Sponsors Link

Teori Meniru Dalam Psikologi Dari Albert Bandura

Sponsors Link

Albert Bandura lahir di Mundare Northern Alberta Kanada yang mendapatkan gelar master bidang psikologi yang kemudian terjun dalam bidang teori dalam psikologi klinis. Bandura meneliti mengenai tingkah laku manusia dan tertarik dengan nilai eksperimen yang kemudian juga mendapat American Psychological Association di tahun 1980. Dalam penelitian berikutnya, Bandura bertemu dengan Robert Sears yang kemudian belajar tentang pengaruh keluarga pada tingkah laku sosial dan juga proses identifikasi. Mulai saat itu, Bandura meneliti tentang agresi pembelajaran sosial dan mengangkat murid pertamanya yakni Richard Walters untuk mendapatkan gelar doctor sebagai asistennya. Bandura mengungkapkan pendapatnya jika meski prinsip belajar sudah cukup menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, akan tetapi prinsip harus memperhatikan tentang dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak paradigma behaviorisme. Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial  yakni ,manusia belajar tentang sesuatu dengan cara meniru orang lain dan salah satu konsep dalam aliran behaviorisme menekankan pada komponen kognitif serta pemikiran, pemahaman dan juga evaluasi. Berikut adalah ulasan mengenai teori meniru dalam psikologi selengkapnya untuk anda.

ads

Definisi Teori Meniru

Social learning theory yang merupakan salah satu dari cabang cabang psikologi menurut Bandura adalah manusia yang belajar akan sesuatu dengan cara meniru perilaku dari orang lain yang artinya jika seseorang akan belajar dengan cara mengamati orang lain. Bandura menyatakan jika teori social learning tidak diciptakan untuk menggantu classical dan operant namun sebagai penyempurna kedua teori yang sudah ada karena classical dan operant conditioning bisa terjadi selama proses meniru tersebut sedang terjadi. Teori social learning ini juga disebut dengan observational learning yang memiliki arti sama.

Perkembangan Social Learning Theory

Bandura sebagai seorang behavioristik ini percaya jika perkembangan teori belajar kognitif tidak cukup menjelaskan perilaku pada anak. Ia meyakini jika proses meniru juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan dari anak. Akan tetapi Bandura juga merasa jika kemampuan kognitif juga berpengaruh terhadap proses belajar khususnya ketika ia melihat eksperimen boneka bobo dimana seorang anak memperlihatkan perilaku berbeda ketika diperlihatkan sebuah tayangan.

Psikologi behavioristik atau belajar dengan cara meniru ini memiliki empat batasan, yakni:

  • Mengabaikan teori teori motivasi dan juga proses kognitif.
  • Berdasarkan penelitian terhadap hewan.
  • Mengabaikan dimensi sosial.
  • Beranggapan jika manusia merupakan organisme pasif yang tidak bisa memilih.

Social learning theory atau teori belajar sosial merupakan pengembangan dari karya Cornell Montgomery dimana ia mengajukan pemikiran jika belajar sosial terjadi lewat empat tahap, yakni:

  • Kontak dekat
  • Perilaku model peran
  • Imitasi terhadap pihak yang superior
  • Memahami konsep perilaku yang akan ditiru.

Dalam social learning dan clinical psychology yang merupakan salah satu macam macam psikologi khusus ini, Julian Rotter menyatakan jika efek sebuah perilaku bisa mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan hal yang sama. Individu akan cenderung menghindari sesuatu yang berdampak negatif sekaligus juga menginginkan hasil yang positif. Apabila seseorang mengharapkan keluaran positif dari sebuah perilaku atau berpikir jika ada kemungkinan untuk mendapatkan imbalan positif, maka kemungkinan juga akan mau melakukan perilaku tersebut.

Macam macam tingkah laku dalam psikologi tersebut di reinforce dengan keluaran positif sehingga membuat individu cenderung mengulang perilaku untuk mendapatkan imbalan kembali. Teori Albert Bandura lalu melengkapi pemikiran Rotter dan juga melengkapi karya Miller dan Dollard. Bandura berpendapat jika manusia bukan makhluk yang hanya meniru apapun yang dilihat akan tetapi manusia juga bisa memilih perilaku yang mana yang akan diambil dan juga yang dibuang.

Bandura kemudian menyempurnakan macam macam metode pembelajaran sosial dengan cara menambahkan aspek perilaku dan kognitif. Behavioral learning atau belajar perilaku mengartikan jika lingkungan membuat seseorang akan melakukan perlikau tertentu. Belajar kognitif mengartikan jika faktor psikologi juga memiliki andil dalam mempengaruhi seseorang berperilaku. Manusia bisa meniru perilaku akan tetapi juga bisa memilih dan memilah perilaku apa yang mau dipelajari. Kecakapan memilah dan memilih inilah aspek kognitif yang dimaksud. Kesimpulannya, Bandura menyatakan jika teori belajar sosial merupakan kombinasi lingkungan dan faktor kognitif.

