Sponsors Link

3 Proses Adaptasi Psikologi Dalam Masa Nifas

Sponsors Link

Masa nifas atau purperium dimulai pada 1 jam sesudah plasenta lahir hingga 6 minggu atau 42 hari sesudahnya. Dilihat dari psikologi, pasca persalinan seorang ibu akan mengalami beberapa gejala psikiatrik meski tidak semua ibu akan mengalami hal tersebut. Supaya perubahan psikologi yang dialami seorang ibu tidak terlalu berlebihan, maka seorang ibu diharapkan untuk mengetahui permasalah tersebut lebih mendalam. Proses adaptasi psikologi dalam masa nifas ini sebenarnya sudah terjadi saat kehamilan, menjelang proses kelahiran dan juga sesudah persalinan. Dalam periode ini, maka rasa cemas dan tanda tanda stress yang dialami seorang wanita akan semakin bertambah dan akan mengalami pengalaman yang unik setelah persalinan. Masa nifas sendiri merupakan masa yang rentan sekaligus terbuka untuk sebuah pembelajaran dan bimbingan dan perubahan peran seorang ibu membutuhkan adaptasi. Selain itu, tanggung jawab seorang ibu juga akan bertambah sehingga seorang ibu akan butuh bantuan untuk beradaptasi dengan masa nifas tersebut seperti dukungan dan respon dari keluarga, riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan serta inspirasi ketika hamil dan melahirkan. Dalam proses adaptasi psikologi dalam masa nifas, seorang ibu akan mengalami beberapa fase yang akan kami jelaskan berikut ini.

ads
  1. Fase Taking In

Fase taking in adalah periode ketergantungan dimana pada saat tersebut, fokus perhatian ibu akan tertuju pada bayinya sendiri. Rubin menetapkan periode selama beberapa hari ini sebagai fase menerima dimana seorang ibu juga membutuhkan perlindungan serta perawatan yang bisa menyebabkan gangguan mood dalam psikologi. Dalam penjelasannya, Rubin mengatakan jika fase tersebut akan berlangsung antara 2 hingga 3 hari. Sementara dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ament pada tahun 1990 juga mendukung pernyataan Rubin tersebut kecuali pada wanita sekarang ini yang berpindah lebih cepat dari fase menerima.

Untuk fase menerima yang terbilang sangat kuat, biasanya hanya terjadi di 24 jam pertama pasca persalinan. Selama beberapa jam atau beberapa hari sesudah melahirkan, seorang wanita sehat dewasa akan terlihat seperti mengesampingkan segala tanggung jawabnya sehari hari. Mereka akan tergantung pada orang lain untuk respon pada kebutuhan akan istirahat sekaligus makanan. Dalam fase ini merupakan waktu yang memiliki banyak kegembiraan dan banyak orang tua yang juga senang berbicara akan hal tersebut. Mereka akan terus berbicara tentang masa kehamilan dan juga melahirkan dengan berbagai kata kata. Sedangkan pemusatan, analisis dan juga sikap menerima dari pengalaman tersebut nantinya akan membantu para orang tua untuk pindah ke fase berikutnya.

Rasa cemas, depresi dalam psikologi dan juga kenikmatan terhadap peran barunya tersebut terkadang juga semakin mempersempit persepsi seorang ibu sehingga informasi yang disampaikan pada saat tersebut kemungkinan harus diulang kembali. Beberapa rasa tidak nyaman yang biasa terjadi dalam masa ini diantaranya adalah sakit perut, nyeri di area luka jahitan jika ada, tidur tidak cukup dan kelelahan sehingga yang harus lebih diperhatikan dalam fase tersebut adalah banyak istirahat, komunikasi dan juga asupan nutrisi. Sedangkan untuk gangguan psikologis yang biasa dialami oleh ibu selama fase ini diantaranya adalah:

  • Rasa tidak nyaman karena perubahan fisik
  • Rasa kecewa terhadap bayi
  • Merasa tidak bersalah karena tidak dapat menyusui bayi
  • Kritik yang berasal dari suami atau keluarga tentang perawatan bayi.
  1. Fase Taking Hold

Fase taking hold merupakan masa yang berlangsung antara 3 hingga 10 hari sesudah persalinan. Dalam fase ini, kebutuhan akan perawatan dan juga rasa diterima dari orang lain akan muncul secara bergantian serta keinginan agar bisa melakukan semuanya secara mandiri setelah sebelumnya juga mengalami perubahan sifat yang terjadi pada ibu hamil. Seorang wanita akan merespon dengan semangat agar bisa berlatih dan belajar tentang cara merawat bayi atau apabila ia merupakan ibu yang gesit, maka akan lebih ingin merawat bayi mereka secara mandiri. 6 sampai 8 minggu sesudah persalinan, maka kemampuan ibu untuk menguasai tugas sebagai orang tua adalah hal penting untuk dilakukan.

Harapan yang realisitis nantinya akan mempermudah kehidupan keluarga selanjutnya sebagai sebuah kesatuan atau unit. Beberapa wanita namun juga akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri pada isolasi yang dialami sebab ia diharuskan merawat bayi, tidak menyukai tanggung jawab di rumah dan juga merawat bayi mereka atau sindrom baby blues. Beberapa ibu yang membutuhkan dukungan tambahan diantaranya adalah:

  • Ibu berusia remaja
  • Wanita yang tidak memiliki suami
  • Wanita karier
  • Ibu yang belum berpengalaman mengasuh bayi
  • Wanita yang tidak punya banyak teman atau keluarga untuk berbagi rasa. 

