Home » Gangguan Psikologi » 10 Gangguan Psikologi pada Masa Reproduksi

10 Gangguan Psikologi pada Masa Reproduksi

by Barzam

Gangguan psikologi pada masa reproduksi sebenarnya merupakan hal yang wajar bisa terjadi. Masa reproduksi adalah masa dimana perkembangan organ-organ reproduksi sudah berkembang dengan matang dan seseorang telah mengalami perkembangan seksual sekunder. Gangguan psikologi pada masa ini, apabila tidak ditangani dengan baik mungkin bisa menyebabkan masalah tersendiri. Ini akan sangat erat kaitannya dengan sumber dan mekanisme koping yang dimiliki oleh seseorang.

Manakala koping seseorang tidak bagus, maka gangguan psikologi yang terjadi mungkin akan berkembang menjadi perilaku yang beresiko terhadap kesehatan jiwa. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengenali gangguan-gangguan apa saja yang bisa terjadi selama masa reproduksi, terutama terkait dengan gangguan psikis yang bisa dialami seseorang. Dengan mengenalinya, maka kita bisa segera mencari pertolongan apabila kita mengalaminya, atau memberikan pertolongan saat mengetahui orang lain mengalaminya.

  1. Kompleks Kastrasi

Kompleks kastrasi merupakan gangguan psikologi yang bisa dialami oleh wanita pada saat pertama kali mengalami menstruasi. Seseorang mungkin akan memiliki fantasi atau pun gambaran yang mengerikan terkait dengan pertama kali melihat darah yang keluar dari proses menstruasi. Tentunya ini bisa berkembang menjadi rasa cemas atau pun ketakutan sebab apa yang dikhawatirkannya terlalu berlebihan.

Manakala kita menemukan seseorang dengan permasalahan ini, memberikan pendidikan kesehatan reproduksi adalah langkah yang tepat supaya tidak terjadi kompleks kastrasi. Persepsi yang keliru bisa diklarifikasi sehingga informasi yang sebelumnya salah bisa dipahami menjadi lebih baik. Proses ini tentunya membutuhkan dukungan dan motivasi yang kuat.

  1. Phobia

Phobia juga bisa timbul sebagai manifestasi dari pengalaman yang tidak menyenangkan sebelumya, atau memang karena pada dasarnya seseorang sudah merasa takut terhadap suatu objek atau benda terkait dengan perkembangan seksual sekundernya. Sebagai contoh, seseorang yang takut darah mungkin akan mengalami reaksi berlebihan pada saat menstruasi. Reaksi ini akan memicu timbulnya sikap-sikap yang mengarah pada gangguan psikis seperti mania atau justru depresi. Memahami phobia sendiri adalah hal yang perlu untuk ditelaah sehingga kesiapan kita terhadap perkembangan seksual sekunder menjadi lebih baik.

  1. Paranoid

Phobia yang tidak tertangani dengan baik, bisa berkembang menjadi paranoid. Reaksi ini akan cenderung menyebabkan seseorang menjadi lebih histeris dari sebelumnya. Seseorang mungkin akan terlihat kehilangan akal sehat tanpa sebab, padahal sebenarnya yang terjadi adalah karena adanya ketakutan terhadap suatu objek yang termasuk ke dalam perkembangan masa reproduksi.

Menghadapi masalah paranoid ini memang perlu pendekatan khusus, dimana seseorang akan lebih baik diajak berdiskusi mengenai permasalahan yang sedang dialaminya, tanpa harus menggunakan suatu judgement tertentu. Ada cara menghilangkan rasa takut yang berlebihan yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini.

  1. Psychogene Amenorrhea

Menstruasi bisa terhenti akibat kendali dari psikis seseorang. Manakala seseorang mengalami gangguan psikis tertentu, yang mungkin salah satunya adalah penolakan dari menstruasi itu sendiri, maka haid yang sebelumnya harusnya terjadi menjadi terhenti.

