Sponsors Link

Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Sponsors Link

Seabad setelah psikologi diakui sebagai disiplin ilmu yang otonom, para ahli melihat bahwa psikologi pun memiliki keterkaitan dengan masalah masalah yang menyangkut kehidupan batin manusia yang paling dalam, yaitu agama.

ads

Kajian kajian khusus mengenai agama melalui pendekatan psikologis ini sejak awal awal abad ke 19 menjadi kian berkembang, sehingga para ahli psikologi yang bersangkutan melalui karya mereka telah membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, yaitu psikologi agama.

Dan yang mula mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama ialah Frazer dan Taylor. Kedua tokoh ini membentangkan berbagai macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk ibadah pada agama Kristen dan ibadah agama agama primitif.

Selanjutnya, pendekatan ilmiah terhadap psikologi agama baru dimulai pada tahun 1881, ketika G. Stanley Hall sebagai salah seorang ahli psikologi pada masa itu mempelajari peristiwa konversi agama dan remaja.

Berikut ini akan dikemukakan selengkapnya tentang Sejarah Perkembangan Psikologi Agama:

Pada tahun 1909

Para ahli psikologi mengadakan konferensi di Jenewa dan diantara hasilnya adalah memperkenankan tinjauan psikologis terhadap fakta fakta keagamaan manusia. Karena penelitian terhadap keberagamaan orang tidak akan menyinggung kehormatan dan kemuliaan agama.
Mengenai psikologi agama yang khusus tentang Islam, terdapat berbagai tulisan. Baca juga mengenai : metode pemecahan masalah dalam psikologi agama

Pada tahun 1955

Abdul Mun’in Abdul Aziz Al Malighy menulis buku dengan judul Tathawwur al Syu’ur ad Diin ‘Indat Tifl wa al Muraahiq (Perkembangan rasa keagamaan pada anak dan remaja). Dan berdasarkan konteks kejiwaan, buku ini dapat dianggap sebagai awal dari munculnya kajian psikologi agama di kalangan ilmuwan muslim modern. Baca juga mengenai : faktor sosial dalam psikologi agama

Karya karya tentang psikologi agama

Karya yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh al Din al Islamy (Jiwa Agama Islami) karangan Alif Abd al Fatah tahun 1956. Demikian pula pada tahun 1963 terbit buku Al Shihah al Nafsiyah karangan Moustafa Fahmy. Baca juga mengenai : teori teori dalam psikologi agama

Hasan Muhammad Asy Syarqawy dengan judul bukunya Nahwa ‘Ilmi Nqfsi Islamiy yang terbit tahun 1979, Youth and Moral karya Mujtaba Musawi Lari yang terbit tahun 1990, dan Islam’s Treatment for Anxiety and Worry karya Muhammad Salih al Munajjid yang terbit tahun 1999. Baca juga mengenai : peran orang tua dalam menanamkan nilai agama


Psikologi agama berhubungan dengan dunia luas

Dapat dipahami bahwa tampaknya memang perkembangan psikologi agama di dunia Islam baru tampak sekitar abad ke 20. Keberadaan psikologi di Indonesia mulai pada tahun 1952, meski memiliki sejarah yang jauh lebih pendek dari keberadaan psikolog di Negara Barat, namun psikologi di Indonesia jelas menjadi sebuah kebutuhan yang sangat vital dalam dunia kesehatan, bisnis, kesehatan, politik, pendidikan, social dsb. Baca juga mengenai : faktor frustasi dalam psikologi agama

Pembukaan keilmuan psikologi agama

  • Di fakultas pendidikan

Pendidikan psikiologi juga mulai di perkenalkan kembali memulai pembukaan fakultas pendidikan di UGM yang kemudian merubah menjadi Intitut keguruan dan ilmu pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Pengembangan psikologi di indonesia, harus sesuai dengan kerangka yang telah di tetapkan oleh pemerintah dan HIMPSI (Himpunan psikolongi Indonesia ) yang sejak tahun 1998/ 1999 sudah mempunyai beberapa di antaranya IPS dan Assosia Psikologi industri dan Organisasi (Apio).

