Sponsors Link

Sejarah Psikologi Transpersonal Paling Lengkap

Sponsors Link

Kali ini kita akan mengulas sekilas mengenai sejarah psikologi transpersonal. Pada dasarnya, psikologi transpersonal merupakan bagian dari ilmu psikologi yang titik beratnya ada pada potensial tertinggi dari manusia, melalui pengakuan, pemahaman dan realisasi keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan, spiritual dan transenden. Tokoh pionir yang ada dalam psikologi transpersonal ini yaitu Lajoie dan Saphiro (1992) yang telah merumuskan definisi utama tersebut. Kemunculan psikologi transpersonal sendiri ada pada tahun 1960 hingga 1970-an di Amerika di tengah-tengah perubahan politik, agama dan budaya.

ads

Pengamatan Terhadap Penggunaan Zat Psikedelik

Awal mulanya ada protes mahasiswa terhadap perang Vietnam. Gerakan-gerakan lain juga muncul seperti gerakan ekologi, hak-hak kaum homoseksual hingga pembebasan perempuan. Selama masa itu, gerakan-gerakan protes menimbulkan arus spiritual yang cukup kuat. Bahkan, gereja-gereja dari kelompok minoritas kulit hitam sampai memberikan inspirasi kepada gerakan persamaan hak. Gereja-gereja dengan kelompok mayoritas kulit putih turut bergabung untuk demonstrasi anti perang Vietnam. Di sini kemudian muncul banyak tokoh-tokoh radikal seperti Renpio Davis, Lou Krupnik, Jerry Rubin dan Michael Rossman. Mereka membuat gambaran perjuangan dengan tema spiritual, hingga akhirnya ditujukan untuk sebuah pencapaian spiritual.

Baca juga:

Pada masa itu, anak-anak muda mencoba zat-zat psikedelik seperti mescalin dan LSD. Banyak pula dari mereka yang kemudian mencoba marijuana. Ini kemudian menimbulkan sebuah pengamatan tersendiri yang kemudian dikenal sebagai altered states of consciousness, yakni saat mereka menyaksikan kenyataan yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, mereka justru menggunakannya sebagai hiburan. Pengamatan ini kemudian dikembangkan oleh Timothy Leary, seorang psikolog klinis dari Harvard mencoba menggunakannya untuk memperoleh pengalaman keagamaan. Ia bersama dengan temannya Richard Alpert (yang kemudian mengganti nama menjadi Ram Dass) mencoba efek psilochybin pada pengalaman rohaniah.

Anak-anak muda yang menjadi subjek penelitian ini kemudian mengatakan bahwa mereka bisa melihat bagaimana warna berubah menjadi nyala apai. Serpihan cahaya bermunculan dari gerakan-gerakan tertentu. Mereka juga mendengar suara-suara dari alam gaib. Dari sinilah kemudian dikembangkan psikologi transpersonal yang mengacu pada hubungan spiritualitas dalam diri seseorang. Mereka mampu mengalami suatu pengalaman rohaniah yang tidak bisa diamati secara langsung, tetapi bisa mereka rasakan di sana. (Baca juga: Penerapan psikologi Transpersonal dalam tingkah laku)

Versi Lain Tentang Kaitannya dengan Gerakan New Age

Sementara itu, ada sumber lain yang menceritakan mengenai sejarah psikologi transpersonal ini. Disadur dari buku psikologi transpersonal Ujam Jaenudin, permulaannya sama, yaitu pada tahun 1960-an hingga 1970-an dimana pada waktu itu pintu gerbang antara Barat dan Timur terbuka. Tradisi dan budaya dari Timur yang eksotis kemudian dikenali oleh orang-orang Barat. Mereka menjadikannya sebagai pusat perhatian akibat kejenuhan dan rasa frustasi yang sedang melanda di dunia Barat. Krisis-krisis kemanusiaan yang ada di dunia Barat ini kemudian semacam dicari penyebabnya. Bukannya mencari akar tradisi spiritualnya sendiri (tradisi Judeo Kristiani), mereka justru kemudian ramai-ramai melihat ke belahan Timur terutama di India demi mendapatkan pencerahan spiritual.

India saat itu memang dikenal dengan kekayaan terutama dalam hal agama dan filsafat. Ada banyak sekali pendekatan yang canggih terhada struktur kepribadian manusia, walaupun kadang-kadang sepertinya bertentangan antara satu dengan lainnya. Hal ini karena adanya penekanan yang kental terhadap pengaturan aspek-aspek baik itu secara jasmani (fisik) dan rohani (psikis) dari tradisi Timur dalam transformasi kesadaran manusia. Hakikat manusia dalam perspektif psikologi juga digali sedemikian rupa melalui pengalaman spiritual.

Lahirnya Transpersonal

Dari permulaan tersebut, kemudian munculah gebrakan New Age di Barat (spiritualisme baru). Mereka kemudian banyak yang hidup dan berperilaku seperti suku primitif. Terkadang dengan sengaja berkelompok untuk pergi ke daerah yang ada di pinggiran atau hutan menggunakan baju seadanya—bahkan hampir telanjang. Dengan adanya gerakan ini, generasi muda yang ada di sana banyak yang kemudian mendapat pengalaman trance melalui nyanyian, tarian bahkan obat-obatan psikedelik seperti morfin, LSD, ganja dan marijuana.

Sponsors Link

Pelopor dari gerakan New Age ini kemudian juga mengamati cabang keilmuan psikologi yang ada pada saat itu. Mereka menganggap bahwa adanya sebuah pengalaman spiritual dalam psikoanalisa sebagai pengalaman masa kecil yang traumatis bukanlah sesuatu yang tepat. Mereka para pelopor gerakan New Age menolak dengan kuat pandangan dari psikoanalisa ataupun pendekatan lain yang memandang terlalu rendah dan negatif terhadap pengalaman-pengalaman spiritual. Altered states of consciousness sebagai perubahan kondisi kesadaran sering mengesampingkan mengenai pengalaman spiritual ini. Hingga pada akhirnya didesaklah supaya adanya angkatan keempat di dalam bidang psikologi yakni transpersonal. (Baca juga: Manfaat psikologi transpersonal dalam pengembangan diri)

Sejarah ringkas mengenai psikologi transpersonal ini memang menarik. Kita juga bisa mencari tahu lebih banyak lagi mengenai siapa saja tokoh yang cukup berpengaruh dalam bidang psikologi transpersonal. Namun setidaknya kini kita jadi tahu bahwa ada hubungan yang jelas antara spiritualitas dan psikologi. Semoga ulasan mengenai sejarah psikologi transpersonal ini bermanfaat dan jangan segan untuk membaca posting menarik lainnya.

Sponsors Link
, , ,
Oleh :
Kategori : Ilmu Psikologi