Sponsors Link

13 Contoh Fantasi dalam Psikologi

Sponsors Link

Pembahasan dalam posting kali ini adalah mengenai contoh fantasi dalam psikologi. Ini merupakan sebuah hal menarik lagi dalam psikologi. Fantasi bisa kita sebut sebagai khayalan. Lebih lengkapnya, fantasi merupakan semua hal yang berkaitan dengan khayalan, dimana hal tersebut tidaklah nyata, tidak benar-benar ada serta hanya ada di dalam benak pikiran saja. Fantasi bisa juga disebut sebagai imajinasi. Walaupun mungkin berfantasi dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting, namun dalam kenyataannya unsur fantasi ini benar-benar sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bahkan bisa menemukan sesuatu hal baru karena adanya daya imajinasi tertentu. Macam-macam kecerdasan manusia mungkin juga berakar dari adanya fantasi tersebut.

ads

Kreativitas seseorang mungkin juga akan dipengaruhi oleh fantasi ini. Oleh karenanya, beberapa pakar membedakan jenis fantasi yaitu fantasi yang hanya berupa khayalan kosong dan membuat seseorang hanya melamun, serta fantasi yang memang menciptakan suatu karya. Supaya lebih jelas, berikut ini ada beberapa macam contoh dari fantasi. Kita bisa mengidentifikasinya sebagai sesuatu hal yang memang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penasaran?

  1. Fantasi Tuntunan

Fantasi tuntunan juga dikenal sebagai fantasi terpimpin (guided fantasy). Fungsi fantasi ini timbul karena ada faktor yang mempengaruhi timbulnya fantasi dan terjadi karena dipandu oleh faktor tersebut. Seperti misalnya saat membaca novel, menonton film dan lain sebagainya.

  1. Fantasi Mencipta

Fantasi mencipta merupakan bentuk fantasi yang positif karena memungkinkan seseorang untuk membuat suatu karya. Contohnya yaitu pada saat seseorang sedang melukis, membuat cerpen atau cerita. Di sini dibutuhkan fantasi untuk membuat karya-karya yang baik tersebut. (Baca juga: Contoh sensasi dalam psikologi komunikasi)

  1. Fantasi Pasif

Fantasi pasif merupakan fantasi dimana tidak melibatkan gejala-gejala jiwa lainnya secara pasif. Di sini kesadaran menjadi wadah sebagai tempat untuk terjadinya daya fantasi sehingga seseorang tersebut mungkin secara tidak sadar sudah hanyut ke dalam fantasinya sendiri. Contohnya pada saat seseorang membayangkan sesuatu dan tidak melakukan apa-apa. Ia seperti sedang asyik dengan dunianya sendiri.

  1. Fantasi Aktif

Berbeda dengan fantasi pasif, fantasi aktif membuat seseorang bergerak melakukan sesuatu secara aktif. Ia melibatkan gejala-gejala jiwa lainnya sehingga selain hanyut dalam kesadaran, ia juga melakukan seakan-akan apa yang terjadi benar-benar ia rasakan. Contohnya adalah ketika anak kecil bermain peran. Kita bisa melihat juga bagaimana contoh asosiasi dalam psikologi komunikasi yang bisa menggambarkan hal ini.

  1. Fantasi yang Tidak Disadari

Fantasi yang tidak disadari merupakan bentuk fantasi yang memang muncul tanpa disadari oleh individu. Bentuk fantasi ini bisa saja terjadi karena daya imajinasi yang sedang berkembang. Contoh yang paling mudah bisa ditemui pada anak-anak. Mereka bisa saja mengatakan memiliki teman bayangan (imaginary friend) dan seakan-akan itu menjadi benar.

  1. Fantasi yang Disadari

Fantasi yang disadari adalah kebalikan dari fantasi yang tidak disadari. Fantasi ini timbul memang karena disengaja oleh seorang individu. Biasanya ini ada kaitannya juga dengan fantasi yang menciptakan sesuatu. Contoh fantasi dalam psikologi bisa dilihat pada poin sebelumnya seperti misalnya saat seseorang melukis, membuat naskah, membuat patung dan lain sebagainya. (Baca juga: Contoh intuisi dalam psikologi umum)

  1. Fantasi yang Mendeterminasi

Fantasi yang mendeterminasi merupakan jenis fantasi dimana seseorang akan melakukan identifikasi terhadap apa yang pernah ia ketahui sebelumnya, kemudian ia bayangkan sebagai sesuatu yang lain. Sebagai contoh bila seorang anak belum pernah melihat harimau, kemudian ia diberitahu bahwa harimau adalah kucing besar. Dalam fantasinya, ia akan membayangkan bahwa harimau adalah hewan kucing dengan bentuk yang lebih besar.

  1. Fantasi yang Mengabstraksi

Fantasi yang mengabstraksi merupakan cara berfantasi dengan menghilangkan beberapa macam objek yang sebenarnya untuk kemudian dibayangkan seolah-olah gambarannya tidak jauh berbeda dengan hal tersebut. Contoh fantasi yang mengabstraksi ini misalnya ketika seseorang belum pernah melihat gurun pasir, maka ia akan membayangkan seolah-olah lapangan sebagai gurun pasir.

  1. Fantasi yang Mengkombinasi

Berkebalikan dengan fantasi yang mengabstraksi, fantasi yang mengkombinasi akan menambahkan beberapa bagian pada objek yang sebenarnya untuk mendapatkan bayangan utuh akan imajinasinya. Contohnya yaitu saat seseorang belum pernah melihat rumah joglo. Ia akan membayangkan bagian-bagian dari rumah joglo ke rumah biasa.

  1. Fantasi Berlebihan

Fantasi berlebihan adalah bentuk fantasi yang sudah lepas dari kontrol. Seseorang akan terlalu hanyut dalam fantasinya sehingga ia terjebak dalam lamunan panjang. Jika dibiarkan saja, ini mungkin akan menghambat aktivitasnya. Kita mungkin perlu mengetahui apa saja yang menjadi gejala maladaptive daydreaming.

  1. Fantasi Dusta

Fantasi dusta terjadi ketika seseorang menganggap bahwa kejadian yang tidak ada, benar-benar ada dan terjadi. Sebagai contoh ketika seseorang mengatakan sudah pernah mendatangi suatu tempat, padahal itu hanya imajinasinya saja.


  1. Fantasi Liar

Fantasi liar merupakan bentuk fantasi berlebihan yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk nyata, tetapi menyalahi norma atau aturan tertentu. Ini tentu saja bisa menjadi perilaku yang kurang baik untuk individu.

  1. Fantasi Tanpa Makna

Contoh terakhir yaitu fantasi tanpa makna. Fantasi ini akan menyebabkan seseorang tidak mampu menguasai dirinya dan menjadikan ia seakan benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam realita yang dihadapi.

Itulah tadi beberapa contoh dari fantasi. Setidaknya pemahaman kita menjadi lebih jelas mengenai bagaimana fantasi tersebut ada. Masih ada banyak contoh fantasi dalam psikologi yang bisa kita kembangkan sesuai dengan pemahaman tersebut.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :
Kategori : Ilmu Psikologi