Home » Ilmu Psikologi » Psikologi Pendidikan » 12 Penerapan Psikologi dalam Manajemen Kurikulum

12 Penerapan Psikologi dalam Manajemen Kurikulum

by Hana Masita

Kurikulum adalah sebuah rencana dan rancangan pendidikan yang sangat penting keberadaannya dalam kegiatan belajar dan mengajar. Kurikulum akan bertindak sebagai panduan untuk melangsungkan pengajaran. Oleh karena itu, penyusunan kurikulum ini membutuhkan dasar atau pondasi yang kuat karena akan menentukan bagaimana proses belajar dan mengajar akan berjalan.

Melihat pentingnya kedudukan kurikulum dalam dunia pendidikan ini, maka dibutuhkan banyak metode dalam penyusunannya. Salah satu cara untuk menyusun dan mengatur kurikulum pendidikan adalah dengan memanfaatkan ilmu psikologi. Bagaimanapun subjek dan obejk pendidikan nantinya adalah manusia.

Maka, dengan memahami psikis dan kejiwaan manusia tenaga pendidik akan lebih bisa menyusun kurikulum yang sesuai dengan keadaan serta hasil yang diharapkan. Berikut ini akan dibahas 12 fungsi psikologi dalam manajemen kurikulum:

  1. Menyusun tujuan pembelajaran

Fungsi yang pertama adalah untuk menyusun dan menentukan tujuan pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dibutuhkan untuk mewujudkan perubahan perilaku pada siswa atau peserta didik.

Untuk melakukannya, maka dibutuhkan psikologi yang akan membantu memahami dan membandingkan kondisi ideal peserta didik dan kondisi peserta didik saat ini yang nantinya akan membantu menemukan ‘gap’ antara keduanya. Hal ini nantinya akan menjadi dasar penyusunan kurikulum pendidikan.

  1. Membuat konsep pembelajaran

Dengan ilmu psikologi, tenaga pendidik akan lebih bisa memahami karakteristik dan tahapan perkembangan para peserta didiknya. Dengan memahami hal ini, tenaga pendidik akan bisa menyesuaikan konsep pembelajaran yang tepat sesuai dengan peserta didiknya. Dengan begitu, kurikulum yang dibuat pun akan lebih sesuai dan lebih mudah diterapkan dalam pembelajaran.

  1. Memberi dukungan untuk siswa

Keberadaan psikologi dalam manajemen kurikulum akan membuat tenaga pendidik bisa memberi dukungan dan dorongan yang tepat untuk peserta didiknya. Tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, guru juga akan membimbing siswa dalam bidang pelajaran juga dalam kegiatan lain di sekolah.

Misalnya, dengan memberi kesempatan siswa mengembangkan minat dan bakatnya melalui penyediaan kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan selain pembelajaran utama.

Baca juga:

Dengan mendukung minat dan bakat siswa, para siswa tidak hanya akan belajar tentang ilmu-ilmu wjib di sekolah saja, melainkan juga bisa mengembangkan bakat mereka. Selain itu, pendampingan guru yang cukup intensif ini juga akan menjalin hubungan emosi yang baik antara guru dan siswa yang nantinya juga akan mempermudah jalannya proses belajar dan mengajar.

  1. Menciptakan suasana belajar yang cocok

Suasana belajar sangat penting untuk bisa membantu berjalannya proses pembelajaran yang efektif. Menerapkan psikologi dalam manajemen kurikulum akan membantu menciptakan suasana belajar yang sesuai, misalnya dengan memastikan adanya interaksi yang langsung antara guru dan siswa melalui sesi tanya jawab, diskusi, presentasi, dan lain-lain.

Baca juga:

Tidak hanya itu, dengan psikologi kita memahami bahwa pembelajaran tidak hanya terbatas pada kegiatan yang terjadi di dalam kelas saja. Lingkungan siswa lainnya, seperti keluarga, pertemanan hingga masyarakat juga sangat mempengaruhi proses belajar seorang anak. Maka, dengan memahami hal ini kurikulum tidak hanya dibuat sebatas pelajaran di kelas, namun juga mencakup interaksi anak dengan lingkungan lainnya.

  1. Membuat interaksi yang tepat antara guru dan siswa

Selain suasana dalam kelas, kurikulum juga perlu menyusun interaksi yang tepat antara guru dan siswa. Dalam hal ini, fungsi psikologi adalah untuk mengetahui interaksi seperti apa yang penuh kehangatan, bijak dan memberi empati kepada siswa di kelas. Semua ini tidak lain untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan dan tetap efektif untuk para siswa.

