Sponsors Link

Perbedaan Perasaan dan Emosi dalam Psikologi

Sponsors Link

Kali ini kita akan membahas mengenai perasaan dan emosi dalam psikologi. Kita sering melihat bahwa dua hal ini merupakan hal yang sering dibilang mirip dan mungkin dianggap sama. Perasaan dan emosi keduanya merupakan hal yang memang sering dianggap sama. Seseorang yang dianggap tidak berperasaan, mungkin akan dianggap tidak memiliki emosi juga. Padahal di dalam psikologi, perasaan dan emosi merupakan dua hal yang berbeda. Banyak tokoh teorist yang mengungkapkan pendapatnya akan hal ini.

ads

Berikut ini adalah beberapa macam perbedaan perasaan dan emosi dilihat dari kacamata psikologi. Kita bisa menelaahnya lebih lanjut sehingga dua hal ini tidak menjadi bias. Pengungkapan perasaan dan pengungkapan emosi bisa menjadi dua hal yang berbeda. Kira-kira apa sajakah perbedaannya? Simak penjelasannya berikut ini.

Berikut ini adalah perbedaan dari perasaan dan emosi, antara lain:

1. Respon Penginderaan

  • Perasaan Lebih Menunjukkan Respon Penginderaan

Banyak yang menyebutkan bahwa perasaan biasanya lebih cenderung menunjukkan pada respon penginderaan. Ini artinya, perasaan akan lebih terkait dengan hubungan fisik di lingkungan sekitarnya. Seperti contohnya, seseorang mungkin akan “merasa” kegerahan saat situasi di sekitarnya panas.

  • Emosi Mengungkapkan Respon Perasaan

Berbeda dengan perasaan, emosi justru mengungkapkan perasaan. Sebagai contoh, bila seseorang yang merasa kegerahan tadi tidak nyaman, ia mungkin akan menunjukkan emosi marah yang ditunjukkan dalam ekspresi tidak senang.

2. Keterkaitan dengan Jiwa

  • Perasaan Terkait dengan Gejala Kejiwaan Lainnya

Perasaan biasanya memiliki keterkaitan dengan gejala kejiwaan lain seperti misalnya persepsi. Seseorang yang sudah memiliki persepsi tertentu, biasanya akan lebih cenderung menanggapi masalah sesuai dengan apa yang ia “rasakan”. Ada beragam pengertian sikap menurut para ahli yang juga memiliki kaitan dengan perasaan.

  • Emosi Sifatnya Lebih Independen

Emosi sifatnya lebih independen dan tidak terkait dengan persepsi. Ia bisa muncul tiba-tiba tanpa harus dipengaruhi persepsi tertentu. Ini artinya, seorang individu saat merasakan jenis emosi tertentu bisa langsung dengan spontan memunculkan emosinya tanpa harus dipengaruhi suatu persepsi tertentu.

3. Sifat

  • Perasaan Sifatnya Lebih Subjektif

Karena perasaan memiliki keterkaitan dengan persepsi dan gejala kejiwaan lainnya, maka perasaan bisa menjadi lebih subjektif dibandingkan dengan emosi. Ini bisa dilihat, manakala dua orang yang berada dalam lingkungan dingin, bisa saja salah satunya merasa tidak dingin tetapi yang lain sudah sangat kedinginan. (Baca juga: Cara menghilangkan kecemasan)

  • Emosi Sifatnya Lebih Objektif

Emosi biasanya memiliki sifat yang lebih objektif. Ini adalah bentuk ungkapan seseorang tentang apa yang dia rasakan saat ini. Walaupun mungkin perasaan yang dialaminya memang subjektif, namun emosi akan menghasilkan sesuatu yang lebih objektif terkait dengan apa yang seorang individu alami saat itu.


  • Perasaan Sifatnya Lebih Personal

Kembali lagi ke poin sebelumnya, perasaan akan memiliki sifat yang lebih personal karena sifatnya yang subjektif. Individu satu dengan yang lain akan memiliki perasaan yang berbeda-beda pada saat dihadapkan pada suatu situasi atau lingkungan tertentu. Psikologi konseling umumnya bisa membahas hal ini.

  • Emosi Sifatnya Lebih Umum

Berbeda dengan perasaan, emosi biasanya bisa bersifat lebih umum. Kita bisa memperhatikan bagaimana sekelompok orang bisa saling mengekspresikan perasaan haru hanya dengan melihat tayangan drama tertentu. Ini yang kemudian menunjukkan sifat emosi lebih cenderung umum.

  • Perasaan Lebih Luas

Ruang lingkup dari perasaan sangatlah luas. Kita bahkan bisa mengidentifikasinya berdasarkan macam-macam perasaan menurut psikologi. Yang jelas, perasaan ini akan sangat tergantung dengan seberapa banyak paparan terhadap lingkungan fisik atau pun sosial seseorang.

  • Emosi Merupakan Bagian dari Perasaan

Hal yang menarik lagi, emosi justru menjadi bagian dari perasaan itu sendiri. Kita bisa memperhatikan dari penjelasan yang ada, bahwa emosi biasanya muncul setelah seseorang “merasa” sesuatu. Ini adalah perbedaan perasaan dan emosi dalam psikologi yang cukup unik. Bila digambarkan dalam diagram lingkaran, maka emosi akan menjadi lingkaran kecil di dalam lingkaran besar perasaan. (Baca juga: Cinta menurut psikologi)


4. Pengamatan

  • Perasaan Bisa Diamati dengan Konkret

Perasaan umumnya bisa diamati secara lebih konkret dari orang lain. Ungkapan seseorang terhadap perasaannya juga akan lebih mudah diujarkan dibandingkan dengan emosi. Seseorang yang merasa kedinginan akan terlihat menggigil, seseorang yang merasa kepanasan akan terlihat mengipas-ngipas tubuhnya.

  • Emosi Diamati dengan Menggunakan Perasaan

Berbeda dengan perasaan, kadang emosi dalam psikologi justru tidak bisa diamati hanya dengan sekedar melihat ekspresi dari luar seseorang. Seseorang dengan emosi yang sedih, kadang justru terlihat senang. Seseorang yang sedang marah, justru kadang terlihat sedih. Kita hanya bisa menggunakan perasaan untuk mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.

Beragam perbedaan tersebut merupakan gambaran umum dari perasaan dan emosi. Kita bisa mencari tahu lebih banyak dengan membaca teori-teori psikologi tentang perasaan dan emosi. Pada dasarnya, emosi dan perasaan kadang juga dianggap sebagai sesuatu hal yang sama karena keduanya memang saling terkait erat. Perbedaan perasaan dan emosi dalam psikologi bisa dilihat dari bagaimana tingkah laku seseorang dalam menghadapi sesuatu.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :