Sponsors Link

15 Cara Mendidik Anak Hiperaktif dengan Benar dan Tepat

Sponsors Link

Anak hiperaktif merupakan anak dengan aktivitas tinggi dan tidak mau diam. Anak seperti ini cenderung terus bermain, berlarian, tidak mau diam, susah diatur, dan sulit tidur. Butuh kesabaran dan keuletan dari orang tua untuk melatih anak dengan hiperaktif. Sifat hiperaktif ini bisa dikendalikan dengan pola didik yang benar. Berikut ini penyebab dan cara mendidik anak hiperaktif:

ads

Penyebab Anak Hiperaktif

Masalah pada anak hiperaktif dikenal juga dengan Attention Deficit Disorder (ADD). Anak hiperaktif menunjukkan tenaga untuk melakukan aktivitas sangat besar namun anak hiperaktif mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, sulit tidur. Anak hiperaktif kebanyakan sulit untuk diatur dan bertingkah sesuka hatinya.

Salah satu tanda gejala anak hiperaktif dari bayi yaitu bayi yang terus menerus menangis dan berteriak. Anak akan tampak tidak bisa diam, ceroboh, susah tidur, lebih aktif, tidak bisa diatur.

Anak hiperaktif bisa diakibatkan gangguan pada masa kehamilan akibat ibu stres, alergi, atau akibat komplikasi kehamilan lainnya. Namun anak hiperaktif juga bisa dari keturuna dari keluarga apabila sebelumnya ada anggota keluarga yang juga hiperaktif. (baca juga: Cara Membentuk Karakter Anak Usia Dini)

Anak hiperaktif bukan merupakan hal yang buruk apabila orang tua mampu mendidiknya dengan benar. Anak dengan tipe hiperaktif ini tidak bisa dimarahi atau diberikan hukuman terus menerus, atau anak malah akan brontak dan tidak patuh. Anak hiperaktif membutuhkan perhatian yang lebih dan rasa kasih sayang yang lebih agar dia mau mendengarkan orang tuanya dan menuruti orang tua.

Baca juga:

Berikut ini beberapa cara mendidik anak hiperaktif :

  1. Perhatikan asupan makanan anak

Anak hiperaktif juga tampak pada ank dengan autis. Makanan yang mempunyai dampak buruk pada anak autis yaitu makanan yang mengandung gluten dan kasein seperti tepung terigu atau susu sapi. Jika kelebihan zat ini pada pola makannya, anak akan menjadi sulit dikendalikan, marah, mengamuk. Kelebihan asupan glukosa juga tidak baik untuk anak hiperaktif. (baca juga: Fobia Sosial)

Hindari pemberian makanan ringan, tinggi gula, tinggi garam, makanan instan, junk food. Hindari juga penggunaan penyedap makanan, pemanis buatan, makanan yang berkarbohidrat tinggi. Perbanyak asupan makanan dari buuah dan sayuran.  (baca juga: Psikologi Diagnostik)

  1. Beritahukan kondisi anak pada lingkungan

Sifat anak yang hiperaktif seringkali cukup mengganggu jika berada di tempat umum. Beritahukan pada lingkungan tentang kondisi anak, sehingga lingkungan bisa memahami dan membantu memperikan perlakuan yang baik dan merasa lebih nyaman. (baca juga: Psikologi Keluarga)

  1. Latih anak bersosialisasi

Bawa anak ke dalam lingkungan sosial yang mampu menerimanya. Ajarkan anak untuk berinteraksi dan memperhatikan orang lain, ajarkan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Libatkan anak dalam kelompok bermain untuk menumbuhkan kesadarannya akan orang lain. (Baca juga : Teori Nativisme)

  1. Berikan perhatian dan kasih sayang yang lebih

Kasih sayang dari orang tua sangatlah utama. Anak hiperaktif perlu diberikan kasih sayang yang lebih agar dia percaya, merasa aman dan nyaman dengan orang tuanya dan mau mendengarkan kata kata orang tuanya.

  1. Berikan jadwal yang tepat

Beritahukan jadwal harian anak dan latih untuk melaksanakannya dengan rutin. Jangan lakukan perubahan jadwal kegiatan terlalu sering. Modifikasi pada jadwal harian bisa dilakukan jika dibutuhkan. Dengan pemberian jadwal harian ini anak menjadi lebih teratur untuk menggunakan tenaganya. Rutinitas pada jadwal yang ada juga membatasi anak untuk melakukan hal lain yang mungkin tidak sesuai. (Baca juga: Kecerdasan Interpersonal)

  1. Pilih gaya belajar yang tepat

Pahami kemampuan anak dalam menerima informasi. Apakah anak lebih cepat menerima informasid engan mendengar, membaca, menggambar, atau bermain yang sifatnya motorik. Pahami kemampuan lebih anak dalam hal menerima informasi dan perkuatlah hal tersebut sebagai cara belajar yang efektif. Misalnya jika anak lebih tertarik dengan coretan atau warna, maka gunakan teknik pembelajaran dengan menggambar.

  1. Menggunakan bahasa sederhana

Gunakan kata- kata yang sederhana dan perlahan agar mudah dipahami oleh anak. Anak hiperaktif pada autisme, cenderung sulit menerima informasi melalui bentuk kalimat yang panjang. Anak akan bingung dan frustasi dan justru membahayakkan kondisi anak. (baca juga: Antropologi)

  1. Mengenali bakat anak

Anak dengan hiraktif atau autisme memiliki kecenderungan pertumbuhan kognitif yan glambat dari pada anak normal. Kemampuan berkomunikasi dan proses menerima informasi juga lambat. Namun bukan berarti anak bodoh dan tidak mampu melakukan apapun. Anak autis juga memiliki kelebihan tertentu yang jika dikembangkan akan menjadi kemampuan yang luar biasa. (Baca juga: Konsep Diri Dalam Psikologi)

Penting bagi orang tua untuk mencari tahu bakat dan kemampuan anak misalnya dalam bidang musik, teknologi, seni atau lainnya. Pikiran anak autis sangat kreatif dan energi mereka terus mengalir tanpa lelah. Apabila bakan anak sudah ditemukan, pastikan anak menekuni hal tersebut sehingga bakatnya akan menjadi luar biasa. Banyak orang orang luar biasa yang juga ternyata seorang autis, mereka bisa menjadi pelukis hebat, pianis terkenal, dan lain sebagainya.

