Home » Ilmu Psikologi » Psikologi Agama » Berhalusinasi Dalam Islam

Berhalusinasi Dalam Islam

by Rahmati

Halusinasi tergolong kedalam gangguan jiwa terbanyak di Indonesia yang paling umum adalah halusinasi pendengaran, terhitung sekitar 70% sedangkan halusinasi visual adalah yang paling umum kedua setelah halusinasi pendengaran serta rata-rata 20% dari jenis lain dari halusinasi yaitu pengucapan, penciuman, sentuhan, kinestetik dan ilusi sensorik hanya mengandung 10%.

Tanda-tanda pasien mengalami halusinasi antara lain pasien tampak berbicara atau tertawa sendiri, pasien marah pada diri sendiri, dan menutup telinga karena pasien mengira seseorang sedang berbicara dengannya.

Dampak terhadap dari berhalusinasi adalah beban keuangan yang tinggi, beban gangguan emosional keluarga, stres akibat perilaku pasien yang terganggu baik karena phobia sosial, gangguan tugas rumah tangga sehari-hari, dan keterbatasan dalam melakukan aktivitas.

Disisi lain beban sosial ekonomi juga tampak dirasakan yang meliputi gangguan dalam hubungan keluarga, keterbatasan aktivitas sosial, pekerjaan dan hobi, kesulitan keuangan dan dampak negatif pada kesehatan fisik pada diri sendiri dan keluarga.

Sedangkan untuk beban psikologis menggambarkan reaksi psikologis seperti perasaan kehilangan, kesedihan, kecemasan dan rasa malu di depan masyarakat sekitar, stress kronis di depan gangguan perilaku, dan frustrasi karena perubahan pola interaksi dalam keluarga.

Bolehkah berhalusinasi dalam Islam

Halusinasi adalah kegiatan di mana pikiran dan hati membayangkan/berkhayal sesuatu dalam pikirannya. Halusinasi yang masih diperbolehkan dalam Islam, misalnya, halusinasi ingin menjadi orang baik, sukses, atau halusinasi tentang apa yang harus dilakukan besok.

Ketika seseorang berhalusinasi tentang keinginan untuk sukses, meraih mimpi dan menjadi orang baik, seharusnya itu bukan hanya angan-angan atau mimpi. Harus diikuti dengan niat, doa dan usaha. Disisi lain, halusinasi yang diharamkan dalam Islam adalah halusinasi berzina, berduaan dengan lawan jenis, dan lain sebagainya halusinasi tersebut merupakan bentuk qalb. Zina Qalbi adalah seorang pezina yang ingin berkhayal atau membayangkan tentang lawan jenis. Meskipun halusinasi selain zina tidak diperbolehkan dalam Islam, namun halusinasi yang ingin melakukan maksiat/kejahatan, seperti halusinasi orang pendendam, musuh, hal-hal berbau buruk itu pasti diharamkan dalam islam.

Jenis halusinasi dalam Islam

Para ulama menyimpulkan berhalusinasi ada 3 macam berdasàrkan hukumnya yaitu sebagai berikut:

1. Halusinasi mubah

Seperti berhalusinasi memiliki kekayaan, namun tanpa ada keinginan untuk beramal hanya sebatas untuk kepentingan dunia. Seseorang yang selalu menghayal atau meng angan-angankan tentang dunia dan ingin memiliki segalanya di dunia sehingga menjadi penyebab kesehatan mental terganggu dan jiwanya maka itu hukumnya mubah.

2. Halusinasi yang dianjurkan

Seperti halusinasi menjadi penghafal Al-Qur’an, atau memiliki ilmu agama yang tinggi agar bisa berdakwah dan mengajak kepada kebaikan serta halusinasi memiliki kekayaan agar bisa memberi manfaat bagi kaum muslimin. Bahkan Allah memberikan pahala untuk orang yang memiliki harapan kebaikan namun tidak tercapai.

3. Halusinasi yang dilarang

Seperti halusinasi yang mustahil, diantara yang Allah singgung dalam al-Qur’an adalah halusinasi wanita untuk menjadi lelaki atau sebaliknya, agar bisa mendapat jatah warisan yang lebih banyak atau mendapat kelebihan yang lebih banyak.

