Sponsors Link

13 Aspek Psikologi dalam Analisis Taksonomi Pendidikan

Sponsors Link

Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting dalam menciptakan manusia yang berkualitas. Bukan hanya pengetahuan umum saja yang didapat, tetapi pendidikan yang baik juga dapat membentuk kepribadian yang berkualitas.

ads

1. Dasar Kualitas

Pendidikan menjadi dasar untuk menentukan kualitas seseorang dan masa depan dri suatu individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Pendidikan menjadi bekal untuk bertingkah laku dan mengembangkan diri serta memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, dengan adanya pendidikan, setiap orang menjadi paham akan peran dan memiliki karakteristik serta kepribadian yang kuat dan terarah. (Baca juga mengenai manfaat psikologi pendidikan bagi anak usia dini).

2. Tujuan Pendidikan

Takstonomi dalam dunia pendidikan dilakukan untuk pengelompokkan di ranah penilaian tujuan pendidikan.  Takstonomi diambil dari bahasa Yunani “Tassein” yang berarti untuk mengelompokkan dan “Nomos” yang berarti aturan. Jadi, Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokkan berdasarkan tingkatan tertentu.

Takstonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum, sedangkan yang rendah lebih spesifik. Dalam Kamus Besar Indonesia takstonomi diartikan sebagai kaidah dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek itu. (Baca juga mengenai jenis jenis kematangan dalam psikologi pendidikan).

3. Aspek Psikologi

Dilihat dari aspek psikologinya yang diciptakan oleh seorang psikolog pendidikan yaitu Benjamin Bloom pada tahu 1956, yang diberi nama Konsep Takstonomi Bloom. Konsep ini mengklasifikasian tujuan pendidikan menjadi beberapa domain (ranah, kawasan), yang kemudian diklasifikasiakn lebih rinci lagi berdasarkan tingkatannya. Berikut penjelasannya, (Baca juga mengenai teori psikologi pendidikan).

4. Cognitive Domain ( Kognitif), berisisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan. Pada hal ini, seseorang akan menggunakan kemampuan otaknya. Domain kognitif ini kemudian dibagi lagi menjadi 6 tingkatan. (Baca juga mengenai peran riset dalam psikologi pendidikan).

Pada tingkatan ini seseorang diberikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. Contoh : Seorang siswa yang diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yang berada pada level ini dapat menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, dan standar kualitas munimum untuk produk. (Baca juga mengenai penerapan psikodiagnostik dalam bidang pendidikan).

5. Pemahaman (Comprehension), pada tingkat ini siswa diberikan kemampuan untuk mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan utama. Contoh: Seorang siswa dapat membandingkan manfaat mengkonsumsi apel dan jeruk terhadap kesehatan.


6. Aplikasi (Application), di tingkat ini, seseorang dapat memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur,metode, rumus, teori di dalam kondisi kerja. Contoh: Ketika seseorang diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, pada tingkat ini dia dapat merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

pada tingkat analisis, mereka akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya. Selain itu, juga mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Contoh: seseorang mampu memiliah-milah penyebab meningkatnya reject, membandingkan tingkatan keparahan dari setiap penyebab, dan lain-lain.

7. Sintesis (Synthesis), seseorang akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Contoh: Seorang manajer mamapu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

mampu memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Contoh: Seorang manajer mampu menilai alternatif solusi yang sesuai.

8. Affective Domain (Domain Afektif), berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi. Seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Pada tingkat ini dibagi menjadi 3 bagian.

  • Penerimaan (Receiving), pada tingkat ini seseorang mampu menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya dapat berupa perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
  • Tanggapan (Responding), di tingkat ini seseorang dapat memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Seperti, persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
  • Penghargaan (Valuing), berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian yang diberikan berdasarkan pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

9. Pengorganisasian (Organization), seseorang akan mampu memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten, seseorang akan memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya hidupnya.

10. Psychomotor Domain ( Domain Psikomotor), berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin yang bisa diamati dan tumbuh sesuai dengan kemampuan yang dibiasakan dan diajarkan sejak kecil. Pada tingkat ini dibagi menjadi 2 bagian yakni persepsi dan kesiapan seseorang.

  • Persepsi (Perception), seseorang akan menggunakan alat indra untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
  • Kesiapan ( Set), seseorang akan memiliki kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

11. Respon terpimpin (Guided Response), pada bagian ini adalah tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba. seseorang akan membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

12. Respon tampak yang kompleks (Complex overt response), seseorang akan memiliki gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. disini keterampilan sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

13. Penciptaan (Origanation), seseorang akan mampu membuat pola gerakan yang disesuaikan dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu. Maka dari itu, Takstonomi dalam dunia pendidikan sangat diperlukan untuk keberhasilan menciptakan pendidikan yang berkualitas. Khususnya dilihat dari aspek-aspek psikologi dalam taksonomi pendidikan sangatlah penting untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang baik dan efektif. Sebagai guru atau pihak yang berperan dalam pendidikan wajib untuk memahami dan menerapkan sehingga tercapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikan.

Demikian artikel kali ini mengenai pentingnya aspek psikologi dalam taksonomi pendidikan, semoga menjadi wawasan yang bermanfaat untuk anda. Terima kasih. salam hangat dari penulis.

Sponsors Link
, , , , ,