  1. Perhatikan kesehatan anak

Anak hiperaktif memungkinkan untuk bermain di tempat tempat kotor yang bisa membuat mereka sakit. Perhatikan kesehatan anak agar hal ini tidak terjadi. Pada saat anak jatuh sakit, dan dengan pikirannya yang sangat aktif hal ini bisa mengakibatkan stres pada anak dan hal tersebut tidak baik. Daripada harus mengadapi situasi demikian, alangkah bagusnya jika orang tuan bisa mencegah anak sakit dengan memperhatikan lingkungan dan menjaga kesehatannya. (Baca juga: Kecerdasan Emosional dalam Psikologi)

  1. Jangan marahi anak atau menghukumnya

Nada tinggi atau hukuman untuk anak autisme atau hiperaktif akan mematikan kemampuan mereka untuk berkembang. Hati mereka juga akan tersakiti. Pada anak normal, hal semacam ini mungkin hanya sebuah pelajaran yang nantinya tidak terlalu dipikirkan, karena komunikasi antara anak dengan orang tua tidak ada kendala.

Namun pada anak autis, ketika hati mereka sudah tersakiti atau muncul rasa ketakutan hal ini akan sulit untuk diperbaiki dan akan mengganggu tumbuh kembang mereka. (Baca juga: Psikologi Faal)

  1. Perhatikan lingkungan anak dari hal yang membahayakan

Anak dengan autis mungkin kurang memiliki kesadaran akan hal yang berbahaya atau tidak berbahaya sehingga membutuhkan perhatian dari orang lain akan hal ini. Orang tua harus menghindarkan barang- barang berbahaya dalam rumah dari jangkauan anak. Perhatikan hal hal kecil yang bereriko berbahaya di lingkungan anak.

  1. Perbanyak komunikasi dengan anak

Anak hiperaktif memiliki kemampuan untuk beraktivitas dan komunikasi yang aktif maupun tumbuh kembang bahasa mereka lambat pada autis. Orang tua harus terus aktif mengajak anak beekomunkasi dan tidak tampak membedakannya dengan orang lain. Hal ini juga akan menstimulus kemampuan berbicara pada anak dan kemampuan merespon lawan bicara. (baca juga: Fobia Sosial)

  1. Lakukan aktivitas belajar bersama

Anak hiperaktif suka melakukan banyak hal. Adakalanya orang tua juga perlu membuat aktivitas bermain dengan tujuan menstimulus kemampuan anak. Lakukan aktivitas bermain bersama yang menyenangkan. Aktivitas bermain yang dilakukan tidak boleh terlalu banyak, pilihlah permainan yang sederhana dan lakukan secara rutin sehingga anak bisa menghafalnya. Misalnya bermain mengkap bola. Hal ini melatih kognitif sekligus motorik anak. Anak bisa belajar lebih fokus dan belajar mengendalikan motoriknya.

  1. Ajarkan anak bagaimana menenangkan diri

Adakalanya anak menjadi lebih hiperaktif karena suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Ajarkan anak untuk duduk diam tarik nafas dalam berulang kali sampai anak tenang kembali. Ajarkan hal ini sejak awal dalam bentuk interaksi yang menyenangkan sehingga ketika anak berada dalam kondisi tertentu yang tidak menyenangkan , anak bisa mempraktekkannya sesuai yang biasa dia lakukan.


(baca juga: Psikologi Cinta)

  1. Latih anak tabel manner

Melatih anak untuk duduk dimeja makan dan menikmati makanannya adalah hal yang sangat sulit. Disini dibutuhkan kesabaran dari orang tua yang lebih besar lagi. Anak akan cenderung berlarian, memainkan alat makannya, dan mengacak acak makanan. (Baca juga: Psikologi Eksperimen)

Perlu adanya komitmen dari orang tua dalam mengajarkan hal ini. Jangan gunakan nada keras atau memarahinya. Jika anak berlarian, gendong dan tempatkan kembali pada kursi makan, lakukan hal ini terus menerus jika anak tetap tidak mau duduk. Berikan makanan yang sederhana dia tas meja.

Berikan contoh penggunaan sendok. Hindari menggunaan alat bantu makan yang tajam dan bisa menciderai anak. Lakukan hal ini terus menerus sampai anak mengeti bahwa apabila dia makan, dia harus duduk di kursi tersebut.

baca juga :

Beberapa cara diatas bisa Anda gunakan untuk mendidik anak dengan hiperaktif atau anak autis. Dari semua cara tersebut dibutuhkan pengertian dan kesabaran dari orang tua. Orang tua harus memahami bahwa anak berbeda dengan anak normal pada umumnya, sehingga harapan orang tua tidak boleh terlalu tinggi namun bertahap.

Orang tua juga harus tetap bersemangat dalam mendidik anak agar anak mampu melakukan kehidupan sehari- harinya secara mandiri. Mengenali bakat anak juga merupakan hal penting untuk masa depan anak. Dukungan dari orang tua dan orang lain di sekitar sangat diperlukan.

Sponsors Link
, , , ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Anak