  1. Sebagai fasilitator dan motivator untuk siswa

Selanjutnya, psikologi dalam manajemen kurikulum juga berfungsi sebagai fasilitator dan motivator untuk para siswa. Artinya, melalui penerapan psikologi, kurikulum bisa memfasilitasi potensi bakat dan minat siswa, serta mendorong siswa untuk meningkatkan kemauan mereka untuk belajar.

Guru diharapkan berperan sebagai pembimbing, bukan sekedar pemberi informasi. Dengan hal ini, siswa dapat berkembang secara maksimal, tidak hanya di bidang pelajaran saja melainkan juga dalam hal kepribadian dan bakat mereka. (Baca juga: Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran)

  1. Menyatukan para peserta didik

Ketika penyusunan kurikulum dilakukan dengan menerapkan ilmu psikolgi, maka akan terbentuk kurikulum yang bisa menyatukan para peserta didik.

Tenaga pendidik memahami para siswa sebagai individu-individu yang unik dan berbeda-beda. Jika tenaga pendidik memahami hal ini dan bisa mengatasi perbedaan di antara para siswa, suasana pengajaran pun akan menjadi lebih menyenangkan bagi mereka. (Baca juga: Peran Lingkungan Dalam Pendidikan Karakter Anak)

  1. Menyusun jadwal pelajaran

Penyusunan jadwal pelajaran juga penting untuk memanfaatnya fungsi psikologi. Misalnya, dengan memahami pola emosi dan mood para siswa, maka pelajaran yang terbilang sulit dijadwalkan di jam-jam saat otak masih fresh, sementara di jam lainnnya dijadwalkan pelajaran lain yang lebih ringan.

  1. Menentukan media pembelajaran yang sesuai

Untuk bisa mendapatkan hasil pembelajaran yang memuaskan, dibutuhkan juga media pembelajaran yang sesuai. Agar bisa menentukan media tersebut, psikologi berperan untuk menilai pola berpikir para siswa dan mencari solusi untuk memudahkan siswa memahami materi pelajaran yang diberikan.

Misalnya, dengan pemberian media pembelajaran berupa alat-alat praktek, alat pengajar, hingga perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk memudahkan penyampaian materi. (Baca juga: Jenis-Jenis Metode Pembelajaran)

  1. Melakukan pengukuran pembelajaran

Dalam pembelajaran terdapat sebuah tujuan yaitu untuk melihat perubahan sikap, perilaku, hingga pola piker pada siswa. Untuk mengetahui hal ini, dibutuhkan pengukuran hasil belajar para siswa. Maka, fungsi lain psikologi dalam manajemen kurikulum adalh untuk mengukuran hasil pembelajaran ini untuk selanjutnya dapat memberikan feedback untuk para siswa tentang pencapaiannya.

Seperti yang diketahui dalam psikologi pengembangan, bahwa sistem evaluasi atau pengukuran hasil belajar harus berkesinambungan dan dilakukan terus menerus. Hal ini nantinya juga akan berguna untuk mendampingi siswa terkait kesulitan-kesulitannya dalam belajar. (Baca juga: Aplikasi Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran)

  1. Adil memberi penilaian

Tugas guru selanjutnya adalah untuk bisa menilai siswa secara objektif dan adil. Guru harus mampu memberi nilai kepada siswa sesuai dengan teknis penilaian dengan mempertimbangkan juga bagaimana proses yang dilalui oleh siswa tersebut selama pembelajaran.

  1. Mendidik mental anak

Pendidikan tidak hanya berbicara tentang pemberian materi pelajaran semata. Mental siswa pun perlu dididik untuk membentuknya menjadi manusia yang kuat dan tangguh di masa depan. Menurut teori disiplin mental, setiap anak lahir dengan potensi tertentu, seperti daya pengamatan, daya ingat, kemampuan berpendapat dan lain-lain.

Maka, fungsi manajemen dalam manajemen kurikulum dapat membuat pembelajaran yang diberikan juga memuat pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan siswa. (Baca juga: Cara Memelihara Kesehatan Mental Anak)

Demikian pembahasan mengenai 12 penerapan psikologi dalam manajemen kurikulum. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

You may also like