Sponsors Link

14 Perubahan Psikologi Pada Masa Perkawinan yang Positif dan Negatif

Sponsors Link

 

ads

Sering dikatakan bahwa pasangan yang menikah akan menjadi semakin mirip seiring tahun – tahun yang berlalu. Akan tetapi, benarkah perkawinan dapat merubah kepribadian seseorang? Baru – baru ini beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kepribadian orang memang mengalami perubahan dalam cara yang bisa diprediksi dalam waktu setahun setengah pertama setelah menikah. Para psikolog terbagi antara pertanyaan mengenai apakah kepribadian benar – benar ditentukan oleh genetik atau justru terbentuk dari pengalaman di masa awal kanak – kanak.

Kebanyakan ahli meyakini bahwa kombinasi keduanya adalah yang paling mungkin dan paling alami. Ketika mencapai kedewasaan, kepribadian biasanya telah menetap dan tidak berubah banyak setelahnya. Namun penelitian menunjukkan bahwa keinginan untuk menetap dan berkomitmen kepada seseorang memang dapat mengubah kepribadian kita ke arah yang baik ataupun buruk. Sebab, mengikat diri kepada orang lain memerlukan loyalitas dan pikiran yang maju, belum lagi kesiapan untuk menjalani perubahan radikal gaya hidup untuk sebagian orang, juga membutuhkan kesabaran dan diplomasi dalam tahap tertentu.

Perubahan Psikologis Yang Positif Pada Pasangan Menikah

Beberapa perubahan psikologi pada masa perkawinan ini adalah perubahan yang bagus, namun ada pula perubahan yang tidak berjalan dengan baik. Adapun perubahan psikologi pada masa perkawinan yang biasanya terjadi apabila tujuan pernikahan menurut psikologi terpenuhi yaitu:

1.Suami menjadi tidak sering bergaul lagi

Perubahan psikologis ini masuk akal karena setengah alasan mengapa pria meninggalkan rumah adalah untuk bertemu dengan para wanita. Bagian terbaik dari pernikahan adalah bahwa para pria pada akhirnya dapat bersantai di rumah dengan nyaman dan tidak perlu sering keluar rumah untuk mencari jodoh. Penelitian lain menunjukkan bahwa suami istri cenderung untuk membatasi pergaulan sosial mereka dibandingkan dengan ketika mereka masih single.

2.Para istri berkurang kecemasannya

Logika disini adalah bahwa wanita yang sedang mengalami peran barunya sebagai seorang istri, sehingga merasa nyaman dan stabil di dalam sebuah perkawinan. Anda juga tidak lagi perlu khawatir bahwa pasangan tidak akan pernah melamar atau membatalkan kencan pada saat  terakhir.

3.Istri menjadi kurang terbuka

Perubahan psikologi pada masa perkawinan ini masih sedikit menjadi misteri khususnya sejak semua orang mengetahui bahwa komunikasi adalah salah satu kunci dari hubungan yang hebat. Mengapa perubahan ini mengarah kepada suatu hal yang negatif juga masih belum dapat diketahui, namun ada kemungkinan bahwa istri tidak ingin terlalu menyusahkan suaminya sehingga ia menyimpan beberapa masalah sendiri dan tidak menceritakan kepada suami.

4.Suami menjadi lebih teliti

Perubahan ke arah yang lebh baik ini berasal ketika para pria mulai mengambil peran baru dalam rumah tangga, mereka cenderung untuk bekerja lebih keras dan merasa lebh bertanggung jawab. Perubahan ini tentunya merupakan suatu hal yang luar biasa dan bagus bagi keluarganya, yaitu istri dan anak – anak terutama.

5.Mengurangi stress

Salah satu aspek positif dari perubahan psikologi pada masa perkawinan adalah bahwa menikah bisa mengurangi tingkat stress seseorang. Dalam perkawinan yang sehat, pasangan menemukan bahwa rasa cinta berubah dari intensitas tinggi dan bergairah menjadi bentuk cinta yang lebih mendalam dan berbelas kasih seiring dengan tahun yang berlalu. Cinta yang terlalu intens bisa membawa stres pada pikiran dan tubuh, namun seiring waktu bentuk cinta yang mendalam bisa menjadi pelindung dari stress. Hormon cinta seperti oksitosin dan vasopressin juga dilepaskan oleh otak untuk membantu mengikat dengan pasangan seiring waktu.

