Sponsors Link

Teori Reward dan Punishment Dalam Psikologi Pendidikan

Sponsors Link

Ngalim Purwanto berpendapat jika hadiah atau reward merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan dan bisa diberikan pada anak yang mempunyai prestasi tertentu dalam psikologi pendidikan, menunjukkan kemajuan dan juga tingkah laku yang baik sehingga bisa dijadikan contoh oleh teman temannya. Hadiah atau reward merupakan alat untuk mendidik anak anak supaya mereka bisa merasa senang karena perbuatan atau pekerjaan yang sudah dilakukan tersebut mendapatkan penghargaan. Maksud pendidik memberikan hadiah tersebut adalah supaya anak bisa semakin giat dalam usaha yang dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang sudah didapatkan. Untuk itu maksud hadiah yang terpenting bukanlah hasil yang diperoleh anak, namun hasil yang sudah didapatkan anak tersebut dimana pendidik ingin membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan juga lebih keras pada anak tersebut. Sedangkan hukuman merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar dan disengaja menjatuhkan hukuman pada orang lain baik dari segi jasmani atau rohani. Elizabeth N. Hurlock mengatakan jika hukuman adalah menjatuhkan suatu siksa pada seseorang karena sudah melakukan pelanggaran atau kesalahan sebagai balasan atau ganjaran dari perbuatan tersebut. Dari beberapa pendapat ini bisa didefinisikan jika reward and punishment bisa terjadi karena usaha pendidik dengan tujuan untuk memperbaiki perbuatan serta budi pekerti anak didik mereka. Berikut akan kami jelaskan teori reward dan punishment dalam psikologi selengkapnya.

ads

Pengertian Reward Dalam Pendidikan

Istilah reward diambil dari bahasa Inggris yang mengartikan ganjaran, upah, hadiah, pahala dan hukuman. Dengan ini, reward dalam bahasa Inggris bisa digunakan untuk balasan yang memiliki sifat positif atau negatif. Reward adalah memberikan sesuatu pada orang lain sebagai bentuk penghargaan untuk cenderamata atau kenang kenangan yang menjadi salah satu metode psikologi pendidikan. Reward yang diberikan pada orang lain bisa memiliki banyak bentuk tergantung dari pemberi reward atau juga bisa disesuaikan dengan prestasi yang sudah didapatkan seseorang.

Guru bisa memberikan reward dengan tujuan mendorong kegiatan belajar siswa sebelum ujian sekolah dimulai sebagai konsep belajar dalam psikologi pendidikan. Reward ini bisa berbentuk barang seperti alat pendukung belajar baik itu ras sekolah, pensil buku dan sebagainya. Sedangkan berlawanan dengan reward adalah punishment, hukuman atau sanksi. Dalam pengenaan punishment atau hukuman, maka sebaiknya pendidik berhati hati agar tidak menyebabkan dendam dan meresahkan peserta didik. Hukuman diberikan pada peserta didik dalam batas kewajaran dan masih dalam bentuk pembelajaran.

Ada beberapa pandangan filsafat atau pandangan hidup serta kepercayaan yang menganggap jika hidup sebenarnya sudah menjadi bentuk hukuman dan beranggapan jika kelepasan dari hidup di dunia sebagai bentuk hadiah tertinggi pada konsep dasar belajar dalam psikologi pendidikan. Untuk itu reward dan punishment adalah bentuk yang dilakukan pendidik atas perbuatan yang sudah dilakukan oleh anak didik. Hukuman dijatuhkan atas perbuatan yang buruk atau jahat. Sedangkan reward diberikan atas perbuatan yang baik sehingga keduanya tetap merupakan alat untuk mendidik.

Macam Macam Reward

Ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar reward bisa dijadikan alat pendidikan yang efektif. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pendidik harus mengenal dengan baik karakteristik peserta didik dan juga mengerti cara menghargai dengan baik agar cara belajar efektif menurut psikologi bisa berjalan dengan baik.
  • Reward yang diberikan pada seseorang jangan sampai menimbulkan iri hati siswa lain yang merasa jika pekerjaan yang sudah mereka lakukan sama baiknya atau bahkan lebih baik namun tidak mendapatkan reward.
  • Dalam memberikan reward sebaiknya hemat dan jangan terlalu sering sebab terlalu sering memberikan reward tidak akan membuat reward tersebut sebagai alat pendidikan.
  • Jangan memberikan reward terlebih dulu atau menjanjikan sebelum siswa menyelesaikan tugasnya sebab ini bisa membuat siswa terburu buru ketika mengerjakan tugas dan akan memberi kesulitan bagi anak yang tidak terlalu pintar.
  • Pendidik harus memperhatikan ketika memberikan reward sebab jangan sampai reward dijadikan persepsi yang salah bagi para siswa.

Bentuk Bentuk Reward

Reward bisa diberikan dalam bentuk benda atau barang yang disenangi untuk macam macam metode pembelajaran sekaligus memberikan manfaat bagi siswa untuk belajar atau bisa diberikan dalam bentuk sikap atau perbuatan guru yang bisa dijadikan reward bagi siswa, seperti:

  • Guru menganggukkan kepala sebagai tanda senang dan membenarkan sebuah jawaban dari seorang siswa.
  • Guru memberikan kata kata yang menyenangkan atau pujian.
  • Reward yang ditujukan pada seluruh kelas terkadang diperlukan.
  • Reward bisa juga diberikan dengan manfaat dan juga menyenangkan. 

