Sponsors Link

12 Cara Menghadapi Quarter Life Crisis Menurut Psikologi

Sponsors Link

Pernahkah Anda sebelumnya mendengar tentang quarter life crisis? Krisis di usia seperempat hidup atau yang biasa disebut sebagai quarter life crisis adalah krisis yang dialami seseorang berusia 25 tahunan.

ads

Quarter life crisis adalah masa di mana seseorang yang berusia 25 tahunan mempertanyakan hidupnya. Di masa yang merupakan puncak kedewasaan seseorang ini, orang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang.

Quarter Life Crisis tidak akan selesai jika hanya diratapi. Hanya meratapinya, justru akan membuatmu berkutat pada satu kebingungan ke kebingungan yang lain. Sebab itu, hadapi dengan tips berikut 12 Cara Menghadapi Quarter Life Crisis Menurut Psikologi.

1. Tentukan tujuan

Dalam budaya kita, ketika kita sudah menyelesaikan kewajiban ‘belajar’, kita sudah dianggap dewasa. Pada masa persimpangan antara remaja dan dewasa inilah, biasanya kita mulai terjebak dalam kebingungan, dengan apa yang harusnya kita usahakan untuk mencapai masa depan gemilang seperti harapan orang tua. Yang membuat kita bingung, harus melangkah ke mana, dengan berbagai pilihan yang ada, sebab itu segera matangkan tujuan. Baca juga mengenai : perkembangan kognitif pada masa dewasa akhir

2. Tak perlu dihadapi dengan ketakutan atau kebingungan

Sebenarnya, quarter life crisis ini hanyalah sebuah fase di kehidupan kita menuju fase kehidupan selanjutnya. Yang tidak perlu dihadapi dengan ketakutan dan kebingungan yang berlebihan. Perasaan takut dan bingung yang berlebih, justru menyebabkan kita semakin krisis dan terjebak di dalamnya. Sehingga kita semakin tidak kuasa untuk menentukan langkah. Hanya berputar pada perasaan bingung yang satu ke kebingungan yang lain, tanpa henti. Baca juga mengenai : tahap perkembangan kognitif pada orang dewasa

3. Pahami tentang tahapan hidup

Ketika kita sudah dianggap dewasa, memang ada beberapa pilihan hidup yang ditujukan kepada kita. Meminta kita untuk memilih. Hal ini biasanya dimulai ketika kita telah menyelesaikan sekolah. Sejak kecil, tahapan hidup kita seperti sudah ditentukan oleh lingkungan. Baca juga mengenai : perkembangan kognitif pada dewasa awal

Ketika lulus dari SD, kemungkinan besar dipastikan akan lanjut ke SMP, lalu SMA. Nah, ada sebagian yang mulai mengalami kebingungan, akan bergerak ke mana. Namun ada pula yang sudah memastikan diri akan melanjutkan belajar di dunia perkuliahan. Oleh karena itu, ada perbedaan usia setiap orang ketika mengalami krisis ini. Baca juga mengenai : perkembangan psikologi masa dewasa dini

4. Diskusi dengan orang tua

Selepas menunaikan kewajiban belajar, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Secara sederhana, kita diberi pilihan untuk melanjutkan kuliah lagi, memulai karier, atau langsung menikah saja. Ketika memilih ingin lanjut kuliah, masih diikuti beberapa pertimbangan, akan lanjut kuliah di jurusan apa? Baca juga mengenai : perkembangan psikologi wanita dewasa

Apakah tetap dengan biaya orang tua, ataukah beasiswa? Serta memikirkan juga, adakah kesempatan berkuliah yang dapat disambi kerja? Pasalnya, ketika sudah dianggap dewasa, ada perasaan sungkan untuk terus-terusan minta uang untuk hidup pada orang tua, sebab itu diskusikan dengan orang tua.


5. Tentang pekerjaan dan karir

Ketika menyadari bahwa pekerjaan ideal yang diidamkan diam-diam, tidak dapat dengan mudah dijalankan dengan melihat realita yang ada. Belum lagi muncul perasaan perlu bertanggungjawab untuk mandiri secara finansial. Terus, mana jalan yang harus dipilih, yang dapat memaksimalkan potensi kita? Jadi pahami tentang pekerjaan dan karir.

