Sponsors Link

15 Makanan Yang Memicu Demensia Ketika Usia Lanjut

Sponsors Link

Banyak orang yang percaya bahwa demensia adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan datang seiring usia, tetapi hal ini tidak benar. Demensia bukan penyakit yang spesifik namun memang akan mempengaruhi banyak aspek dari otak manusia dan merupakan gangguan mental organik. Demensia adalah serangkaian kondisi progresif yang mempengaruhi otak dan gejala termasuk kehilangan memori dan kesulitan berpikir. Demensia merupakan sindrom yang dihubungkan dengan penurunan fungsi otak secara terus menerus.

ads

Masalahnya bisa berupa kehilangan memori, kecepatan berpikir, ketajaman mental dan kecepatan, bahasa, pengertian, penilaian, gerakan dan kesulitan secara umum untuk melakukan aktivitas keseharian. Pada saat ini tidak ada penyembuhan untuk demensia, tetapi beberapa ahli berpendapat bahwa untuk menghindari makanan tertentu bisa membantu memperbaiki fungsi otak. Hal itu akan bisa dilakukan jika demensia didiagnosa pada tahap awal yang bisa membantu memperlambatnya dan mempertahankan fungsi mental penderita.

Menghindari Makanan Pemicu Demensia

Tidak ada sanggahan bahwa makanan akan mempengaruhi tubuh dan pikiran kita. Pada menu makanan di masa sekarang ini, beberapa menu terkadang kita pikir sudah baik namun ternyata mengandung banyak bahan yang berhubungan dengan  banyak masalah kognitif seperti demensia dan alzheimer. Makanan sudah pasti akan mempengaruhi otak kita juga, sehingga apa yang kita makan bisa bergizi untuk otak atau justru merusaknya. Makanan yang memicu demensia adalah:

1. Margarin

Walaupun produk ini sebenarnya diproses bahan kimia, iming – iming rendah lemak telah meningkatkan penjualannya selama ini. Margarin telah dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan berdasarkan lemak trans dan tambahan zat kimianya, para peneliti telah menunjukkan hubungan antara bahan diacetyl dan penyakit demensia. Diacetyl menyebabkan penggumpalan beta amyloid, protein yang memicu demensia khususnya alzheimer. Bahan ini juga akan meningkatkan efek racun yang terjadi pada otak. Membatasi margarin dan mentega hingga kurang dari satu sendok makan per hari bisa Anda lakukan untuk mengurangi resiko demensia.

2. Makanan yang digoreng

Makanan yang memicu demensia ini tidak saja berasal dari minyak yang berbahaya pada kesehatan namun memanaskan makanan hingga suhu ekstrim bisa meningkatkan peradangan syaraf. Proses penggorengan akan menimbulkan AGE (Advanced Glycation End) yaitu semacam protein atau lipid. Makanan ini akan membuat sel menua lebih cepat dan menjadi lebih kaku. AGE berlimpah di makanan seperti daging dan produk susu, dan akan meningkat apabila digoreng. Batasi kegemaran Anda akan gorengan paling tidak sekali saja dalam satu minggu.

3. Gula

Konsumsi gula akan menghasilkan kekebalan insulin, dan konsumsi makanan yang meningkatkan insulin dalam waktu yang reguler pada akhirnya bisa menyebabkan penurunan fungsi otak dan demensia. Penelitian menyatakan bahwa kelebihan gula akan merusak enzim vital yang terlibat dalam respons peradangan tubuh. Ketahui cara mengatasi demensia pada lansia, prinsip komunikasi dengan penderita demensia dan terapi aktivitas kelompok pada lansia.

4. Keju Olahan

Produk susu yang diproses apapun termasuk berbagai jenis keju yang ada di pasaran mengandung protein yang terbentuk perlahan di tubuh, dan ditengarai memiliki hubungan dengan alzheimer. Apabila Anda ingin mengurangi resiko demensia, konsumsi keju cukup dilakukan sekali dalam seminggu, bahkan kurang dari itu. Contoh terapi kognitif pada lansia, gangguan jiwa pada lansia dan psikologi lansia perlu diketahui oleh pengurus atau perawat para lansia.