6.Mengurangi resiko kecemasan mengenai hubungan

Sementara perkawinan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dengan banyak masa – masa naik dan turun khususnya pada beberapa tahun pertama, ikatan dengan pasangan pada akhirnya akan membuat seseorang merasa lebih nyaman secara mental dan fisik. Perubahan psikologi pada masa perkawinan bisa menjadi jalan untuk transisi pola pikir seseorang menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan karena perubahan pola pikir dari ‘Aku’ menjadi ‘Kita’ sehingga pasangan menjadi lebih nyaman dengan diri mereka secara fisik dan mengalami pengurangan kecemasan mengenai hubungan.

7.Mengurangi perilaku beresiko

Orang – orang yang menikah cenderung berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko. Karena sekarang mereka memiliki pasangan dan kemungkinan anak – anak untuk dirawat dan dipedulikan, maka mereka perlu lebih berhati – hati dan bertanggung jawab. Kebiasaan buruk yang membahayakan terkadang akan diabaikan untuk kebaikan pasangan tercinta yang mendorong mereka untuk menjadi kualitas terbaik dari dirinya. Salah satu faktor psikologis dalam perkawinan yang bahagia adalah kesadaran akan adanya tanggung jawab terhadap orang lain yang terhubung dengan dirinya sehingga dapat mencegah perilaku ceroboh dan sembrono.

8.Menua dengan lebih bahagia

Pasangan yang menikah dengan bahagia pada umumnya tidak memiliki rasa tidak aman mengenai proses penuaan seperti orang yang tidak menikah. Orang – orang yang mengalami hubungan yang bahagia mengetahui bahwa partner mereka mencintai dan peduli kepada mereka, bahkan jika mereka tidak lagi menarik seperti dulu. Ikatan hubungan mereka kuat dan penampilan fisik hanya membuat sedikit perbedaan. Karena itulah penuaan adalah sesuatu yang tidak ditakutkan oleh pasangan menikah.

9.Lebih cepat pulih dari penyakit

Salah satu efek perubahan psikologi pada masa perkawinan yang positif adalah bahwa seseorang selalu memiliki pihak yang merawat ketika sedang sakit. Pasangan yang hubungannya bahagia pulih lebih cepat dari penyakit karena memiliki orang yang berada di sisinya untuk merawat, membuat nyaman, memberi obat, menemani ke dokter dan melakukan apapun yang diperlukan. Dukungan emosional yang diberikan para pasangan ke satu sama lain juga merupakan faktor yang membantu mereka untuk lebih cepat pulih. Tips bahagia dalam rumah tangga adalah dengan adanya dukungan emosional dari pasangan kepada yang lainnya.


10.Meningkatkan kualitas kebahagiaan

Berada dalam hubungan yang baik dan penuh cinta akan melepaskan dopamin yaitu zat neurotransmitter yang mengontrol pusat penghargaan dan kesenangan di otak yang membuat pasangan merasa bahagia di sekitar satu sama lain. Dengan produksi dopamin yang memadai, tentunya seseorang yang menikah dengan bahagia tidak akan kesulitan untuk meningkatkan kualitas kebahagiaannya. Peningkatan kebahagiaan bisa menjadi dampak positif pernikahan dini dan perlu selalu dilakukan cara memupuk cinta dalam rumah tangga.

11.Merasa lebih aman dan terhubung

Salah satu alasan mengapa seseorang merasa tidak mudah stres mungkin saja karena berada dalam cinta membuat kita merasa aman dan juga mengembangkan rasa percaya pada orang yang dicintai. Oksitosin, yaitu hormon yang dilepaskan melalui kontak fisik seperti memeluk, cium dan hubungan seksual memperdalam perasaan akan keterikatan pada pasangan dan memproduksi perasaan tenang,aman serta kepuasan. Oksitosin juga memegang peranan dalam ikatan sosial, insting keibuan an reproduksi, juga kesenangan seksual sehingga meningkatkan ikatan sosial dan kepercayaan antara pasangan.