Dalam masa ini, depresi postpartum juga sangat sering terjadi sehingga perasaan mudah tersinggung akan terjadi karena berbagai sebab. Dilihat secara psikologis, seorang ibu akan merasa jenuh dengan tanggung jawab yang cukup banyak sebagai orang tua. Ia bisa saja merasa kehilangan dukungan yang pernah diterima dari anggota keluarga atau teman ketika sedang hamil. Selain itu, beberapa orang ibu juga akan menyesal dengan rasa kehilangan atas hubungan ibu dan anak yang belum lahir. Sedangkan beberapa ibu lain akan merasa kecewa ketika persalinan dan juga proses kelahiran sudah selesai.

Rasa letih sesudah melahirkan nantinya juga semakin berat dengan tuntutan bayi yang semakin banyak sehingga perasaan depresi tersebut akan lebih mudah terjadi. Dalam masa puerperium tersebut, kadar gluko kortiokid bisa berubah menjadi lebih rendah atau terjadi hipotiroid subklinis. Keadaan fisiologis tersebut bisa menjelaskan depresi pasca partum yang ringan. Reaksi depresif tersebut tidak harus diperlihatkan dengan cara verbal namun bisa ditandai dengan perilaku khas seperti menarik diri, menangis dan juga hilangnya perhatian atas sekeliling. Namun, disaat segala tugas dan juga penyesuaian sudah dijalankan dan bisa dikendalikan, maka bisa didapat kondisi stabil sehingga cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas harus dilakukan. 

  1. Fase Letting Go

Fase letting go merupakan fase dimana ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai sistem dengan para anggota untuk saling berinteraksi. Hubungan dari pasangan yang meski sudah berubah karena hadirnya seorang anak akan mulai kembali memperlihatkan banyak karakteristik awal. Sedangkan untuk tuntutan utamanya adalah menciptakan sebuah gaya hidup yang melibatkan anak namun dalam beberapa hal juga tidak melibatkan anak karena pasangan harus berbagi kesenangan yang bersifat dewasa yakni faktor psikologis yang mempengaruhi persalinan. Umumnya, banyak suami istri yang kembali memulai hubungan seksual di minggu ketiga atau keempat sesudah melahirkan dan beberapa pasangan lagi bahkan ada yang memulai hubungan lebih awal yakni ketika rasa nyeri sudah tidak lagi terasa.

Fase adaptasi ibu nifas adalah taking in, taking hold dan juga letting goo yang menjadi perubahan perasaan yakni respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara bertahap sesudah ibu bisa menyesuaikan dirinya dengan peran baru dan bisa kembali tumbuh dalam keadaan normal. Meski beberapa perubahan tersebut memang akan terjadi, akan tetapi sebaiknya ibu tetap menjalani ikatan batin dengan bayi pada saat awal. Sejak ada dalam kandungan, bayi hanya mengenal ibu yang bisa memberinya rasa aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah semakin berat.

Gangguan Psikologis Ibu Selama Masa Nifas

Post partum blues yang sering disebut dengan sindroma gangguan efek ringan akan sering terlihat di minggu pertama sesudah melahirkan yang  menjadi gangguan psikologi pada masa persalinan. Selain itu, akan banyak kesedihan atau murung antara 2 hari hingga 3 minggu sesudah bayi dilahirkan. Hal ini bisa terjadi karena perubahan peraan yang dialami ibu ketika kehamilan sehingga akan sulit menerima bayi mereka. Beberapa gangguan psikologis selama masa nifas diantaranya adalah:

  • Faktor biologis: Depresi postpartum yang terjadi karena hormon estrogen, progesteron dan juga prolaktin terlalu tinggi atau terlalu rendah di masa nifas atau terjadi perubahan hormon terlalu cepat atau bahkan terlalu lambat.
  • Faktor umur: Seorang perempuan yang melahirkan di usia 20 hingga 30 tahun maka bisa mendukung masalah periode. Faktor usia ini sering dihubungkan dengan kesiapan mental perempuan untuk menjadi seorang ibu.
  • Post partum psikosa: Depresi yang terjadi di minggu pertama dalam 6 minggu pasca persalinan yang terjadi karena wanita menderita bipolar disorder atau schizoaffiktif disorder sehingga sering terobsesi tentang bayi, halusinasi, kesedihan, gangguan tidur dan delusi.
  • Kemurungan masa nifas: Pengaruh faktor psikologis terhadap persalinan disebabkan karena perubahan dalam diri wanita selama hamil dan juga cara kehidupan sesudah bayi lahir sehingga akan beresiko mengalami murung yang biasanya akan hilang sesudah 2 minggu melahirkan.
  • Faktor pengalaman: Depresi pasca persalinan akan lebih sering terjadi pada primipara sebab peran peran ibu dan semua yang berhubungan dengan bayi adalah situasi yang sangat baru untuk dirinya sehingga menyebabkan stress.
  • Faktor pendidikan: Perempuan dengan pendidikan tinggi akan menghadapi tekanan sosial serta konflik peran diantara tuntutan sebagai wanita yang ingin bekerja atau beraktivitas diluar rumah dengan peran sebagai ibu rumah tangga dan orang tua.

Sponsors Link
, , , ,