Home » Gangguan Psikologi » Sindrom » Sejarah Hari Autisme Sedunia

Sejarah Hari Autisme Sedunia

by Raehatul Jannah

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perilaku yang dialami oleh seseorang dan membuat mereka mempunyai kendala yang berkaitan dengan tingkah laku, komunikasi, serta interaksi dengan lingkungan sosial yang sudah dirasakan mereka sejak kecil.

Seorang autisme biasanya tidak terlihat tidak peduli saat ada orang yang berbicara dengannya. Mereka tidak mendengarkan dan memandang lawan bicaranya. Terkadang, inilah yang membuat seseorang yang memiliki gangguan autisme tidak memiliki teman dan cenderung di bully.

Sejarah hari autisme

Awal mulanya, negara pertama yang mengusulkan penetapan adanya Hari Peduli Autisme sedunia adalah Qatar. Mereka melihat bahwa masih banyak sekali seseorang dengan gangguan Autisme mengalami ketidakadilan disekitarnya, seperti menjadi korban bullying, mendapat hinaan, dan dikucilkan di lingkungan sekitarnya.

Oleh sebab adanya ketidakpedulian dan kurangnya toleransi kepada para penyandang autisme, lahirlah hari peduli autisme sedunia yang diharapkan dapat mampu membuat semua orang sadar bahwa penyandang disabilitas dan autisme juga merupakan bagian dari kita, mereka sama dan mereka tidak pantas mendapat perlakuan-perlakuan yang buruk dari orang disekelilingnya.

Maka pada tanggal 18 Desember 2007 untuk pertama kalinya PBB mendeklarasikan bahwa hari kesadaran autisme sedunia (World Autism Awareness Day) dijadwalkan akan diperingati pada tanggal 2 April 2008. Dan seterusnya alam terus diperingati setiap tanggal 2 April setiap tahunnya.

Hari Kesadaran Autisme Sedunia muncul dan diakui secara internasional sebagai pengingat agar orang-orang meningkatkan kesadaran mereka kepada para penyandang gangguan spektrum autisme. Hal itu dilakukan karena masih banyak orang-orang yang kurang peduli dan membully seorang penyandang Autisme.

Dengan dideklarasikannya Hari Kesadaran Autisme sedunia semoga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup para penyandang autisme hingga mereka memiliki kehidupan utuh dan bermakna sebagai bagian integral dari masyarakat.

Tema acara autisme

Saat Hari Kesadaran Autisme Sedunia diadakan, salah satu cara yang bagus untuk membantu meningkatkan kesadaran dan kepedulian adalah dengan mengadakan acara bersama dengan para anggota yang menyandang Autisme. Seperti misalnya :

  • Mengadakan acara sehari bermain bersama penyandang Autisme
  • Membaca buku-buku yang membahas mengenai masalah disabilitas atau autisme agar lebih memahami kelainan yang dimiliki oleh mereka
  • Merayakan Hari Kesadaran Autisme tersebut dengan menghubungi bisnis lokal dan mendorong mereka untuk menerangi gedung mereka dengan warna biru untuk menandakan dukungan mereka bagi orang-orang yang terkena Autisme.

Arti warna biru pada perayaan hari autisme

Kenapa warna biru? Awal mula warna biru tersebut adalah karena adanya kampanye yang disponsori oleh organisasi Autism Speak yang bernama Light Up Blue. Selain warna biru, potongan puzzle multi-warna juga merupakan simbol Hari Kesadaran Autisme Sedunia.

Selain merayakan hari kesadaran autisme dengan menampilkan warna biru atau potongan-potongan puzzle multi-warna, banyak orang yang juga merayakan World Autism Awareness Day dengan mengambil sumpah Autism Speak. Mereka bersumpah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi untuk semua orang dan mendukung segala potensi mereka secara penuh dalam mencapai keinginannya.

Sepanjang sejarahnya, sebenarnya keluarga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah merayakan keragaman dan mempromosikan segala hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas—seperti autisme—dengan memberikan mereka fasilitas dan perbedaan dalam belajar dan disabilitas perkembangan.

Kemudian pada tahun 2008, setelah resminya Hari Kesadaran Autisme Sedunia diresmikan, Konvensi Hak Penyandang Disabilitas mulai diberlakukan. Kembali menegaskan bahwa prinsip Hak Asasi Manusia universal untuk semua.

Dalam kemanusiaan, prinsip Hak Asasi Manusia universal diyakini sebab konsep ini dipercaya dimiliki oleh semua orang tanpa membeda-bedakan gender, kekurangan atau kelebihan, berkulit putih atau berkulit hitam, ataupun perbedaan agama.

Kembali pada adanya Konvensi Hak Penyandang Disabilitas yang mulai berlaku, tujuan hal tersebut adalah untuk mempromosikan, melindungi, dan memastikan bahwa semuanya setara dalam Hak Asasi Manusia dan kebebasan mendasar oleh semua penyandang disabilitas, serta untuk mempromosikan penghormatan atas martabat yang melekat pada mereka.

Hal tersebut merupakan alat yang penting untuk mendorong masyarakat yang memiliki toleransi dan peduli terhadap semua anak dan orang dewasa penyandang autisme dapat menjalani kehidupan mereka dengan penuh makna dan damai.

Tingkat Autisme di seluruh dunia itu tinggi, dan kurangnya pemahaman akan hal itu malah memiliki dampak yang luar biasa terhadap individu, keluarga, dan kelompok atau komunitas dari penyandang autisme. Mereka juga selalu mendapatkan stigmatisasi dan diskriminasi terkait dengan adanya perbedaan neurologis tetap yang menjadi hambatan untuk diagnosis dan terapi.

Masalah ini lah yang menjadi tantangan dan harus ditangani oleh pembuat kebijakan publik di negara berkembang dan di negara donor (negara yang dapat membantu negara lain). Itulah yang membuat PBB menyetujui dan mendeklarasikan adanya World Autism Awareness Day (Hari Kesadaran Autisme Sedunia).

You may also like