Sponsors Link

Hakikat Manusia dalam Psikologi Islam

Sponsors Link

Sebuah pemahaman mengenai hakikat manusia dalam psikologi Islam menjadi hal yang memang patut diketahui oleh kita supaya lebih mengerti tentang perspektif Islam dalam memandang manusia. Psikologi sebagai ilmu yang mengamati perilaku manusia tentu saja memiliki berbagai macam pandangan tersendiri. Termasuk di dalamnya yaitu pandangan terhadap hakikat manusia itu sendiri, dilihat dari kacamata psikologi Islam. Psikologi Islam menitikberatkan kajiannya pada perilaku manusia yang ada kaitannya erat terhadap bagaimana pola kehidupan beragama yang sedang ia jalani, terutama terhadap ajaran agama Islam secara lebih spesifik.

ads

Tak heran bila kemudian ada pembahasan yang lebih khusus lagi mengenai bagaimana hakikat manusia itu sendiri. Psikologi Islam memang memiliki banyak sekali pendekatan-pendekatan di dalamnya. Pendekatan psikologi dalam memahami Islam salah satunya tentu mengenai manusia. Semuanya semata-mata bertujuan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya ada dan bisa diamati dari fenomena-fenomena dalam kehidupan kita. Tentu saja, manusia menjadi objek yang paling mendasar dan utama dari kajian ilmu psikologi ini. Maka tak heran bila kemudian ada pandangan tersendiri dari psikologi Islam terhadap hakikat manusia itu sendiri. (Baca juga: Konsep ontologi dalam psikologi Islam)

Dalam konsep Islam, manusia dipandang sebagai makhluk dengan keistimewaan dan keunikan. Al Qur’an sendiri juga menyebutkan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan harus memiliki hubungan dengan penciptanya (hablun minallah). Al Qur’an menjelaskan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk beribadah dengan Sang Khaliq (Q.S. 51: 56). Manusia juga bisa saja ingkar bila tidak mengikuti ajaran agama dan menjadi syirik (Q.S. 4: 48). Konsep inilah yang kemudian semakin menelisik lebih dalam lagi sebenarnya apa hakikat manusia itu sendiri.

Dari perspektif psikologi, hakikat manusia dijelaskan oleh Imam Ghazali. Terdapat setidaknya empat unsur kejiwaan dari manusia yang terdiri dari:

  1. Qalbu

Qalbu dimaknai sebagai dua hal yang berbeda. Ia memiliki definisi secara fisik dan metafisik. Setiap bagian dari manusia akan memiliki dua makna tersebut. Kita ambil contoh seperti misalnya jantung. Dari definisi secara fisik, jantung merupakan organ yang terletak di dalam rongga dada, memiliki struktur otot yang khas dan berfungsi untuk memompa darah. Itu adalah pengertian secara fisik.

Sementara secara metafisik, jantung bisa dimaknai sebagai sesuatu yang halus, bersifat ruhaniyah dan ketuhanan. Istilahnya ia bergerak pun juga karena kehendak Tuhan. Dengan adanya qalbu ini, maka manusia bisa memaknai apa pun yang ada di sekitarnya sebagai sesuatu yang memang memiliki pencipta, sehingga sudah hakikatnya manusia harus lebih tahu dan mengenal banyak hal. (Baca juga: Kecerdasan qalbiyah dalam psikologi Islam)

  1. Kognisi Ruh

Kognisi ruh sebenarnya memiliki pemahaman yang hampir mirip dengan qalbu. Manusia memiliki ruh, sebagai sumber dari hidup (bisa disebut sebagai nyawa). Secara psikologi, ruh ini akan menggerakkan manusia untuk berbuat dan berperilaku. Jika dikaitkan dengan unsur qalbu, maka setiap pengertian metafisik dari bagian yang dimiliki oleh manusia pasti mengandung unsur ruhaniyah itu tadi. Inilah mengapa kemudian psikologi Islam juga memandang bahwa manusia memiliki ruh atau nyawa yang turut berpengaruh dalam proses ia berperilaku. (Baca juga: Contoh pendekatan psikologis dalam studi Islam)

  1. Nafsu

Manusia memiliki nafsu. Ini merupakan hakikat manusia dalam psikologi islam yang pada dasarnya bisa kita amati secara langsung, sebab nafsu merupakan bagian dari ambang batas sadar manusia. Terdapat setidaknya tiga macam jenis nafsu, yaitu nafsu mutmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Ketiganya merupakan nafsu yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Nafsu mutmainnah merujuk pada nafsu yang memberikan ketenangan batin.

Nafsu amarah merupakan nafsu yang mendorong pada tindakan negatif. Sementara itu nafsu lawwamah merupakan nafsu yang membuat manusia sadar terhadap kesalahannya kemudian timbul rasa penyesalan. Selain bisa diamati dalam bentuk sadar, nafsu juga sebenarnya ada dalam alam bawah sadar. Qalbu kemudian menjadi wadah dari gejala alam sadar manusia.


  1. Akal

Hakikat manusia selanjutnya yaitu adanya akal yang dimiliki oleh manusia. Pemahaman ini tentu saja penting sebab akal adalah bagian yang membedakan manusia dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Akal membuat manusia bisa menjadi lebih berpikir tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Akal juga bisa mendorong manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan. Jenis-jenis motivasi dalam psikologi Islam juga membahas mengenai hal ini. Tanpa adanya akal, maka manusia mungkin tidak ada bedanya dengan makhluk lain. Unsur psikologi juga muncul karena manusia memiliki akal ini. Sungguh manusia merupakan ciptaan Allah yang paling mulia, sehingga sudah seharusnya ia selalu menggunakan akalnya untuk berpikir dan beribadah kepada-Nya.

Pandangan di atas merupakan pandangan psikologi Islam mengenai hakikat manusia. Secara lebih umum, oleh Al Quran manusia dipandang sebagai “bani Adam”. Konsep tersebut akan memberikan gambaran mengenai persamaan-persamaan manusia yang bisa dilihat secara fisik. Tentu saja bila kita lebih meruncing lagi pembahasannya tentang konsep psikologi, ini akan menjadi lebih spesifik lagi. Sekian pembahasan mengenai hakikat manusia ini. Mudah-mudahan kita bisa lebih mendalami lagi mengenai hakikat manusia dalam psikologi Islam dengan membaca lebih banyak lagi pengetahuan tentang ilmu psikologi terutama dari sudut pandang agama Islam.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Agama