatan, sedangkan pada etologi lebih mengamati perilaku hewan dari keadaan alami dan naluriahnya. Kedua bidang keilmuan ini saling melengkapi meskipun perspektifnya berbeda dan kadang bertentangan.

Akar atau dasar dari psikologi komparatif dan etologi, evolusi merupakan hal yang cukup berperan penting dalam menentukan perilaku keduanya dengan cara yang berbeda. Psikologi komparatif mulai mempengaruhi di abad ke- 20. William James dan John Dewey percaya bahwa perilaku makhluk hidup diperbolehkan untuk beradaptasi pada lingkungan mereka.

Evolusi dan perubahan pada makhluk hidup memunculkan perilaku – perilaku baru dan berbeda. Para etologis juga memahami bahwa perilaku merupakan hasil dari proses evolusi. Beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ada satu jalur dari genetik ke perilaku yang dikenal dengan Central Dogma of Molecular Biology. Kemudian psikologi komparatif mulai meneliti dalam laboratorium sedangkan etologi tetap secara signifikan mempelajari perilaku dari luar tanpa berada di lab dan pada lingkungan alami.

Baca juga:

Keduanya memiliki dasar yang berbeda. Sebuah studi menunjukkan perilaku pada pemikiran serius dan perang teori pada tahun 1950an. Etologi memberitahukan posisi perilaku yaitu fenomena biologi, kemantapan, dan tidak dipengaruhi oleh genotip pada makhluk hidup. Sedangkan psikologi komparasi lebih mendekatkan pada epigenetik, pentingnya stres dalam perkembangan, pengalaman, dan proses psikologi lainnya. Kesimpulan dari perbedaan keduanya dituliskan oleh Daniel Lehrman (1953) yang merepresentasikan kritik dari teori insting.

Para peneliti menentukan tujuan dari psikologi komparasi ini adalah untuk menjaga prinsip umum yang mengilustrasikan penyebab pertama (proximate) dan terakhir (ultimate) dari evolusi. Nikolaas Tinbergen mengarahkan perkembangan pada beberapa pertanyaan yang disebut “Tinbergen’s four questions” yang menunjukkan awal dan akhir mekanisme perilaku pada hewan. Keempat pertanyaan tersebut yaitu :

  1. Bagaimana perilaku tertentu meliputi antar spesies? (ultimate)
  2. Apakah hewan menunjukkan perilaku ini memiliki keberhasilan reproduksi lebih daripada hewan yang tidak menunjukkan perilaku tersebut? (ultimate)
  3. Konsisi dan mekanisme seperti apa yang diperlukan untuk membuat perilaku tersebut umum? (proximate)
  4. Apa kedewasaan, pembelajaran, pengalaman sosial harus dimiliki setiap individu untuk memiliki perilaku yang umum? (proximate)

Baca juga:

Pertanyaan yang termasuk dalam proximate memiliki fokus jawaban bagaimana fungsi struktur individu mendemonstrasikan perilaku target, sedangkan pada pertanyaan yang termasuk dalam ultimate memiliki jawaban yang fokus pada kenapa spesies berevolusi terhadap adaptasi yang dilakukan.

Area pembelajaran dari psikologi komparatif ini juga termasuk adaptasi dan belajar, herediter, evolusi, berhitung, perilaku orang tua, primata, dan lain sebagainya. Aplikasi pada manusia dalam teori dikembangkan ketika mempelajari tentang perilaku hewan.

Pavlov mengembangkan teori tentang classical conditioning dengan menggunakan anjing yang terus meneteskan air liur, dan Harry harlow menggunakan rhesus kera untuk mengetahui pentingnya care- giving dan persahabatan dalam sosial dan perkembangan kognitif.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :