Sponsors Link

15 Cara Mengatasi Gangguan Bahasa Ekspresif Sejak Dini

Sponsors Link

Orang yang mengalami gangguan bahasa mempunyai kesulitan untuk mengekspresikan diri mereka dan mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Hal ini tidak berhubungan dengan masalah pendengaran. Kelainan berbahasa, yang lebih dikenal dengan gangguan berbahasa reseptif – ekspresif merupakan hal yang umum  terjadi di kalangan anak kecil. Gangguan ini timbul pada 10-15 persen anak yang berada di bawah usia 3 tahun. Pada usia 4 tahun, kemampuan berbahasa pada umumnya lebih stabil dan bisa dilihat dengan lebih akurat untuk menentukan apakah masih ada kekurangannya.

ads

Anak – anak yang mengalami gangguan bahasa ekspresif mengalami kesulitan untuk mengekspresikan dirinya melalui pembicaraan, tulisan atau gestur. Beberapa anak memang terlambat untuk mencapai titik capai perkembangan bahasa mereka dalam  tiga tahun pertama, namun mereka pada akhirnya akan mengejar dan mereka ini adalah anak – anak yang disebut sebagai ‘telat bicara’. Anak – anak yang terus mengalami kesulitan dengan ekspresi verbal bisa jadi didiagnosa dengan gangguan bahasa ekspresif atau gangguan bahasa lainnya.

Menangani Gangguan Bahasa Ekspresif di Rumah

Komunikasi merupakan kemampuan dasar manusia yang paling penting dan sangat dimaklumi apabila gangguan berbahasa menjadi sumber kecemasan para orang tua untuk anak – anaknya. Tentunya para orang tua takut apabila seseorang yang mengalami kendala dalam tahap perkembangan bahasa pada anak tersebut tidak akan dapat mencapai sukses atau mengembangkan hubungan yang berarti dengan orang lain. Kelainan berbahasa merupakan masalah belajar yang serius, namun sangat mungkin untuk diatasi khususnya jika dimulai sejak awal. Cara mengatasi gangguan bahasa ekspresif di rumah antara lain bisa dilakukan dengan beberapa langkah berikut ini:

1. Memastikan anak mengerti

Seseorang yang mengalami kesulitan untuk menemukan kata – kata yang ingin diucapkan atau kesulitan membentuk kalimat terstruktur, seringkali juga mengalami kesulitan untuk mengerti kosa kata dan juga tata bahasa. Jika berkomunikasi dengan orang yang mengalami gangguan bahasa ekspresif, pastikan bahwa Anda mengerti apakah ia mengerti mengenai isi pembicaraan yang disampaikan. Memastikan anak paham pembicaraan orang lain juga merupakan cara mengatasi gangguan perkembangan bahasa pada anak.

2. Berikan waktu

Semua orang terkadang bisa merasa tertekan jika dipaksa untuk mengatakan sesuatu secepatnya, dan memerlukan waktu untuk memproses apa yang hendak mereka katakan. Kegugupan atau tekanan justru akan membuat anak membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk merumuskan ucapannya. Berikan waktu kepada anak untuk memikirkan apa yang ingin dia sampaikan jika memungkinkan, agar ia tahu bahwa tidak ada keharusan untuk terburu – buru. Tunjukkan bahwa Anda memberinya waktu dengan ucapan Anda atau gerak – gerik tubuh Anda.

3. Ajukan komentar dan bukannya pertanyaan

Anda mungkin ingin memancing atau mendorong sang anak untuk berbicara dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya. Dalam satu sisi hal tersebut bisa berpengaruh, namun jika pertanyaan Anda terlalu banyak maka bisa saja akan terasa seperti suatu interogasi yang membuatnya tidak nyaman dan merasa ditekan untuk berbicara, akibatnya anak justru akan tutup mulut. Seringkali cara yang peling baik justru hanya memberi komentar mengenai apa yang sedang ia lakukan atau apa yang sedang terjadi. Misalnya, ketika anak sedang bermain, Anda bisa memberi komentar sederhana tentang mainannya. Dengan demikian Anda justru akan memberi anak tambahan kosa kata dan frasa yang mungkin saja ingin mereka lakukan dalam cara yang jauh lebih tidak memberi tekanan kepada anak.