  • Di kalangan gereja

Psikologi agama pada awalnya lebih banyak dikenal oleh kalangan gereja untuk kepentingan pelayanan terhadap jemaat mereka. Di kalangan umat Islam boleh dikatakan yang memperkenalkan psikologi agama sebagai suatu disiplin ilmu adalah Prof Dr. Zakiah Daradjat dengan bukunya Ilmu Jiwa Agama yang terbit pertama kali pada tahun 1970.

  • Psikologi islam

Karya fenomenal lainnya adalah Agama dan Kesehatan Jiwa oleh Prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh S.S. Djam’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister pada tahun 1982 yang kemudian pada tahun 1989 diterbitkan pula dengan judul Psikologi Agama. Kemudian Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari, dan sebagainya.

Pada tahun 1986 Y. B. Mangunwijaya menerbitkan pula buku dengan judul Menumbuhkan Sikap Religius Anak anak yang berisikan cara memandu pertumbuhan jiwa keagamaan pada anak anak. Tahun 1992 terbit pula buku Psikologi Hidup Rohani yang ditulis oleh F. Mardi Prasetya.

Pembahasan dalam bukunya lebih mengarah kepada segi segi pelayanan pastoral. Pada tahun 1997 terbit pula buku Psikologi Agama yang ditulis oleh Jalaluddin. Khusus psikologi Islam dapat dikemukakan antara lain Psikologi Islami yang ditulis oleh Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashori Suroso terbit tahun 1994,

Nuansa nuansa Psikologi Islami yang ditulis oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir yang terbit pertama kali tahun 2001, serta Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami karya Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam.

Psikologi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda.

Hal ini di sebabkan, selain bidang kajian menyangkut kehidupan manusia secara pribadi maupun kelompok, bidang kajiannya juga menyangkut permasalahan perkembangan usia manusia. Selain itu sesuai bidang cakupannya, ternyata psikologi agama termasuk ilmu terapan yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari hari.

Tampaknya para ilmuan dan agamawan yang semula berselisih pendapat mengenai psikologi agama, kini seakan menyatu dalam kesepakatan yang tak tertulis, bahwa dalam kehidupan modern ini, peran agama menjadi kian penting.

Dan pendekatan psikologi agama dapat di gunakan dalam memecahkan berbagai problema kehidupan yang di hadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai nilai peradaban dan nilai moral. Dapat dipahami bahwa psikologi agama sebagai suatu disiplin ilmu yang diteliti dengan metode ilmiah merupakan ilmu yang masih sangat muda.

Psikologi agama kini banyak diminati

Psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang tumbuh pada abad ke 19 kini semakin banyak diminati orang. Berbeda dengan disiplin ilmu lainnya, ilmu ini meneliti hubungan manusia dengan kepercayaannya (agama) dari sudut kejiwaan.


Dalam usianya yang menjelang seabad ini tampaknya psikologi agama kian diterima oleh berbagai kalangan termasuk para agamawan yang semula menggugat keabsahannya sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejalan dengan hal itu, maka kemajuan dan pengembangan psikologi agama di lapangan pendidikan dinilai banyak membantu pemahaman terhadap permasalahan keagamaan dalam kaitannya dengan tugas tugas kependidikan.

Begitu juga dalam bidang dakwah, seperti dakwah Islam, dimana psikologi agama sangat membantu tokoh agama ataupun ulama dalam menyampaikan ajaran agama. Selain itu, sesuai dengan bidang cakupannya, ternyata psikologi agama termasuk ilmu terapan (applied science) yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari hari.

Pendekatan psikologi agama dapat digunakan dalam memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai nilai peradaban dan nilai moral, khususnya dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.

Demikian yang dapat disampaikan penulis, sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :
Kategori : Psikologi Agama