Sponsors Link

10 Aspek Psikologi Dalam Proses Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)

Sponsors Link

Pendidikan Agama Islam atau PAI adalah salah satu mata pelajaran yang penting dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan negara yang paling banyak beragama islam dan sudah menjadi faktor penting di kehidupan yang diharapkan dapat membangun kepribadian yang baik yang sesuai dengan norma agama islam.

ads

1. Aspek Psikologi

Dalam setiap kegiatan pembelajaran banyak terdapat aspek psikologi yang harus dipahami oleh seorang pengajar agar tercapai tujuan pendidikan. Yang biasa disebut psikologi pembelajaran pendidikan agama islam agar seorang guru khususnya dapat mengembangkan aspek aspek yang ada pada peserta didik baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

2. Perilaku Mengajar

Dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa. Di samping itu, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi belajar-mengajar yang sedemikian rupa, sehingga siswa mewujudkan kualitas perilaku belajarnya secara efektif. (Baca juga mengenai manfaat psikologi pendidikan bagi anak usia dini).

3. Tugas Guru

Tugas guru dalam mengajar, tidak hanya sebagai pengajar dalam arti penyampaian pengetahuan, tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran, manajer pengajaran, pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai direktur belajar. (Baca juga mengenai jenis jenis kematangan dalam psikologi pendidikan).

4. Perancang Pengajaran (manager of intruction), seorang guru akan berperan mengelola seluruh proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. (Baca juga mengenai teori psikologi pendidikan).

5. Penilai Hasil Belajar Siswa (evaluator of student learning), guru dituntut untuk berperan secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang di capai oleh siswa dari waktu ke waktu dan Sebagai pengarah belajar guru berperan untuk senantiasa menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. (Baca juga mengenai metode dalam pendidikan karakter sejak dini).

6. Karakteristik Pengajar PAI

Untuk mewujudkan perilaku mengajar secara tepat, karakteristik pengajar yang diharapkan antara lain memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkan, memiliki kecakapan untuk memperhatikan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat pula, memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar, (Baca juga mengenai aspek aspek kecemasan dalam psikologi).

memiliki pemikiran yang imajinatif dan praktis dalam usaha  memberikan penjelasan kepada peserta didik, memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya baik ini maupun metode, memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan tehnik (Surya, 1997: 68).

Pengajar (guru) akan mampu mengajar secara baik apabila memiliki sikap dasar yang benar, memiliki sasaran yang benar, memiliki informasi faktual yang diperlukan, memahami berbagai  macam metode dan tehnik, dan mengetahui bagaimana memilihnya, membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut (Surya, 1997: 68-69).

7. Perilaku Belajar

Perilaku belajar yang terjadi pada para peserta didik dapat dikenal baik dalam proses maupun hasilnya. Proses belajar dapat terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan dalam dirinya yang tidak dapat dipenuhi dengan cara-cara yang refleks atau kebiasaan.


Hasil perilaku belajar ditunjukan dengan adanya perubahan perilaku dalam keseluruhan pribadi pelajar. Perilaku hasil belajar mencakup  aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Perlu di ingat bahwa perilaku belajar bisa bersumber dari berbagai aspek perilaku lain baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Para pelajar harus memahami aspek-aspek internal dan eksternal yang bisa mempengaruhi perilaku siswa. Di antara aspek internal yang mesti dipahami oleh pengajar adalah: (1) potensi, (2) prestasi, (3) kebutuhan, (4) sikap, (5) pengalaman, (6) pengalaman, (7) kebiasaan, (8) emosi, (9) motivasi, (10) kepribadian, (11) perkembangan, (12) keadaan fisik, (13) cita-cita, dan lain-lain.

8. Aspek Psikologi dalam Pembelajaran PAI

Belajar untuk menjadi adalah kegiatan belajar yang dilakukan siswa sehingga pada giliranya akan menghasilkan  pribadi-pribadi yang mandiri, yaitu pribadi yang mengenal dirinya, mengarahkan dirinya, merencanakan dan membuat keputusan bagi masa depannya untuk kemudian mewujudkan dirinya secara optimal.

Belajar berlangsung sepanjang hayat. Islam mengenal prinsip  ini melalui  berbagai hadits Rasulullah. Seperti hadits yang menyatakan “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Islam mengajarkan agar umatnya terus belajar selagi masih ada kesempatan dan sebelum jasad bersatu dengan tanah.

Belajar untuk belajar, maknanya adalah apa yang dicapai dari suatu peristiwa belajar hendaknya mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut baik secara horisontal maupun vertikal. Secara horisontal artinya upaya perluasan kegiatan belajar kearah yang lebih luas terutama dalam kaitanya dengan bidang lain atau berbagai aspek kehidupan. Secara vertikal artinya upaya kegiatan belajar untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Siswa hendaknya mampu belajar untuk mendapatkan hasil yang akan dijadikan sebagai titik tolak bagi kegiatan belajar selanjutnya.

9. Belajar untuk Bekerja (Learning to Work)

Bekerja pada prinsipnya merupakan tugas setiap orang dalam memperoleh kelangsungan dan kebahagiaan hidupnya. Kegiatan belajar pada dasarnya merupakan proses memperoleh bekal untuk dapat melakukan pekerjaan secara produktif dan efektif. Oleh karena itu, seyogyanya apa yang dipelajari hendaknya menjadi modal keefektifan dan produktivitas bekerja. Hasil belajar tidak hanya  berupa tambahan ilmu pengetahuan saja, tetapi menghasilkan penguasaan ketrampilan untuk siap memasuki lapangan kerja.

10. Interaksi Pengajar-Pelajar

Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan tampak dalam interaksi antara keduanya. Dalam interaksi ini, terjadi proses saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil belajar. Sekurang-kurangnya ada tiga hal dalam interaksi pelajaran-pelajaran ini, yaitu proses belajar. metode mengajar, dan pola-pola interaksi.

Dalam proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara pengajar dengan pelajar. Pola-pola interaksi yang terjadi dalam proses mengajar-belajar, akan bervariasi tergantung pada situasi belajar mengajar. Sekurang-kurangnya ada empat pola interaksi yang terjadi yaitu:(1) interaksi individual, (2) interaksi individual kelompok, (3) interaksi kelompok- individu, (4) interaksi kelompok-kelompok.

Interaksi dalam proses pembelajaran bermakna interaksi edukatif. Interaksi edukatif  adalah yang secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah “kedewasaan”. Dengan demikian, dalam hal ini yang  penting bukan bentukinteraksinya, tetapi yang pokok adalah maksud atau tujuan berlangsungnya interaksi itu sendiri. (Sardiman, 1990: 8)

Dengan pendidikan agama islam yang diberikan dan juga dipadukan dengan berbagai pembelajaran yang lain, maka akan menghasilkan kehidupan yang utuh sebagaiaman yang dicitakan oleh bangasa Indonesia.  Maka dari itu, untuk menyempurnakan dalam pengajaran dan pembelajaran penting juga harus dipadukan dengan ilmu psikologi .

 

 

Sponsors Link
, , , , ,