6. Tentang Pertemanan

Jika memiliki kesibukan baru seperti menikah sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, karena yang sekarang lebih kita butuhkan dalam sebuah pertemanan, tidak lagi kuantitasnya, melainkan kualitasnya.

Dari banyaknya relasi pertemanan kita, pasti akan ada yang terfilter. Teman yang mana saja yang memang benar-benar sejalan dengan kita. Yang meski fokus dengan hidupnya, namun tetap nyaman untuk saling mendukung satu sama lain.

7. Tentang jodoh

Orang akan datang dan pergi dari hidup kita. Kita pun kemudian mulai memikirkan bahwa kita butuh seseorang yang bersedia untuk bertahan. Kita tidak butuh sekedar pacar, namun yang kita butuhkan adalah seseorang yang mau menjalin komitmen dengan diri kita, untuk tetap beriringan, apapun yang terjadi.

8. Pahami bekal pernikahan

Keinginan ini pun juga tidak selalu mudah untuk dipenuhi. Ada yang merasa bingung karena masih single dan belum menemukan pasangan. Ada yang sudah menemukan pasangan dan dirasa sudah klop dengannya, namun masih terganjal restu dari keluarga. Ada pula yang sudah mendapatkan pasangan dan restu, namun akhirnya memahami, sebab itu, pahamilah bahwa sebuah pernikahan tidak cukup hanya dengan modal sayang dan cinta.

9. Hubungan dengan media sosial

Media sosial pun menjadi tantangan tersendiri. Atau justru menjadi mimpi buruk yang sangat menyebalkan. Melihat standar kebahagiaan orang di sekitar kita dengan pencapaiannya, membuat kita semakin dilema.

Lamat-lamat membandingkan diri dengan mereka. Sejauh mana progres pencapaian masing-masing. Sudah benarkah jalan yang kita mulai ini? Atau malah punya pikiran, haruskah kita juga memilih jalan yang mereka pilih. Karena melihat mereka nampak lebih bahagia, sedangkan kita masih gini-gini aja.

Apakah perjalanan hidup yang dipilih memang harus sesuai dengan harapan publik atau dapat mengikuti passion yang selama ini kita koar-koarkan dalam pikiran. Mana yang harus kita ikuti? Apakah ada kesempatan untuk memperbaiki,

jika sudah terlanjur melakoni pilihan itu? Apalagi ada perasaan takut terlambat jika nantinya salah langkah. Ada anggapan, bahwa dunia yang sibuk dan cepat ini, tidak menerima kegagalan yang mungkin kita lakukan.

10. Hentikan pikiran berat

Hal yang bisa kita lakukan untuk menjalani Quarter Life Crisis adalah dengan menghentikan sikap overthinking atau pikiran berat kita. Kita perlu meyakinkan diri sendiri dan mulai lakukan sesuatu. Sudah sering dengar kan,

bahwa kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika kita tidak bergerak untuk memulainya. Kita bisa mulai dengan kegiatan, yang jika hanya kita bayangkan saja, kita akan merasa bahagia. Kemudian muncul semangat untuk menjalaninya.


11. Kontrol ekspektasi

Selain itu, kita juga perlu mengontrol ekspektasi kita. Tidak perlu mengharapkan yang berlebihan terhadap sesuatu yang baru kita mulai. Nikmati proses yang kita mulai itu, dan kegagalan tidak akan menjadi masalah. Seperti sebuah petuah lama, kegagalanlah yang justru akan memberikan pembelajaran.

12. Yakin selalu mendapat yang terbaik

Kita hanya perlu meyakinkan diri sendiri, bahwa kita sedang berada pada posisi dan kondisi yang tepat. Yang kita butuhkan hanyalah, bertahan dan berjuang sedikit lagi, agar semua tidak menjadi terlalu berat.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :
Kategori : Ilmu Psikologi