Perubahan Psikologis Yang Negatif Pada Pasangan Menikah

Perubahan psikologi pada masa perkawinan yang positif bisa terjadi pada pasangan yang pernikahannya bahagia. Pada perkawinan yang tidak sehat atau tidak bahagia, pasangan pun bisa mengalami perubahan psikologi namun akan cenderung berubah ke arah yang negatif. Usia tidak turut mempengaruhi perubahan psikologi pada masa perkawinan. Mereka yang menikah lebih lambat menunjukkan perubahan yang mirip dengan mereka yang menikah pada usia lebih muda sehingga kematangan usia bukanlah satu – satunya penjelasan untuk perubahan psikologis.   

1.Kedua pihak menjadi kurang sejalan

Tahap pertama perkawinan masih berada pada hubungan romantis sehingga kedua pihak masih menoleransi kekurangan masing – masing. Dampak pernikahan dini bisa membawa pengaruh ini. Ketika tahap ini memudar, mereka akan mulai melihat beberapa kekurangan kecil yang tadinya tidak mengganggu. Suami dan istri mungkin akan mulai bertengkar mengenai hal – hal kecil seperti handuk basah atau bagaimana menyisir rambut, karena ingin menemukan sosok orang yang begitu dipuja di awal perkawinan. Jika hal ini dibiarkan, kedua pihak segera akan menjadi pasangan yang terus menerus cekcok karena masing – masing mencoba mengubah yang lainnya.  

2.Berkembangnya kebiasaan buruk

Pada seseorang yang berada pada perkawinan yang tidak bahagia, godaan untuk terjun ke dalam perilaku yang lebih merugikan dapat lebih besar dan membuat kewalahan. Dorongan tersebut bisa terwujud dalam penggunaan obat – obatan, merokok atau minum alkohol yang berbahaya bagi kesehatan dan pada akhirnya menambahkan stress pada situasi. Dalam kasus yang ekstrim, bunuh diri bahkan dapat terlihat sebagai pilihan yang tercepat sebagai pelarian dari pernikahan yang tidak bahagia.


3.Berkurangnya perasaan  aman

Berada dalam pernikahan yang tidak bahagia akan turut membawa perubahan psikologi pada masa perkawinan yang mengarah kepada perubahan yang kurang baik. Pernikahan yang kurang bahagia berarti kurangnya ikatan dengan pasangan sehingga tidak menimbulkan perasaan mengenai adanya rasa aman yang berasal dari dukungan dan keberadaan pasangannya. Kurangnya perasaan aman itu dirasakan untuk diri sendiri karena tidak memiliki hubungan emosional yang baik dengan pasangan sehingga membuat perasaan selalu tidak tenang dan merasa ada yang kurang dalam hidupnya, yang dapat mengarah kepada masalah – masalah dan perilaku yang negatif lainnya.

Perubahan psikologi pada masa perkawinan bisa berupa perubahan dalam hal positif maupun negatif tergantung pada kondisi perkawinan itu sendiri. Memiliki kesiapan mental untuk menyambut perkawinan yang akan dijalani adalah suatu hal yang perlu dilakukan sebelum mantap melangkah ke jenjang perkawinan. Anda bisa mengharapkan pasangan untuk berubah, namun kemungkinan besar perubahan itu tidak akan berjalan dalam cara yang diinginkan. Pasangan yang bahagia dan stabil secara emosional akan membangun perkawinan yang bahagia dan memuaskan secara amosional. Akan tetapi ketika pasangan membawa masalah emosional ke dalam hubungan, perjalanan pernikahan biasanya akan menemui berbagai ganjalan, apalagi ketika pernikahan gagal jika tidak dilakukan cara mengatasi trauma menikah.

Sponsors Link
, ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Keluarga