Sponsors Link

10 Fakta Abraham Maslow, Tokoh Berjasa di Bidang Psikologi

Sponsors Link

10 Fakta Abraham Maslow, Tokoh Berjasa di Bidang Psikologi

ads

1. Lahir

Abraham Maslow lahir dan besar di Brooklyn, New York. Abraham Maslow adalah anak sulung dari tujuh bersaudara, dan dianggap “nggak stabil” secara emosional oleh psikolog. Orang tua Abraham Maslow adalah imigran dari Rusia. Orang tua Abraham Maslow cenderung kasar dan kurang berpendidikan. Baca juga mengenai : alasan kenapa bernostalgia bisa menyehatkan mental

2. Kondisi Ayah

Abraham Maslow lalu tumbuh besar dengan banyak masalah di keluarganya. Dia sering berdebat dengan ayahnya. Malah, ayahnya sering merendahkan Abraham Maslow kecil, dan memaksanya untuk menguasai bidang yang Abraham Maslow nggak suka. Baca juga mengenai : alasan pentingnya keluarga dalam menjaga kesehatan mental

Ayah Abraham Maslow sering mabok, main cewek, dan berkelahi, dan sering mengatai anaknya bodoh dan tolol. Komentar komentar semacam ini berpengaruh ke self image Abraham Maslow dong ya.
Karena hal ini, Abraham Maslow kecil kalau naik komuter sering mencari gerbong kosong, supaya dia nggak ketemu orang lain. Baca juga mengenai : alasan tidak boleh mengabaikan gangguan mental

3. Kondisi Ibu

Ibunya Abraham Maslow pun sama aja. Malah lebih parah. Abraham Maslow kecil punya kebencian yang dalam pada ibunya, bahkan nggak mau ngobrol atau berinteraksi dengannya. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan ibunya Abraham Maslow yang menggembok pintu kulkas, dan cuma membukanya kalau dia pengen sesuatu. Baca juga mengenai : dampak prostitusi bagi kesehatan mental wanita

Pernah, Abraham Maslow kecil memungut anak kucing dari jalan. Abraham Maslow mau merawat dan memelihara anak kucing itu. Tapi apa daya, ibunya melihat Abraham Maslow kecil ngasih susu ke anak kucing tersebut. Ibu Abraham Maslow mengamuk, anak kucing itu dibanting dan kepalanya dihantamkan ke dinding. And yes, Abraham Maslow kecil melihat semua itu. Baca juga mengenai : pentingnya olahraga untuk kesehatan mental

Abraham Maslow menganggap ibunya nggak punya hati dan nggak punya cinta. Ia nggak punya tanda tanda kasih sayang atau cinta pada siapapun, bahkan pada keluarganya sendiri. Dalam biografinya, Abraham Maslow menulis

“What I had reacted to was not only her physical appearance, but also her values and world view, her stinginess, her total selfishness, her lack of love for anyone else in the world – even her own husband and children – her narcissism, her Negro prejudice, her exploitation of everyone, her assumption that anyone was wrong who disagreed with her, her lack of friends, her sloppiness and dirtiness…” Ini menunjukkan betapa buruknya sang ibu di mata Abraham Maslow.

4. Lingkungan

Lingkungan Abraham Maslow pun juga bukan lingkungan yang baik. Layaknya ras yahudi pada masanya, Abraham Maslow kerap mengalami diskriminasi anti Semit dari guru dan anak anak di sekitar lingkungannya. Abraham Maslow kecil juga sering dikejar kejar dan dilempari batu oleh geng anti Semit.

Hidup memang gak gampang buat Abraham Maslow. Ia bocah yahudi kecil, yang tinggal di lingkungan anti yahudi. Di rumah pun, orang tuanya nggak menjadi pelindung yang baik. Karenanya, Abraham Maslow memilih “tinggal dan mengungsi” di buku buku. Abraham Maslow merasa nyaman dengan membaca buku. Makanya, dia sering menghabiskan waktu di perpustakaan (Hall, 1968, hlm. 37).

5. Kebencian pada Orang Tuanya

Abraham Maslow juga nggak pernah berdamai dengan ibunya. Kebencian ini terus tumbuh seiring bertambah dewasanya Abraham Maslow. Bahkan saat dia sudah jadi psikolog pun, Abraham Maslow nggak mau datang ke pemakamannya. Tapi Abraham Maslow sempat bertemu dan berdamai sama ayahnya. Pada akhir hayat ayahnya, mereka sempet menjalin hubungan yang bukan dekat, namun cukup hangat untuk ukuran dua orang dewasa.


6. Masa SMA dan Kuliah

Abraham Maslow kemudian bersekolah di Boys High School, salah satu SMA paling bagus di Brooklyn. Di sekolah ini, dia aktif di berbagai organisasi, dan kerja juga sebagai editor Latin Magazine. Dia juga menjadi editor di majalah sekolah Principia.

Saat muda, Abraham Maslow yakin kalau karakter sejati cowok adalah punya fisik yang kuat. Makanya, Abraham Maslow muda sering olahraga dan angkat berat, supaya dia keliatan berotot. Namun, Abraham Maslow gagal untuk yang ini.

As a young boy, Abraham Maslow believed physical strength to be the single most defining characteristic of a true male; hence, he exercised often and took up weight lifting in hopes of being transformed into a more muscular, tough looking guy, however, he was unable to achieve this due to his humble looking and chaste figure as well as his studiousness.