4. Beri contoh

Perkembangan bahasa anak usia dini akan berkembang apabila ia mendapatkan contoh yang benar. Tunjukkan kepada anak bagaimana cara untuk mengatakan berbagai hal bukan dengan cara mengoreksi ketika mereka salah, namun dengan mengulangi apa  yang mereka katakan dengan kata yang benar sehingga anak dapat mendengar contoh yang bagus. Ulangi apa yang anak katakan dengan susunan kalimat atau kata – kata yang benar dari mulut Anda sendiri, tidak perlu mengatakan kepada anak jika ia salah mengucapkan sesuatu.

5. Tambahkan beberapa kata

Ketika Anda sedang mengulangi suatu kata atau kalimat kepada anak, tambahkan satu atau dua kata kepada kalimat  yang tadinya mereka ucapkan. Tujuannya untuk menunjukkan kepada anak bahwa ada pilihan yang lebih banyak atau staruktur kalimat yang lebih lengkap daripada yang biasa mereka katakan. Misalnya, jika anak mengatakan “Duduk di kursi” maka Anda bisa menambahkan kepada anak seperti, “iya, adik sedang duduk di kursi.”

6. Berikan pilihan

Seorang anak dengan kesulitan bahasa ekspresif seringkali mengerti apa yang harus dia jawab ketika diberi pertanyaan, namun ia tidak tahu bagaimana mengatakannya karena tidak dapat memikirkan kata – kata yang diperlukan. Berilah mereka pilihan kata – kata atau petunjuk untuk membimbing mereka ke kosa kata yang ingin diucapkan dan juga untuk membentuk kecerdasan linguistik mereka. Misalnya, tanyakan apakah mereka lebih suka warna biru atau merah daripada menanyakan warna favorit mereka.

7. Gunakan cara lain untuk berkomunikasi

Cara mengatasi gangguan bahasa ekspresif juga dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi selain berbicara atau selain menggunakan kata – kata. Cara lain tersebut bisa juga berupa isyarat, gerak tubuh atau gestur, gambar, buku atau alat lainnya. Cara apapun yang Anda coba untuk mendorong anak menggunakan kata – kata baru akan lebih efektif jika Anda juga mempraktekkannya sendiri. Ketahui juga peran kognisi dalam perkembangan bahasa, hubungan psikolinguistik dengan pemerolehan bahasa, hubungan psikologi linguistik dan psikolinguistik .

8. Gunakan konteks

Bahasa apapun yang perlu dipelajari anak, cara terbaik untuk mempelajarinya adalah dengan konteks. Jika Anda berusaha mengajarkan kalimat bentuk lampau, cara terbaik adalah dengan berbicara mengenai hal – hal yang baru saja terjadi. Jika Anda berusaha mengajarkan ungkapan, cara terbaik adalah dengan menggunakannya sehari – hari dalam konteks yang sesuai dengan situasi saat itu lalu beri penjelasan mengenai apa artinya. Gunakan kosa kata tertentu yang ingin diajarkan sesering mungkin dalam konteks yang tepat. Semakin sering anak mendengar kata tertentu dalam suatu konteks, lebih mungkin kata tersebut akan tersimpan di otaknya dan diingat. Peran bahasa Indonesia dalam pendidikan karakter generasi muda yang digunakan dengan baik dan benar sangat penting sebagai bagian dari identitas kebangsaan mereka sejak lahir. 


9. Belajar sambil bermain

Anda juga dapat melakukan cara mengatasi gangguan bahasa ekspresif pada anak dengan bermain bersama. Bergabunglah dalam kegiatan bermain anak secara rutin, beri contoh kepada anak bagaimana cara menggunakan mainannya, ikuti permainan anak dan bicarakan mengenai apa yang anak lakukan dengan mainannya, apa yang akan Anda lakukan dengan mainannya, dan lain sebagainya.

10. Minimalkan suara – suara gangguan

Gangguan yang berasal dari suara – suara di dalam rumah seperti suara televisi, radio atau musik, hingar bingat orang berbicara keras juga dapat menyulitkan anak untuk berkonsentrasi mengingat kosa kata yang hendak diucapkannya. Usahakan untuk menghilangkan berbagai kebisingan yang mengganggu proses belajar bicara anak atau yang bisa mengalihkan fokusnya.