5. Daging Olahan

Daging – dagingan yang dikemas dan diolah mengandung bahan kimia karsinogenik bernama nitrosamine yang akan membantu untuk meningkatkan daya tahan produk di toko. Zat ini dihubungkan dengan beberapa penyakit kanker dan juga ditemukan meningkatkan degenerasi otak pada pasien alzheimer. Nitrosamine akan menyebabkan hati memproduksi lemak yang beracun untuk otak manusia. Lebih spesifik lagi, nitrit dan nitrat yang merupakan bahan melimpah di produk daging olahan adalah komponen nitrosamine. Ketika lemak beracun ini diproduksi, mereka akan mampu melewati pelindung darah di otak, merusak sel otak, dan menyebabkan otak mengembangkan penolakan terhadap insulin.

6. Makanan berwarna putih

Makanan yang memicu demensia dalam kategori ini termasuk roti putih, nasi putih, pasta dan makanan pendorong insulin lainnya. Gula darah yang meningkat akan menyebabkan peradangan pada tubuh Anda yang menjadi salah satu penyebab demensia yang dicurigai. Begitu juga dengan pastry dan cemilan manis yang sebaiknya dibatasi tidak lebih dari lima potong dalam seminggu.

7. Karbohidrat

Bahkan makanan ‘sehat’ seperti roti gandum utuh bisa menyebabkan kenaikan gula darah secara dramatis, membuatnya sama berbahaya dengan roti putih, bagel dan donat. Ketika Anda mencoba memberi makan otak dan mencegah demensia serta alzheimer, paling baik untuk membatasi konsumsi karbohidrat Anda.

8. Makanan mengandung penyedap rasa

Monosodium glutamat atau MSG kerap ditemukan dalam kemasan makanan olahan, keripik, bumbu salad, makanan beku dan banyak lagi. Ini adalah penambah rasa yang digunakan untuk mengawetkan makanan dan meningkatkan rasanya. Sayangnya MSG telah dihubungkan dengan penyakit alzheimer karena bisa membuat gejalanya semakin intensif. MSG akan menstimulasi sistem saraf secara berlebihan dan para pasien demensia mengalami hipersensitivitas pada stimulus eksternal, termasuk asap rokok, makanan dan kimia yang ada di udara.

9. Garam

Mengonsumsi terlalu banyak garam adalah salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi yang diketahui meningkatkan resiko demensia. Orang dewasa seharusnya hanya mengonsumsi tidak lebih dari 6 gram garam setiap harinya. Mengurangi garam bisa jadi sulit karena kebanyakan garam ada pada makanan kemasan dan olahan. Periksa label makanan sebelum membeli. Garam kurang dari 0,3 gram per 100 gram adalah rendah garam, sedangkan lebih dari 1,5 gram per 100 gram adalah tinggi garam.


10. Lemak jenuh

Lemak jenuh telah dibuktikan dapat menyusutkan ukuran otak dan meningkatkan resiko demensia. Banyak makanan cepat saji, gorengan dan makanan olahan mengandung lemak jenuh. Lemak jenuh mengurangi asupan oksigen di otak dengan menyumbat pembuluh vena dan arteri khususnya mengambil zat kimia apoliprotein E yang membantu mengatur amyloid di otak. Memiliki tekanan darah tinggi dan penyakit jantung sudah menempatkan seseorang dalam resiko tinggi demensia. Untuk membuat jantung dan sirkulasi darah lebih sehat maka awasi tingkat kolesterol Anda dan batasi asupan lemak jenuh yang bisa menyebabkan penyempitan arteri dan menimbulkan serangan jantung atau stroke.