Konsep Dasar Social Learning Theory Bandura

Teori belajar sosial sudah menjelaskan jika manusia belajar dari observasi orang lain. Dengan kata lain, apa yang manusia ketahui didasarkan dari penjelasan yang diberikan orang lain pada diri sendiri. Manusia memang akan selalu belajar menggunakan cara belajar efektif menurut psikologi seperti salah satunya belajar dari orang lain. Beberapa cara manusia memahami suatu hal menggunakan social learning theory diantaranya adalah:

  1. Harapan

Harapan merupakan konsep pertama dalam jenis jenis metode pembelajaran sosial. Harapan atau ekspektasi mengartikan jika pengetahuan seseorang harus bisa mewujudkan apa yang diinginkan dari lingkungan dan kepercayaan terhadap sesuatu harus sesuai dengan kepercayaan dari lingkungan. Sebagai contoh, jika kita mengacungkan ibu jari untuk masyarakat Indonesia, Korea atau Jepang, maka ini menjadi pertanda. Akan tetapi jika mengacungkan ibu jari di Brazil, maka ini menandakan pelecehan pada orang lain secara seksual. Ini disebabkan karena mengacungkan ibu jari di Brazil berbeda dengan Indonesia dan tidak digunakan sebagai tanda setuju. 


  1. Belajar Obsevasional

Belajar observasional mengartikan seseorang mendasari pengetahuannya dengan cara mengobservasi orang lain pada lingkungan sehingga akan ada hubungan perilaku dengan sikap. Seseorang akan mengenali perilaku orang lain, menyesuaikan dengan diri sendiri dan kemudian meniru perilaku tersebut di masyarakat. Semua yang sudah diketahui tersebut juga berasal dari perilaku orang yang ada disekitarnya. Sebagai contoh kata “pantek” di beberapa kota mengartikan pengeboran manual untuk menggali sumur. Sedangkan di beberapa kota Sumatera mengartikan makian. Untuk itu orang yang berasal dari Sumatera akan terkejut ketika mendengar kata tersebut. Akan tetapi jika diobservasi dengan bai, maka ia akan sadar jika kata tersebut memiliki arti yang berbeda.

  1. Kapabilitas Behavioral

Kapasitas behavioral merujuk pada fakta jika pengetahuan seseorang sangat dibutuhkan agar bisa mempengaruhi perilaku. Meski perilaku orang lain bisa berpengaruh, namun selama perilaku diri sendiri tidak terpengaruh sampai sadar, mkaa barulah perilaku agar bisa diterima masyarakat bisa diubah. Seorang anak mungkin saja tidak sadar ketika teriak di dekat orang tidaklah sopan hingga seseorang menegur anak tersebut. Jika anak tersebut tidak mendapat respon negatif, maka tentunya ia akan terus melakukan hal tersebut karena ia tidak sadar. Namun ketika sudah diberikan respon negatif atau punishment, maka barulah anak tersebut bisa berhenti sebab sudah mengetahui macam macam gaya belajar perilaku. Ketika seseorang mendapatkan respon negatif, maka ia akan mengetahui jika perilaku yang ia lakukan tidaklah baik dan disinilah kapasitas behavioral bermain. 

  1. Self Efficacy

Self efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan seseorang terhadap diri sendiri. Apabila seseorang yakni dengan pengetahuan yang dimiliki, maka ia akan bertindak atas dasar pengetahuannya tersebut dan akan dilakukan dengan percaya diri. Sebagai contoh ketika mengacungkan ibu jari dan ada orang Brazil yang marah karena perilaku tersebut, maka tentunya akan membuat pelaku heran dan mulai ragu ragu dengan pengetahuan yang dimiliki. Semakin banyak orang yang marah, maka seseorang semakin paham jika mengacungkan ibu jari tersebut adalah hal yang salah dan tidak melakukannya kembali sekaligus mengembangkan manfaat berpikir positif.

  1. Determinisme Resiprokal

Determinisme resiprokal merupakan orang yang saling meniru perilaku ketika sedang berinteraksi. Pada saat seseorang ada dalam sebuah lingkungan, maka ia akan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Sebagai contoh ketika bertemu dengan guru atau dosen dan mungkin berbicara tentang tugas, maka seseorang akan memakai kata saya dan nada bicara yang juga rendah. Namun ketika berbicara dengan teman, maka kemungkinan akan berbicara lebih santai baik nada dan juga bahasa berdasarkan macam macam sifat manusia.

  1. Reinforcement

Reinforcement merupakan respon yang berasal dari orang lain yang bisa memperkuat atau bahkan melemahkan sebuah perilaku. Sebagai contoh jika seorang wanita memakai pensil alis dengan baik dan mendapat pujian, maka ia akan terus memakai pensil alis tersebut. Namun ketika ada orang yang menghina, maka kemungkinan besar ia juga akan berhenti memakai pensil alis tersebut.

  1. Proses Mediasi Social Learning Theory

Bandura mengatakan jika manusia sebenarnya merupakan prosesor aktif. Manusia tidak hanya meniru namun juga memikirkan konsekuensi dari perilaku yang akan ditiru tersebut seperti dalam psikologi sosial. jika perilaku tidak bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri, maka ia tidak akan meniru hal tersebut. Namun ketika perilaku tersebut memberi dampak positif, maka ia akan meniru perilaku tersebut. Seseorang nantinya juga tidak akan sembarang melihat serta meniru perilaku dan ada proses pertimbangan yang dilakukan di antara proses observasi dan juga proses meniru. Bandura berpendapat jika ada tiga model yang akan ditiru dalam observational atau social learning, yakni:

  • Model langsung: Seseorang yang nyata berada di dekat peniru dan melakukan sebuah perilaku.
  • Model instruksi verbal: Seseorang menyebutkan perilaku dan juga ciri ciri dengan detail.
  • Model simbolik: Karakter baik nyata atau fiktif yang memperlihatkan perilaku lewat media bisa berbentuk film, video atau buku.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Sosial