Tidak semua halusinasi dilarang dalam islam bahkan jika itu bentuknya kebaikan, kita dianjurkan berhalusinasi untuk mendapatkannya. Dari Aisyah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda: “ketika kalian ber angan-angan maka perbanyaklah mengingat Allah, karena sejatinya dia sedang mengingat Rabb-Nya” (H.R.Ibnu Hibban 2403, Thabrani Dalam Al-Ausath 2/301 dan di sahihkan Al-Albani).

Ketika menyebutkan hadist ini Al-Baghawi menjelaskan, ini berlaku bagi orang yang berhalusinasi sesuatu yang mubah, terkait perkara dunia atau akhiratnya. Agar ia jadikan tempat bergantungnya kembali kepada Allah, do’a nya kepada Allah meskipun halusinasinya sangat besar. Allah SWT berfirman yang artinya “mintalah kepada Allah karunia-Nya” (Syarh As-Sunah, 5/208).

Diantara halusinasi yang baik yang kita dianjurkan untuk mendapatkannya adalah berhalusinasi untuk memiliki sesuatu agar bisa beramal Sholeh. Dalam hadist dari Ibnu Mas’ud RA, Nabi SAW bersabda yang artinya:”Tidak boleh ada hasad kecuali untuk 2 orang yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, lalu dia gunakan harta itu untuk membela kebenaran, dan orang yang diberi ilmu lalu dia memutuskan perkara berdasarkan ilmu agamanya dan dia mengajarkannya”(H.R. Ahmad 4109, Bukhari 1049 dan yang lainnya).

Pandangan halusinasi dalam islam

Dalam  Islam, halusinasi disebabkan oleh penyakit jiwa yang terjadi pada seseorang akibat gangguan fisik dan mental. Dalam Islam disebut dengan amradh al-qulub atau Aswan al-nufus, yang artinya jiwa yang sehat agar manusia  bahagia di dunia dan di akhirat.  Islam juga menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat dihindari dengan selalu bertindak dengan niat yang tulus dan melakukan setiap pekerjaan dengan benar, jujur, tekun dan profesional.

Semua hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT dan halusinasi yang melibatkan gangguan jiwa  dapat diidentikkan dengan beberapa karakter buruk atau perilaku tercela (al-akhlaq al-mazmumah) seperti keserakahan, iri hati, kecemburuan, kesombongan, emosionalitas, dan lain-lain dijelaskan oleh Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi.

Untuk mencegah penyakit mental dalam Islam, seseorang harus memiliki pola pikir yang sehat, yaitu. pola pikir yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, sehingga mampu mengendalikan sikap, tindakan dan perilaku manusia. menghadapi segala macam masalah dalam hidup.

Halusinasi menurut ilmuwan

Para ilmuwan percaya bahwa  halusinasi adalah hasil dari bisikan hati dan adanya fantasi duniawi yang didasarkan pada keinginan dan kesenangan duniawi. Penyakit ini juga merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan setan. Setan menghasut nafsu dan menyebabkan manusia meragukan imannya. Melupakan bumi, melakukan perbuatan jahat (As-Syarqawi: 95).

Dalam menangani penyakit di atas, jelas bahwa metode yang digunakan oleh “psikologi Islam” berbeda dengan metode yang dianut oleh psikologi modern. Islam percaya bahwa sumber utama  penyakit adalah setan. Oleh karena itu, jalan keluarnya adalah terapi dzikir kepada Allah.

As-Samarqandi, sebagaimana dikutip As-Sarqawi (1979:98-102), menyebutkan bahwa setan selalu berusaha menggoda dan menipu manusia jalannya antara lain: melalui esensi su’uzan baik kepada Tuhan maupun kepada manusia, melalui kemewahan hidup, melalui sikap menghina orang lain, melalui motivasi, iri hati, kesombongan, kemunafikan, kesengsaraan, ketamakan, dan lain-lain. Menurut As-Samarqand, cara mengatasi penyakit ini adalah dengan  memperkuat iman (imani) kepada Allah dan berpuasa (qana’ah) atas karunia dan pahala-Nya.

Apakah berkhayal dosa ?