11. Berbicara berhadapan

Ketika bicara dengan anak, usahakan untuk menatap matanya dan bicara berhadapan sehingga anak dapat melihat gerak bibir Anda dan meniru kata yang Anda ucapkan. Dengan demikian anak akan lebih mudah meniru bagaimana cara bibir atau mulut orang lain memproduksi suatu kata, dan pada akhirnya anak akan mengetahui bagaimana cara pengucapan kata – kata tersebut dengan tepat.

12. Jangan menyelesaikan ucapan anak

Sebagai orang tua pastinya Anda sering merasa tidak tahan untuk menyelesaikan kalimat anak ketika ia kelihatan kesulitan untuk mengatakan sesuatu dengan lengkap. Namun dorongan tersebut sebaiknya ditahan untuk membantu anak membangun kepercayaan dirinya dan belajar bahwa ia tidak dapat selalu bergantung kepada orang lain untuk berkomunikasi. Membiarkan anak menyelesaikan kalimatnya sendiri bisa berarti bahwa Anda memberikan dorongan kepada anak untuk mencoba.

Terapi untuk Mengatasi Gangguan Bahasa Ekspresif

Banyak orang tua yang anaknya mengalami gangguan bahasa ekspresif memilih untuk memperbaiki gangguan tersebut dengan cara terapi. Terapi yang bisa dilakukan  untuk cara mengatasi gangguan bahasa ekspresif tersebut antara lain:

1. Terapi Individu

Terapi ini paling baik digunakan untuk kasus gangguan berbahasa berat yang memerlukan perhatian individual. Anak – anak dengan kondisi yang berhubungan seperti ADHD atau gangguan belajar juga akan mendapatkan manfaat dari terapi ini. Cara ini juga bekerja dengan baik untuk keluarga dengan jadwal yang sibuk sehingga tidak memungkinkan untuk membantu anaknya mengatasi gangguan tersebut di rumah. 


2. Terapi Grup

Model terapi ini bisa menjadi yang paling membantu dan merupakan pilihan yang produktif untuk banyak anak usia dini yang mengalami gangguan bahasa. Tidak ada dua anak yang mengalami gangguan bahasa identik, karena itu terapi grup memungkinkan seorang anak untuk memahami hambatan tiap anak lainnya dan bekerja sama dengan anak lain yang memiliki kekuatan dan kelemahan berbeda dalam berbahasa. Sangat penting agar anak dapat terlibat dan bekerja sama dengan anak seusianya dalam terapi kelompok, sebab berkumpul dalam terapi dengan anak yang lebih muda atau lebih tua dapat merusak kepercayaan diri anak, menyebabkannya mengalami kemunduran atau kontraproduktif.

3. Terapi dalam kelas

Mungkin ada diantara para orang tua yang khawatir bahwa terapi untuk anaknya akan menyita terlalu banyak waktu untuk sekolah atau takut mengalami perundungan karena gangguan berbahasanya. Jika demikian, biasanya ada solusi lainnya seperti mendatangkan terapis ke ruang kelas untuk bekerja sama dengan guru dalam waktu tertentu, namun hal ini bisa terpenuhi apabila sekolah memiliki fasilitas dukungan yang memadai. Karena guru terapi kemungkinan tidak dapat datang dalam waktu yang intensif, maka metode ini bisa jadi kurang cocok bagi anak yang secara intelektual tidak bermasalah. Oleh karena itu, metode ini lebih cocok jika digunakan oleh anak yang secara intelektual juga memerlukan terapi.

Cara mengatasi gangguan bahasa ekspresif pada anak bisa dilakukan orang tua dengan mempelajari mengenai kesulitan atau gangguan yang dialami anak. Membekali diri dengan pengetahuan mengenai gangguan bahasa ekspresif akan membantu orang tua agar dapat lebih memahami apa yang dialami anak dan membantu untuk memahami langkah – langkah yang harus dilakukan. Untuk orang tua yang anaknya mengalami gangguan bahasa ekspresif, berbicara merupakan satu faktor sangat penting yang perlu terus menerus dilakukan agar anak bisa mendapatkan manfaatnya antara lain dengan pertambahan kosa kata dan juga cara merangkai suatu kalimat dengan benar. Hal ini juga dapat dilakukan melalui nyanyian yang mengandung kosa kata baru, sebab kata – kata yang diulang bisa membuat anak teringat dan menerapkannya dalam caranya berbicara.

Sponsors Link
, ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Anak