Sponsors Link

12 Faktor Eksternal dalam Perkembangan Mental Remaja

Sponsors Link

Pada dasarnya,fase remaja adalah tahapan dari sebuah perkembangan sebelum masa dewasa. Secara usia menurut  UNFPA seseorang dikatakan masuk dalam usia remaja adalah antara 10-24 tahun, dan jika sudah melewati dari batas usia tersebut, bisa dikatakan seseorang tersebut sudah memasuki pada masa dewasa awal.

ads

Dalam setiap perjalanannya, tidak jarang remaja mengalami sebuah permasalahandalam proses sebuah pembuktiannya.Hal tersebut juga akan sangat alamiah akan dialami oleh semua remaja atau yang mungkin lebih sering dikenal dengan masa-masa pubertas.

Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja mudah berubah-ubah dengan cepat belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Pada masa remaja, terjadi perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri (self-awareness). Sangat rentan terhadap pendapat orang merupakan salah satu contoh kendala yang remaja seperti Sahabat GueTau mungkin alami. Remaja yang cenderung menganggap diri sendiri sangat unik dan bahkan percaya keunikan tersebut akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.

Faktor eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi mental seseorang. Lingkungan eksternal yang paling dekat dengan seorang manusia adalah keluarga seperti orang tua, anak, istri, kakak, adik, kakek-nenek, dan masih banyak lagi lainnya.

Faktor eksternal dalam perkembangan mental remaja yang lainnya yaitu seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pemerintah, pendidikan, pekerjaan, masyarakat, dan sebagainya. Faktor eksternal yang baik dapat menjaga mental seseorang, namun faktor external yang buruk / tidak baik dapat berpotensi menimbulkan mental tidak sehat.

Dibawah ini beberapa faktor eksternal dalam perkembangan mental remaja :

1.Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan faktor utama yang berperan sebagai pengaruh seseorang dalam membentuk mental dan potensi diri. yang nantinya akan menjadi jembatan antara individu dengan lingkungan masyarakat disekitarnya.

Ketidakharmonisan hubungan keluarga akan berdampak kepada psikologis si anak, sehingga anak akan lari dari lingkungan rumah menuju lingkungan pergaulan yang berbahaya. Disamping masalah keharmonisan rumah tangga, juga ada satu faktor yang banyak sekali orang luput dari masalah ini, yakni tontonan yang mendidik. (Baca juga peranan psikologi perkembangan dalam perubahan sikap dan perilaku)

2. Pola Asuh Keluarga

Proses sosialisasi sangat dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga.

  • Sikap orang-tua yang otoriter.
  • Sikap orang-tua yang “permisif “.
  • Sikap orang-tua yang selalu membandingkan anak-anaknya.
  • Sikap orang-tua yang berambisi dan selalu menuntut anaknya.
  • Orang-tua yang “ demokratis “.

3. Kondisi Keluarga

Hubungan orang-tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap perkembangan kepribadian anak sebaliknya, Orang tua yang sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak akan “ melarikan diri “ dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena perceraian, kematian, dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. (Baca juga kedudukan psikologi perkembangan dalam sistematika psikolog)


4. Pendidikan Moral dalam Keluarga

Pendidikan moral dalam keluarga adalah upaya menanamkan nilai–nilai akhlak atau budi pekerti kepada anak dirumah. Penanaman nilai-nilai budi pekerti dalam keluarga dapat dilakukan melalui keteladanan orang-tua atau orang dewasa. Bacaan yang sehat , pemberian tugas, dan komunikasi efektif antar anggota keluarga. (Baca juga perkembangan moral dalam psikologi pendidikan)

Sebaliknya, apabila keluarga tidak peduli terhadap hal ini, misalnya membiarkan anak tanpa komunikasi dan memperoleh nilai diluar moral agama dan sosial, membaca buku dan menonton VCD porno, bergaul bebas, minuman keras, merokok akan berakibat buruk terhadap perkembangan jiwa remaja.

5. Faktor Ekonomi

Faktor eksternal dalam perkembangan mental remaja yang selanjutnya ialah faktor ekonomi. Ekonomi merupakan sesuatu yang dijadikan sebagai tolok ukur seseorang didalam kehidupan bermasyarakat. Ekonomi yang minim dapat mempengaruhi seseorang untuk berbuat lebih karena sikap apatis mereka untuk tidak berusaha agar lebih baik dan lebih memilih jalan lainnya salah satunya sebagai pengedar narkotika. (Baca juga perkembangan psikologi masa dewasa dini)

6. Faktor Lingkungan masyarakat

Masyarakat merupakan faktor terpenting dimana seseorang tumbuh dan dibesarkan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnaya. jika seorang individu tumbuh dan berkembang dilingkungan yang kurang baik maka individu tersebut akan mewarisi hal yang sama dari lingkungan mereka dibesarkan begitupula sebaliknya.

7. Peran Masyarakat

Apabila manusia hendak hidup secara damai di masyarakat, maka sebaiknya kedua nilai yang merupakan pasangan tadi diserasikan akan tetapi kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa nilai materi mendapat tekanan lebih besar daripada nilai non-materi atau spiritual. hal ini terbukti dari kenyataan bahwa sebagai tolok ukur peranan seseorang dalam masyarakat adalah kebendaan dan kedudukan.

8. Faktor Media Masa

Media masa juga menjadi salah satu faktor eksternal dalam perkembangan mental remaja. Media masa diera sekarang sangatlah luarbiasa, perkembangan teknologi yang sangat pesat dapat mempengaruhi seseorang jika tidak pandai dalam mengikuti arus perkembanganya (menggunakan sebagai hal yang positif).

Penggunaan teknologi dan media sosial yang harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, karena pada jaman sekarang sangat sulit menemukan para remaja yang tidak menggunakan smartphone apalagi tidak mempunyai akun di media sosial seperti facebook dan twitter kecuali para remaja di wilayah yang terisolasi dari wilayah perkotaan, di desa terpencil maupun di wilayah terluar / perbatasan indonesia dan negara tetangga.

9. Susunan Sekolah

Prasyarat terciptanya lingkungan kondusif bagi kegiatan belajar mengajar adalah suasana sekolah, Baik buruknya suasana sekolah sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, komitmen guru, sarana pendidikan dan disiplin sekolah Suasana sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental remaja.

10. Bimbingan Guru

Di sekolah remaja menghadapi beratnya tuntutan guru, Orang tua dan saratmya kurikulum sehingga dapat menimbulkan beban mental. Dalam hal ini peran wali kelas dan guru pembimbing sangat berart.i Apabila guru pembimbing sebagai konselor sekolah tidak berperan, maka siswa tidak memperoleh bimbingan yang sewajarnya. Untuk menyalurkan minat, bakat dan hobi siswa, perlu dikembangkan kegiatan ekstrakurikuler dengan bimbingan guru.

11. Lingkungan Teman Sebaya

Remaja lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya, Jadi dapat dimengerti bahwa sikap, Pembicaraan, minat, Penampilan dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga misalnya, jika remaja mengenakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi lebih besar Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol.


12. Rokok dan Zat Adiktif

Rokok atau zat adiktif lainnya, maka remaja cenderung mengikuti tanpa mempedulikan akibatnya. Didalam kelompok sebaya, remaja berusaha menemukan dirinya. Disini ia dinilai oleh teman sebayanya tanpa mempedulikan sanksi–sanksi dunia dewasa. Kelompok sebaya memberikan lingkungan yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi dimana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman seusianya.

Sponsors Link
, , , ,