Sponsors Link

10 Hubungan Psikolinguistik dengan Fonologi

Sponsors Link

Psikolinguistik memiliki definisi sebagai ilmu yang mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang membuat manusia bisa mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa.

ads

Hal yang dikaji di dalam psikolinguistik sebagian besar bersifat filosofis karena masih sedikit pemahaman mengenai cara kerja otak manusia. Oleh karena itu, psikolinguistik memiliki kaitan yang sangat erat dengan psikologi kognitif.

Dalam hal ini, psikolinguistik lebih fokus membahas proses kognitif yang bisa menghasilkan kalimat yang memiliki arti sesuai tata bahasa yang berlaku, dimana di dalam kalimat terdapat ilmu lain yang mempelajari lebih khusus, yaitu fonologi. Maka, di pembahasan kali ini kita akan mempelajari hubungan psikolinguistik dengan fonologi.

Baca juga:

Seperti yang disebutkan sekilas sebelumnya, psikolinguistik mencakup proses kognitif dalam menghasilkan kalimat yang memiliki arti sesuai tata bahasa dari perbendaharaan kata yang digunakan, struktur, hingga proses yang membuatnya mudah dipahami dengan menggunakan ungkapan, kata, tulisan, dan lain sebagainya.

Psikolinguistik ini bersifat interdisipliner karena melibatkan banyak bidang untuk mempelajarinya. Lalu, apa saja sih hubungan psikolinguistik dengan fonologi? Berikut pembahasannya:

  1. Sebagai subdivisi dalam psikolinguistik

Fonetik atau fonologi adalah salah satu subdivisi dalam psikolinguistik yang mendasarkan komponennya ke dalam hal-hal yang membentuk bahasa pada manusia. Fonologi memfokuskan pembahasannya pada bunyi ucapan. Maka, dalam psikolinguistik dipelajari tentang bagaimana otak memproses dan memahami bahasa atau kata dari pengucapan atau bunyi yang dihasilkan.

  1. Memahami tahapan perkembangan bahasa

Dengan psikolinguistik yang mempelajari mengenai proses kognisi pembentukan bahasa, kita lebih memahami tahapan perkembangan bahasa seseorang. Misalnya, ketika anak bayi yang mengeluarkan bunyi atau suara-suara, dia masih tidak menunjukkan arti komunikasi tertentu melainkan hanya untuk melatih vokalnya saja. Seiring perkembangan usianya, bayi akan mengikuti suatu pemerolehan bunyi yang relatif universal namun memiliki tujuan, yaitu untuk berkomunikasi.


  1. Mempelajari bagaimana otak memproses bunyi

Setiap ucapan atau kata yang kita keluarkan saat berkomunikasi memiliki arti dan makna tertentu. Bunyi ucapan inilah yang menjadi fokus dalam fonologi.

Jika dalam fonologi kita berfokus mempelajari bunyi pengucapan suatu perkataan atau ucapan, dalam psikolinguistik kita mengkaji lebih jauh tentang bagaimana otak memproses dan memahami bunyi-bunyi saat mendengarnya. (Baca juga: Teori Mediasi Dalam Psikolinguistik)

  1. Memahami konteks penggunaan bunyi

Fonologi dengan psikolinguistik adalah tentang proses pemerolehan bahasa, dimana pada dasarnya bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia tersebut kemudian akan diproses oleh otak sehingga orang lain yang mendengarnya dapat memahami arti dari bunyi ucapan tersebut.

Tidak berhenti di situ, otak juga mengartikan apakah bunyi yang dihasilkan sesuai dengan konteks penggunaan dalam tata bahasa yang berlaku. Misalnya, ketika seseorang mengucapkan ‘pajar’, otak bisa memproses bahwa bunyi tersebut tidak tepat dan mengartikannya sebagai ‘fajar’. (Baca juga: Peran Kognisi Dalam Perkembangan Bahasa)

  1. Menguraikan proses perolehan bahasa

Ketika seorang anak manusia masih dalam tahap belajar berbicara, psikolinguistik akan mempelajari bagaimana anak tersebut mempelajari bahasa. Psikolinguistik menganalisis penguasaan bunyi-bunyi pada seorang anak yang sedang belajar bahasa dan hal ini pun memanfaatkan hasil kajian fonologi.

  1. Melihat proses psikologi dari bunyi

Mungkin telah kita pahami bahwa pada dasarnya psikolinguistik mencoba menjelaskan bagaimana otak mengolah dan memproses kalimat atau bahasa yang didengarnya.

Dalam hal ini psikolinguistik juga mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang mungkin terjadi ketika seseorang mengucapkan kalimat atau mendengarkan kalimat pada saat dia berkomunikasi dengan orang lain.