Reaksi ini termasuk menjadi bagian dari reaksi syok oleh seseorang yang menganggap bahwa tidak semestinya ia mengalami haid. Oleh karenanya, pengertian dan konsep kesehatan reproduksi yang baik bisa diberikan sebagai bentuk pendidikan kesehatan kepada orang yang mengalami permasalahan ini.

  1. Teori Cloaca

Teori Cloaca menjelaskan bahwa segala macam yang keluar dari saluran tubuh akan dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan oleh seseorang. Seseorang mungkin menganggap bahwa hal tersebut sebagai najis, sehingga manakala dia mengalami hal yang berkaitan dengan proses “pengeluaran” cairan dari organ reproduksinya, maka ia akan menganggap dirinya lebih rendah dan menjijikkan.

Apabila ini terjadi dan dibiarkan saja, tidak menutup kemungkinan harga diri seseorang tersebut menjadi terganggu. Konsep dirinya menjadi kurang baik dan tentu saja ini akan membutuhkan pertolongan lebih lanjut.

  1. Kecemasan

Berbeda dengan phobia, dimana ketakutan seseorang tersebut memiliki bentuk yang nyata, pada kecemasan, seseorang tidak memiliki objek yang nyata untuk ditakuti. Seseorang akan memiliki pikiran-pikiran yang membuatnya cemas terutama terkait dengan perkembangan organ reproduksinya. Kecemasan yang dialami seseorang akan sangat bervariasi.

Harus ada cara menghilangkan kecemasan yang dilakukan. Apabila ia mampu mengendalikannya dengan menggunakan koping yang baik, maka ia bisa terhindar dari masalah lain yang berhubungan dengan kecemasan. Sebaliknya, apabila ini tidak tertangani, maka kecemasan bisa memicu timbulnya resiko perilaku yang mengancam kesehatan jiwa seseorang.

  1. Baby Blues

Istilah sindrom baby blues mungkin juga sudah tidak asing lagi. Dalam masa reproduksi, persalinan juga bisa menjadi bagian yang bisa memicu terjadinya gangguan psikologi. Apabila terjadi ketidaksiapan seorang ibu dalam melahirkan anaknya, maka bisa timbul gangguan bounding attachment yang kemudian menyebabkan terjadinya sindrom baby blues. Ibu akan enggan untuk merawat bayinya dan justru menjadi kurang peduli pada bayi.

  1. Depresi

Depresi dalam psikologi adalah manifestasi dari berbagai macam gangguan psikis yang ada. Berkebalikan dengan perilaku amuk atau mania, depresi akan cenderung membuat seseorang malas untuk melakukan banyak hal dan sibuk memikirkan hal-hal yang ada di dalam pikirannya. Gangguan psikologi pada masa reproduksi ini memang patut untuk diwaspadai. Tentunya cara mengatasi stres dan depresi bisa diterapkan agar masalah ini tidak berkembang lagi.

  1. Hipokondria

Hipokondria juga hampir mirip dengan depresi. Ini adalah kondisi kemurungan yang menyebabkan hatinya seperti tertekan. Permasalahan yang dihadapi mungkin sebenarnya tidak ada, tetapi seseorang mendapatinya di dalam pkiran-pikirannya sendiri. Penting supaya kita peka terhadap orang dengan masalah ini supaya kita bisa memberikan dukungan yang baik.

  1. Trauma

Trauma pada saat persalinan, menstruasi atau mungkin pada saat sunat merupakan gangguan psikologi yang bisa saja terjadi. Macam-macam trauma psikologis akan memberikan sebuah memori tersendiri bagi seseorang sehingga ke depan ia akan kesulitan ketika berada pada situasi yang mirip atau sama. Gangguan psikologi pada masa reproduksi berupa trauma ini harus diwaspadai karena bisa menimbulkan efek yang kurang baik.

Demikian penjelasan terkait apa saja gangguan psikologi pada masa reproduksi yang biasa dialami para wanita. Semoga bermanfaat.

You may also like