Pengertian Punishment Dalam Pendidikan

Seperti reward, punishment juga menjadi salah satu alat pendidikan dan termasuk salah satu dari jenis jenis metode pembelajaran. Punishment merupakan penderitaan yang diberikan atau disebabkan secara sengaja oleh pendidik sesudah siswa melakukan kesalahan atau pelanggaran. Dengan ini, maka punishment juga bisa digunakan sebagai usaha preventif atau represif. Punisment juga sering diistilahkan stimulus aversif. Skinner pada awalnya sepakat dengan Throndike jika efek punishment sama dengan reward. Namun paada percobaan yang ia lakukan selanjutnya yang dilakukan Estes salah seorang mahasiswa, maka membuat pandangannya menjadi berubah.

Argumen mengenai punishment adalah tidak efektif dalam mengarayhkan pembentukan perilaku yang dikehendaki karena beberapa sebab, yakni:

  • Punishment memiliki efek emosional yang tidak menguntungkan sebab kekuatan anak tergeralisir pada perilaku lainnya.
  • Hukuman memang bisa memberitahu perilaku yang tidak diinginkan, namun juga tidak menjelaskan periaku mana yang dikehendaki atau yang harus dilakukan. Seperti contohnya ketika seseorang sedang mengerjakan multiple choice dengan alternatif A, B, C dan D, maka anak bisa saja menjawab D ternyata disalahkan atau disilangkan. Anak tersebut mengetahui jika jawaban D adalah salah, namun tidak mengetahui mana yang benar antara A, B dan juga C.
  • Punishment membiasakan anak untuk melakukan tindakan yang bisa menyakiti orang lain seperti pada saat ia menerima hukuman yang menyakit diri anak.
  • Dalam kondisi yang dipastikan tidak ada agen yang menghukum, maka anak tetap melakukan perbuatan tersebut.
  • Punishmet bisa menyebabkan agresi pada agen yang menghukum dan juga pihak lainnya.
  • Hukuman akan menggantikan satu perilaku yang tidak diinginkan dengan perilaku lain yang juga tidak diinginkan. 

Sebagai contoh untuk menghilangkan gambaran negatif dari ujian, selama ujian atau tes dirasakan siswa sebagai sebuah hal yang menakutkan, menegangkan bahkan bisa membuat siswa cemas ketika harus menghadapi kegiatan tersebut. Fenomena ini bisa diubah dengan cara memberikan pengukuhan pada sebuah situasi sebagai bentuk metode pembelajaran kooperatif. Sekolah bisa mengubah suasana yang menyenangkan. Ujian bisa diubah menjadi permainan atau dimodifikasi menjadi ajang perlombaan dengan cara menghadirkan suasana kompetitif penuh kegembiraan seperti mencari harta karun. Ini nantinya bisa menghilangkan kesan mengerikan ketika menemani siswa dalam mengerjakan tugas, ujian atau tes tersebut.

Ada beberapa pendapat mengenai punishment atau hukuman yang dibagi menjadi dua yakni punishment preventif dan juga punishment represif.

  • Punishment preventif: Hukuman yang diberikan dengan tujuan agar tidak atau jangan sampai terjadi pelanggaran.
  • Punishment represif: Hukuman yang diberikan karena adanya pelanggaran atau dosa yang sudah diperbuat. Untuk itu punishment dilakukan sesudah pelanggaran atau kesalahan terjadi.

Macam Macam Punishment

William Sterm membedakan tiga macam punishment yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak anak yang mendapatkan hukuman tersebut yakni punishment asosiatif, punishment logis dan juga punishment normatif.

  1. Punishment Asosiatif

Seorang anak biasanya mengasosiasikan antara punishment dan kejahatan atau pelanggaran antara penderitaan yang disebabkan dari punishment dengan perbuatan pelanggaran yang sudah dilakukan. Untuk menghilangkan perasaan tidak enak atau hukum tersebut, maka umumnya seorang anak akan menjauh dari perbuatan yang tidak baik atau yang sudah dilarang, Punishment jenis ini bisa diterapkan untuk anak usia dini yang hanya bisa merasakan dan juga mengasosiasikan sesuatu sebagai macam macam gaya belajar.

  1. Punishment Logis

Punishment ini dipakai untuk anak yang sudah lebih besar. Dengan punishment ini, maka seorang anak bisa mengerti tentang hukuman adalah akibat yang logis dari perbuatan yang tidak baik. Seorang anak akan mengerti jika ia mendapatkan punishment tersebut karena kesalahan yang sudah dilakukan. Sebagai contoh, seorang anak diperintahkan untuk menghapus papan tulis sampai bersih karena sudah mengotori atau mencoret coret papan tulis tersebut.

  1. Punishment Normatif

Punishment normatif merupakan hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki moral seorang anak dan juga perkembangan memori pada anak. Punishment ini dilakukan pada pelanggaran mengenai norma etika seperti berbohong, menipu atau mencuri dan juga kedisiplinan. Untuk itu punishment normatif sangat berkaitan dengan pembentukan watak dan kepribadian anak anak. Dengan punishment ini, pendidik akan berusaha untuk mempengaruhi kata hati anak, menginsafkan anak terhadap perbuatan salah yang sudah dilakukan sekaligus memperkuat keinginan untuk selalu bisa berbuat baik dan menghindari kejahatan.

Akibat dari reward bisa dijadikan penguat atau reinforcement untuk siswa agar selalu bisa melakukan kegiatan yang positif dalam pembelajaran. Sedangkan punishment bisa membiasakan seorang anak agar melakukan tindakan menyakiti orang lain seperti ketika ia sedang mengerikan hukuman yang menyakiti anak tersebut.

Sponsors Link
, , ,