11. Pemanis buatan

Jenis bahan dalam makanan ini kerap dihubungkan dengan racun yang mempengaruhi kesehatan ginjal, hati atau liver, darah dan sistem pencernaan, juga menjadi makanan yang memicu demensia. Pemanis buatan yang sering ada dalam produk kemasan adalah aspartam. Didalamnya ditemukan kandungan neurotoksin bernama methanol yang sifatnya korosif terhadap sistem saraf dan akan merusak fungsi neurotransmitter. Sehingga aspartam seringkali dihubungkan dengan sejumlah kasus tumor otak, kejang – kejang dan demensia.

12. Perasa buatan

Selain pemanis buatan, ada pula perasa buatan yang berpengaruh buruk pada otak dan dapat menjadi makanan yang memicu demensia. Dari sekian jenis perasa buatan, salah satunya yang paling merusak adalah diasetil. Bahan ini bisa ditemukan pada sejumlah mentega dan makanan yang diolah dengan menggunakan mentega, seperti popcorn, pastry, dan banyak lagi. Diasetil dapat membentuk plak amyloid pada otak, yang pada akhirnya akan membentuk plak berwarna kelabu di otak. Plak kelabu ini akan menjadi salah satu tanda utama dari demensia dan alzheimer. Pada penelitian lain ditemukan fakta bahwa diasetil akan menghambat gyloxalase, dan ketika gyloxalase dalam tubuh berkurang maka akan memudahkan penyebaran amyloid.

13. Makanan mengandung alumunium

Tubuh manusia tidak didesain untuk mencerna alumunium, tetapi alumunium adalah penambah rasa yang digunakan pada hampir semua makanan termasuk keju, kue dan susu formula. Alumunium juga dihubungkan dengan tahap awal penyakit alzheimer dan tidak diketahui seberapa banyak alumunium aman untuk dicerna tubuh. Bahan logam berat beracun ini digolongkan sebagai neurotoksin berbahaya karena langsung masuk ke sistem saraf. Para ilmuwan yakin bahwa logam beracun akan merusak jaringan otak.


14. Produk kedelai

Makanan berbahan dasar kedelai seperti tofu sering dianggap lebih sehat dan menjadi alternatif yang lebih baik daripada daging, namun tidak semua kedelai ternyata sama. Menurut beberapa penelitian, konsumsi tofu atau tahu yang berlebihan dihubungkan dengan proses memori yang memburuk sementara konsumsi tempe yang merupakan produk kedelai yang lebih sedikit melalui proses pengolahan justru dapat memperbaiki memori.

15. Makanan mengandung merkuri

Seperti racun lainnya, ekspos jangka panjang pada merkuri juga akan menimbulkan gejala mirip alzheimer pada orang – orang yang mengonsumsinya. Dalam studi lain yang menemukan bahwa ada kaitan kuat antara ekspos merkuri dan perilaku yang diasosiasikan dengan penyakit alzheimer. Walaupun demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa paparan merkuri jangka panjang dapat menjadi penyebab penyakit alzheimer pada orang – orang, namun tentunya hasil penelitian ini tidak dapat diabaikan begitu saja.

Sedikit pencegahan setelah mengetahui mana saja makanan yang memicu demensia dapat bermanfaat dalam jangka panjang untuk mengurangi resiko untuk mengalami demensia dini. Bahkan jika pada sebagian besar hidup Anda mengonsumsi makanan seperti ini, mengurangi konsumsinya akan membantu mengurangi resiko Anda dan bahkan bisa menghilangkan semua kerusakan yang ada sebelumnya. Bahkan jika Anda mengonsumsi makanan seperti ini dalam keseharian, menerapkan pola makan yang sehat akan membantu menyelamatkan otak Anda dalam bertahun – tahun ke depan. Sebagai bonus tambahan, Anda juga akan mendapatkan penurunan berat badan khususnya jika sebelumnya Anda mengonsumsi banyak makanan olahan.

Sponsors Link
, ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Kognitif