Sponsors Link

13 Hakikat Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Sponsors Link

Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar mengajar tidak hanya bertujuan untuk membuat siswa menguasai ilmu pengetahuan secara akademis, melainkan juga untuk membentuk karakter siswa. Maka, dalam hal ini pendidikan karakter dinilai sangat penting untuk dilakukan di sekolah formal maupun informal. Bagaimanapun, siswa dengan karakter yang baik dan mulia akan lebih bisa mampu menjalani kehidupannya dengan lebih baik di masa depan.

ads

Dalam rangka mewujudkan pendidikan karakter yang baik, sekolah perlu menanamkan nilai-nilai norma sosial melalui setiap kegiatan di sekolah. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter siswa adalah melalui pendidikan agama, salah satunya agama Islam. Melalui pendidikan agama yang baik, siswa tidak hanya mempelajarai aturan-aturan agama melainkan juga mencakup keseluruhan nilai dan norma dalam bermasyarakat.

Agama Islam yang merupakan agama yang sempurna telah secara lengkap memberi tuntutan pada manusia, tidak hanya dalam hal beribadah melainkan juga dalam kegiatan antar sesama manusia. (Baca juga: Contoh Aplikasi Psikologi Islam dalam Ranah Pragmatis)

Lalu, apakah ada pendidikan karakter dalam Islam? Berikut ini akan dibahas 13 hakikat pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang akan bermanfaat untuk kita memandu anak-anak kita menjadi sosok berkarakter mulia. Simak terus, ya!

  1. Merupakan usaha sadar dan terencana

Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk karakter atau kepribadian, berupa penanaman moral, etika dan rasa berbudaya. Hal ini kemudian akan terlihat dari cara seorang manusia membuat keputusan, bertindak dan berinteraksi dengan sekitarnya. Dalam Islam, usaha untuk menanamkan karakter ini harus sesuai dengan ajaran Islam dalam al Quran dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Karakter adalah hasil dari proses penerapan syariat

Karakter identik dengan akhlak, moral dan etika. Seseorang yang memiliki karakter mulia akan menjaga nilai-nilai yang ada di masyarakat. Maka, dalam perspektif Islam karakter adalah hasil dari proses penerapan syariat, baik dalam ibadah dan muamalah. Penerapan syariat ini dalam Islam harus dilandasi oleh kekuatan akidah yang bersumber dari al Quran dan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Karakter ditunjukkan melalui akhlak yang baik

Menurut Ibn Miskawaih (320-421/932-1030), akhlak adalah kondisi jiwa yang menyebabkannya melakukan perbuatan tanpa berpikir atau pertimbangan lagi. Sementara itu, menurut al Ghazali (Arifin, 2002:14), akhlak adalah keadaan sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengnan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Kedua pengertian ini senada mengungkapkan bahwa dengan akhlak maka perbuatan akan muncul begitu saja karena dia telah tertanam begitu dalam pada jiwa manusia. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk akhlak yang baik pada manusia tersebut. (Baca juga: Pengertian Karakter Menurut Para Ahli)

  1. Pendidikan karakter untuk dunia dan akhirat

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, dengan karakter yang baik maka akan muncul akhlak yang baik pada manusia tersebut. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada kesuksesan orang tersebut, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dalam perspektif Islam, kita diajarkan untuk berpikir tidak hanya untuk dunia melainkan untuk akhirat.


  1. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah

Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa dan mampu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah. Dalam pendidikan karakter pun demikian, yaitu menanamkan pemahaman dalam diri manusia bahwa dirinya adalah hamba Allah yang harus senantiasa bertakwa kepada-Nya. Bukan berarti manusia pasrah pada takdir dan tidak melakukan apa-apa, namun manusia tetap harus memiliki karakter berjuang, namun menyerahkan hasilnya pada Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Pengetahuan agama memegang peranan penting dalam karakter

Melihat begitu banyaknya fenomena di masyarakat tentang kenakalan remaja, kita bisa sedikit memahami bahwa pendidikan yang berjalan saat ini kurang seimbang dalam membangun moral dan karakter anak. Pendidikan lebih banyak dititikberatkan pada kemampuan akademis saja sehingga pendidikan agama sering dianggap sebagai ‘tugas orang tua’.

Dalam Islam, hal ini dirasa kurang tepat karena dengan pengetahuan agama yang cukup, moral dan karakter akan bisa terbentuk menjadi lebih baik dan hal ini bukan hanya tugas orang tua, melainkan juga tugas sekolah serta masyarakat sekitar. (Baca juga: Urgensi Psikologi Agama dalam Pendidikan Islam)

  1. Pendidikan karakter mencakup iman dan akhlak

Menurut Syaikh Hasan al Banna, pembentukan kepribadian atau karakter dalam Islam mencakup sepuluh aspek, di antaranya adalah akhlak yang bersih, ibadah yang lurus, wawasan yang luas, fisik yang kuat, perjuangan diri sendiri, disiplin, hingga kebermanfaatan untuk orang lain.