Abraham Maslow kemudian ambil kuliah. Dia mengambil studi ilmu hukum, namun hampir mengundurkan diri karena nggak suka. Pada 1927 dia pindah kuliah ke Cornell, tapi nggak betah juga karena biayanya mahal. Ia lalu menyelesaikan kuliahnya di City College, dan melanjutkan kuliah untuk mempelajari psikologi.

7. Menikah

Di 1928, ia menikahi sepupunya, Bertha yang waktu itu masih SMA. Abraham Maslow dan Bertha kemudian punya dua anak, Ann dan Ellen. Abraham Maslow pernah bilang bahwa menikah dengan Bertha adalah titik balik hidupnya. Mereka tetap bersama hingga maut memisahkan.

8. Karya Karya Psikologi

Di Universitas Winconsin, Abraham Maslow memfokuskan psikologinya pada experimental behaviorist.Dia memfokuskan penelitiannya pada perilaku dominasi primata dan kaitannya dengan seksualitas. Fokus Abraham Maslow pada behavioristik dan pengalaman masa kecilnya, membuat Abraham Maslow punya mindset positifisme yang kuat.

Atas rekomendasi Professor Hulsey Cason, Abraham Maslow diminta menggarap tesis berjudul “learning, retention, and reproduction of verbal material”.

Walaupun berhasil menyelesaikan tesisnya dan lulus, Abraham Maslow merasa malu dengan karyanya ini. Malah, Abraham Maslow sampai nekat ke perpustakaan psikologi dan merobek tesisnya dari katalog perpus. Tapi, Professor Carson berhasil meyakinkan Abraham Maslow untuk mempublikasikan tesisnya ke jurnal psikologi.

9. Karir dan Penelitian Psikologi Lanjutan

Abraham Maslow memulai karirnya sebagai pengajar di Brooklyn College pada 1937 sampai 1951. Pada saat itu, Abraham Maslow terpengaruh oleh psikolog Gestalt antropolog Ruth Benedict. Saking terpengaruhnya, Abraham Maslow menganggap mereka berdua adalah orang luar biasa.
Abraham Maslow mulai menganalisa mereka dan mencatat perilaku mereka. Kelakuan stalking ini kemudian menjadi cikal bakal teori populer bernama Hirarki Abraham Maslow.

Abraham Maslow melanjutkan penelitiannya, dengan tema teori kebutuhan dan potensi manusia. Di sini dia bertemu dengan legenda psikologi lainnya.

Sekitar 1941, Jepang mendeklarasikan perang terhadap Amerika dengan serangan Pearl Harbor nya. Karena sudah berusia 33 tahun, Abraham Maslow nggak diikutkan dalam wajib militer.
Meski begitu, kengerian perang menginspirasi Abraham Maslow tentang cara menciptakan kedamaian. Pemikiran ini kemudian mengantarkannya pada penelitian mengenai aktualisasi diri.

Penelitian mengenai aktualisasi diri dimulai dengan menganalisa hasil stalking terhadap Ruth Benedict dan Max Wertheimer. Ia meminjam teori teori psikolog lain mengenai kesehatan mental dan potensi manusia, menambahkan banyak aspek baru ke dalamnya, terutama mengenai konsep hirarki kebutuhan, metakebutuhan, metamotivasi, orang orang teraktualisasi, dan pengalaman puncak.

Abraham Maslow menganggap dirinya sebagai pionir baru di bidang psikologi. Ia menciptakan jalan yang inovatif bagi para psikolog untuk memahami manusia. Malahan, Abraham Maslow menciptakan kerangka kerja atas teorinya agar psikolog lain bisa nambahin aspek aspek yang lebih bagus.

Pada 1963, Abraham Maslow jadi salah satu kandidat presiden Asosiasi Psikologi Humanistik, tapi Abraham Maslow menolak. Bagi Abraham Maslow, Asosiasi Psikologi Humanistik harus bisa jalan sendiri tanpa ada pemimpin. Di tahun yang sama, Abraham Maslow menerima dana bantuan dari Yayasan Laughlin di Menlo Park, California, sehingga Abraham Maslow bisa fokus menulis.


10. Akhir Hidup

Abraham Maslow menghabiskan waktunya dengan menulis. Pada 1967, ia terkena serangan jantung yang lumayan fatal. Demi kesehatannya, Abraham Maslow dan Bertha kemudian pindah ke San Fransisco Bay yang iklimnya lebih hangat.

Walaupun sakit, passion Abraham Maslow untuk menulis, mengajar, dan memberi konsultasi tidak pernah hilang. Ia pernah menulis “I have a very strong sense of being in the middle of a historical wave. One hundred fifty years from now, what will historians say about this age? What was really important? My belief is that…the `growing tip’ of mankind is now growing and will flourish.“

Aku punya firasat kuat bahwa saat ini aku di tengah gelombang sejarah yang besar. 150 tahun dari sekarang, apa kata para sejarahwan tentang masa ini? Apa yang paling penting dari masa ini? Aku yakin bahwa fase puncak umat manusia sekarang sedang tumbuh dan akan merekah.”

8 Juni 1970, Abraham Maslow meninggal saat jogging di Menlo Park, California. Ia wafat saat berusia 62 tahun.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :
Kategori : Ilmu Psikologi