Dalam interaksi percakapan dengan orang lain tersebut juga terlibat bunyi-bunyi tertentu yang mungkin akan mempengaruhi proses psikologis yang terjadi. (Baca juga: Macam Gangguan Perkembangan dalam Psikologi Abnormal)

  1. Mengenali penguasaan bahasa

Keberhasilan seseorang dalam menguasai bahasa dan fasih berbicara dengan bahasa tersebut dipengaruhi oleh banyak hal. Dalam psikolingual dipelajari faktor-faktor yang bisa mempengaruhi otak memproses bahasa yang didengar dan dipelajari, salah satunya adalah dari faktor lingkungan.

Ketika lingkungan di sekita subjek, misalnya anak yang sedang beajar berbicara, berinteraksi dengan orang tua, anak akan mengamati bagaimana lawan bicaranya tersebut menghasilkan bunyi-bunyian.

Oleh karena itu, usahakan agar lawan bicara anak bisa menguasai kondisi dan lingkungan ketika berbicara dengan anak yang sedang belajar bahasa agar lebih mudah memahami dan menyampaikan maksud dari komunikasi yang terjadi. (Baca juga: Proses Perkembangan Kognitif Remaja)

  1. Menyusun cara mengajarkan bahasa

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan pemerolehan fonologi bahasa bagi anak. Secara umum, diketahu bahwa terdapat proses yang terjadi pada anak untuk mengenali bunyi hingga akhirnya dia bisa memproduksi bunyi sendiri untuk berkomunikasi.

Dengan memahami bagaimana proses ini terjadi dengan fonologi, maka akan lebih mudah untuk kita menyusun cara untuk mengajarkan bahasa pada anak.

Hal ini karena kita membantu menyesuaikan otak anak yang memproses bunyi yang didengarnya dengan tahapan perkembangan proses pengenalan bahasa pada anak tersebut. (Baca juga: Pendekatan Psikologi Dalam Belajar Bahasa)

  1. Mengartikan perbedaan bunyi dalam berbahasa

Seringkali satu kalimat yang diucapkan sama dengan bunyi atau nada yang berbeda dapat menghasilkan arti yang berbeda pula ketika diterjemahkan oleh otak. Hal inilah yang menjadi hubungan psikolinguistik dengan fonologi berikutnya.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengucapkan kalimat ‘kamu sedang di sini’, akan berbeda bunyinya ketika orang tersebut mengucapkannya sebagai kalimat berita dan kalimat tanya.

Bunyi yang berbeda ini akan diproses dan dikenali oleh otak, hingga pada akhirnya pun otak akan bisa ‘menginstruksikan’ reaksi atau respon yang berbeda pula.

  1. Mempelajari gangguan berbahasa

Gangguan berbahasa, atau dikenal juga dengan istilah language disorder atau language disabilities, merupakan sebuah gangguan yang membuat penderitanya akan mempunyai masalah dalam hal berbicara. Masalah bisa berupa kesulitan berbicara, lambat merespon, atau kesulitan memberi respon yang tepat atas ucapan yang didengarnya. (Baca juga: Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini)

Beberapa gangguan bahasa yang bisa terjadi adalah sebagai berikut:

  • Gagap – adalah masalah gangguan bahasa yang berhubungan dengan kesulitan saat berbicara. Umumnya, orang yang mengalami gangguan ini akan memiliki masalah dalam mengartikulasikan kalimat. Selain itu, masalah pada gangguan ini juga bisa berupa sulitnya orang tersebut mengatur pernapasan atau gangguan saluran udara atau paru-paru orang tersebut.
  • Kelumpuhan saraf – gangguan ini berhubungan dengan gangguan atau adanya cedera pada sistem saraf di otak manusia. Gangguan ini bisa menyebabkan otak kesulitan dalam memproses ucapan, hingga mengendalikan alat ucap saat berbicara. Ketidaklancaran dalam berbicara bisa juga berkaitan dengan pernapasan yang juga menjadi terganggu berkaitan dengan saraf di otak yang terganggu, juga gangguan bunyi dan suara serta kesulitan mengendalikan artikulasi saat berbicara.
  • Belahan langit-langit mulut – Hal ini berkaitan dengan terbelahnya atau ada rekahan di langit-langit mulut pembicara. Hal ini bisa merupakan bawaan sejak lahir yang biasanya membuat penderitanya mengalami gangguan dalam artikulasi kata dan menghasilkan bunyi.

Demikian pembahasan mengenai hubungan psikolinguistik yang bisa disampaikan di artikel kali ini. Semoga bermanfaat!

Sponsors Link
, , , ,




Oleh :