Dari beberapa aspek itu saja terlihat bahawa pendidikan karakter dalam perspektif Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah (iman) saja, melainkan juga akhlak yang ditunjukkan dalam kehidupan bermasyarakatnya sehari-hari. (Baca juga: Kecerdasan Qalbiyah dalam Psikologi Islam)

  1. Pendidikan karakter didasarkan pada al Quran dan sunnah

Karakter seorang muslim harus diwujudkan sesuai al Quran dan sunnah. Dengan mewujudkan hal ini, maka identitas keislaman akan tampak serta bisa mewujudkan pembangunan sekaligus menyudahi kebodohan dan kemiskinan. Konsep pendidikan karakter dalam Islam identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Tidak bisa kita menanamkan karakter yang sesuai Islam jika kita tidak menanamkan ajaran dan nilai-nilai Islam itu sendiri.

  1. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting

Agar bisa menanamkan karakter mulia pada anak, peran keluarga dan lingkungan sangat penting. Keluarga, yang merupakan tempat anak berinteraksi pertama kali sejak lahir ke dunia, merupakan pendidik yang utama dan pertama. Keluarga yang baik dan memiliki karakter mulia akan lebih mungkin untuk menghasilkan anak-anak yang berkarakter mulia juga. Hal ini dikarenakan anak akan melihat keluarga sebagai contoh utama dan di sinilah anak mulai belajar untuk memiliki karakter yang serupa.

Baca juga:

Tidak berhenti di sini, lingkungan juga berperan penting dalam keberhasilan pendidikan karakter. Selain dengan keluarga, anak pasti berinteraksi dengan lingkungan sekitar, seperti tetangga ataupun teman-teman di sekolah. Hal ini secara tidak langsung juga akan memberi pengaruh terhadap karakter anak.

  1. Proses pendidikan karakter secara bertahap

Untuk mewujudkan karakter yang baik, diperlukan pembentukan karakter yang diawali dengan pembiasaan untuk bisa memberi kecakapan dalam berbuat dan bertindak. Selanjutnya, dibutuhkan penanaman pengertian atau pemahaman untuk bisa membuatnya mengerti tentang aktivitas yang akan dilaksanakan supaya terdorong untuk melakukan perbuatan positif.

Berikutnya akan dibutuhkan pembentukan kerohanian yang luhur, seperti penananaman kejujuran, toleransi, rasa ikhlas, tepat janji, dan lain sebagainya. Seluruh proses ini berjalan secara bertahap dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam Islam membutuhkan pengajaran yang kontinyu dan utuh.

  1. Keberhasilan pendidikan karakter dilihat secara keseluruhan

Keberhasilan pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya dinilai dari sebagian aspek saja. Misalnya, ketika anak sudah bisa berbuat jujur dengan tidak mencontek saat ujian, namun dia masih malas belajar dan tidak ingin berjuang, maka pendidikan karakter masih belum bisa dibilang sukses.

Pendidikan karakter dalam perspektif Islam akan dikatakan sukses ketika seorang manusia telah memenuhi, atau setidaknya mencoba memenuhi, seluruh aspek iman dan akhlak yang telah disebutkan sebelumnya.

  1. Sifat sabar dan pemaaf menjadi cermin karakter mulia

Dalam al Quran terdapat banyak contoh akhlak baik yang disebutkan sebagai bahan rujukan dalam membentuk karakter mulia. Salah satu contoh karakter yang paling menonjol dalam pribadi muslim adalah sifat sabar dan pemaaf. Dalam al Quran surat al Imran ayat 134, Allah berfirman, “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

  1. Manusia terbaik adalah yang memiliki karakter baik

Jika sebelumnya telah dibahas bahwa karakter memiliki kaitan yang sangat erat dengan akhlak, maka kini kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang yang memiliki karakter baik adalah manusia yang terbaik. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R. Bukhari). (Baca juga: Hakikat Manusia dalam Psikologi Islam)

Dari pembahasan yang cukup panjang di atas, kini kita bisa memahami bahwa hakikat pendidikan karakter dalam perspektif Islam adalah pendidikan yang secara menyeluruh, tidak hanya dalam hal ibadah dan moral di masyarakat, melainkan juga mencakup wawasan yang luas dan kemauan untuk berjuang.

Maka, dalam Islam pendidikan karakter adalah hal yang sangat penting dan harus menjadi fokus tersendiri dalam pendidikan anak.

Sponsors Link
, , , ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Agama