Kutipan dari konsultasi syari’ah: Islam tidak melarang manusia untuk berkhayal sampai kita berharap yang terbaik. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Thabarani tentang Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kamu memiliki khayalan, perbanyaklah karena sesungguhnya dia meminta kepada Allah. Dalam kitab Syarh Al Baghawi As Sunnah menjelaskan bahwa:

“Berkhayal ini berlaku bagi orang yang memimpikan sesuatu yang baik yang berhubungan dengan urusan dunia atau akhirat, agar ia kembali kepada ketergantungannya kepada Allah, doanya kepada Allah, meskipun mimpinya sangat besar”.

Allah berfirman.( yang artinya):

“Mintalah rahmat-Nya.” Salah satu bentuk berkhayal adalah harapan agar kita dapat melakukan hal yang benar. Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits Ahmadi, Bukhari dari Ibnu Mas’ud RA, dari Nabi SAW. “Kecemburuan tidak dapat ada kecuali untuk dua orang yang kepadanya Tuhan telah memberikan kekayaan, ia menggunakan kekayaan itu untuk melindungi kebenaran. Yang lain, kepada siapa Tuhan telah memberikan pengetahuan, memutuskan sesuatu berdasarkan pengetahuan agamanya dan mengajarkannya.”

Alasan kuat islam melarang berhalusinasi

Halusinasi berbahaya dan dapat menghancurkan diri seseorang, bahkan Islam melarang orang berhalusinasi jika mengarah pada kejahatan atau  mengganggu jiwanya. Orang yang dipenuhi dengan banyak halusinasi puas dengan kebohongan. Oleh karena itu, siapa pun yang dapat mengendalikan pikiran yang mengalir di kepalanya dapat mengendalikan dirinya sendiri dan mengatasi nafsu.

Sementara itu, mereka yang tidak bisa mengendalikan halusinasinya didorong oleh nafsu. Jadi jangan anggap enteng  halusinasi ini kecuali memang ingin dimusnahkan. Orang yang paling hina adalah mereka yang  puas dengan halusinasi yang hanya berisi pesan-pesan kosong. Padahal, halusinasi  hanya untuk para penganggur, orang yang bangkrut dan  jiwa yang kosong.

Dari ketidakmampuan dan kemalasan muncul halusinasi, yang kemudian mengarah pada kelalaian, berakhir dengan penderitaan dan penyesalan. Halusinasi menghipnotis orang tersebut dengan keagungan yang hadir, lalu menggenggamnya erat-erat dan tidak mau melepaskannya. Akhirnya, dia memilih ilusi. Namun, semuanya sia-sia. Dengan demikian, Islam sangat melarang halusinasi, kecuali halusinasi  hal-hal yang baik dan membawa kebaikan.

Cara Mengatasi Halusinasi

Cara mengatasi halusinasi menurut perspektif Islam ada 4 cara yaitu sebagai berikut:

  • Kuatkan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang berkuasa memberikan penyakit

Memberikan keyakinan bahwa hanya kepada Allah yang maha pemberi kesembuhan tentang segala hal karena ketika hati yakin akan memberikan efek positif pada kesehatan jiwa dan mental, sehingga proses penyembuhannya akan semakin cepat.

  • Hadapi cobaan dan yakinlah bahwa Tuhan yang menyembuhkan dengan menghilangkan cobaan itu

Islam selalu mengajarkan bahwa segala cobaan harus di hadapi dengan sabar, ikhlas, yakin diri kepada Allah. Hati akan terasa tenang ketika yakin segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah, cobaan yang Allah berikan akan terasa ringan sebab hati selalu ikhlas menerimanya.

  • Mencari bantuan dari Tuhan melalui doa dan kesabaran

Do’a merupakan senjata bagi umat Islam. Dengan doa dan kesabaran akan diberikan kemudahan dan diberikan jalan terbaik atas cobaan yang menimpa. Jangan putus berdoa ketika dihadapi cobaan penyakit. Secara tidak langsung juga doa menjadi jalan pengingat dan pembuka jalan kebaikan kepada diri sendiri.

  • Selalu berdoa untuk kewarasannya

Mintalah kesembuhan dengan cara berdoa kepada Allah, serahkan semua kepada Allah dan perbanyaklah berdoa dengan doa yang khusyu’ serta banyak mengingat akan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dengan berdoa juga bisa menyembuhkan halusinasi karena menghilangkan bisikan setan yang ada di dalam tubuh.

You may also like