Sponsors Link

Emosi dalam Psikologi Lintas Budaya

Sponsors Link

Emosi adalah perasaan intens yang disampaikan kepada seseorang atau kepada suatu hal yang bisa berupa kata kata, tulisan, ataupun perbuatan baik itu negatif maupun positif. Emosi menjadi gambaran dari karakter dan dapat dijadikan sebagai tolak ukur karakter seseorang yang berkaitan dengan pengendalian diri dan kesabaran.

ads

Seringkali dipertanyakan apakah emosi berhubungan dengan budaya atau kebiasaan yang berhubungan dengan adat istadat dimana orang tersebut tinggal, apakah emosi yang ditunjukkan akan memiliki perbedaan ketika menghadapi permasalahan dan kasus yang sama. Sebab itu pada kesempatan kali ini penulis akan menguraikan secara lengkap mengenai emosi dalam psikologi lintas budaya.

Cara Berbeda dalam Melabeli Emosi

Tiap budaya di suatu daerah memiliki pandangan yang berbeda mengenai emosi, emosi di ebrbagai budaya dan engara memiliki sebutan dan ukuran yang berbeda, hal itu dipandang dari kebiasaan ketika seseorang kecil dan belajar dari orang dewasa di sekitarnya, bagaimana tampilan orang orang ketika sedang marah atau ketika sedang emosi dan bagaimana pengungkapannya. (Baca juga mengenai tipe prasangka dalam psikologi sosial).

Budaya terkadang juga dipengaruhi oleh agama yang menjadi keyakinan orang tersebut, misalnya ialah di suatu daerah yang kental dengan budaya keras, terbiasa meluapkan emosi dengan cara mengeluarkan kata kata kasar atau bahkan tindakan yang berhubungan dengan fisik dan hal itu dianggap sebagai hal yang wajar karena telah terjadi dalam budayanya dalam keseharian. (Baca juga mengenai tips memahami psikologi anak).

Namun ada pula perbedaan di daerah lain dlaam menyikapi emosi seperti cukup diam dan menyampaikan dengan tatapan mata sudah cukup untuk menunjukkan bahwa orang tersebut sedang emosi dan tidak ingin diganggu, jelas bahwa budaya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam cara melabeli dan menerapkan emosi itu sendiri. (Baca juga mengenai konsep sensasi dalam psikologi).

Lokasi Emosi

Tiap budaya juga mengajarkan dari mana emosi itu berasal, yakni berdasarkan apa yang diajarkan oleh pendahulu mereka dan diteruskan hingga generasi selanjuutnya, salah satu contohnya ialah ada yang menganggap bahwa emosi berasal dari jantung manusia, sehingga ketika emosi jantung akan terasa sakit dan berdetak lebih cepat yang akan berdampak pada kesehatan jantung, di daerah tersebut orang yang memiliki penyakit jantung dianggap terjadi karena emosi yang berlebihan. (Baca juga mengenai perkembangan emosi bayi 12 bulan).

Ada juga yang mengangap pada budayanya bahwa emosi berasal dari hati atau dari otak yang juga akan berpangaruh pada kedua organ tersebut, darimana lokasi emosi itu dianggap berasal, akan dihubungkan dengan cara penenangan diri ketika emosi dan kemungkinan dampak buruk yang ditimbulkan jika terjadi emosi dalam diri. (Baca juga mengenai cara mengatasi masalah dalam hubungan cinta).

Sebab itus erring ditemui dalam budaya tertentu orang yang sedang emosi lebih banyak menunjuk pada sesuatu  seperti menunjuk pada kalimat yang berhubungan dengan otak atau dari mana emosi itu dianggap, hal tersebut akan mempengaruhi mindsetnya sendiri, jika terjadi sesuatu di organ yang berhubungan ia akan menganggapnya sebagai bagian dampak dari emosi.


Ekspresi Emosi

Tiap budaya mengajarkan bagaimana emosi itu diungkapkan dari ekspresi wajah yang tentunya memiliki perbedaan di tiap daerah, misalnya ialah di daerah yang memang sudah terbiasa dnegan kekerasan bahkan peperangan, ia terbiasa menampilkan emosi dengan wajah yang garang dan ancaman yang dapat pula menimbulkan emosi pada lawannya.

Ada pula budaya yang mengajarkan dengan kelembutan seperti menangani emosi dengan sabar dan tidak mendahulukan ego, yakni dengan mengutamakan penyelesaian terlebih dahulu disbanding mengungkapkan ekpresi yang akan merusak diri sendiri, budaya tersebut umumnya dipelajari dari orang orang dewasa di sekitarnya.

Seperti anak anak ketika emlihat bagaimana orang tua atau gurunya mengeluarkan emosi atau emnampilkan ekspresi wajah, hal itulah yang akan menjadi gambaran pembenaran untuknya mengenai bagaimana ia harus berekspresi ketika sedang emosi karena terbiasa dengan apa yang dicontohkan untuknya sejak ia kecil.

Aturan Pengungkapan Kultural

Di berbagai budaya tentunya diajarkan bagaimana seseorang boleh menampilkan emosi di hadapan orang lain, ada emosi yang boleh ditampilkan dengan ekspresi wajah tertentu, kata kata tertentu, atau tindakan tertentu, namun ada pula budaya yang mengajarkan utnuk mengungkapkan emosi dengan kesabaran dan lebih memilih untuk diam atau penyelesaian secara baik baik.

Aturan dalam budaya ini umumnya juga dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut, misalnya budaya jawa yang kental dengan islam akan cenderung lebih mampu menahan emosi dan menenangkan diri dnegan jalan memperbanyak ibadah atau dengan berdoa, begitu pula dengan budaya yang kental dengan agama lain, ada yang mengajarkan untuk mengungkapkan emosi dnegan diam atau dengan menyepi menenangkan diri.

Tentunya budaya yang diajarkan tersebut akan menjadi karakter seseorang dan menjadi kebiasannya hingga ia dewasa, sebab itu aturan pengungkapan kultural yang berhubungan dengan emosi ini akan menjadikan seseorang memiliki pandangan khusus dan cara yang berbeda dalam menyampaikan emosi yang dirasa sesuai dengan apa yang diajarkan pada budayanya.

Budaya Mempengaruhi Persepsi Emosi

Budaya dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap emosi, hal itu akan emnentukan tingkah laku seseorang mengenai penerimaan atau penolakan yang akhirnya akan emnjadikan emosi yang negative atau emosi yang positif, misalnya ialah budaya di jaman dahulu dimana perempuan diwajibkan terus menerus di dalam rumah, tidak diperbolehkan untuk bisa membaca, dan tidak diperbolehkan melawan lelaki.

Budaya tersebut akhirnya menimbulkan rasa pertentangan dan menimbulkan luapan emosi hingga budaya tersebut mulai dihilangkan dengan emansipasi dan kini menjadi lebih terbuka, setiap lelaki dan wanita berhak menyampaikan emosi dengan cara yang benar dan cara yang sama, perempuan tidak emnjadi sosok yang selalu di bawah dan sosok yang selalu menurut.

Perubahan persepsi emosi akrena budaya tersebut pun menimbulkan dampak positif dan negative, dampak positifnya perempuan emnjadi lebih berkembang, namun memiliki dampak negative pula yaitu banyaknya perempuan yang tidak bisa menjaga emosinya dan bahkan terlihat lebih besar dari emosi yang dimiliki lelaki, tentunya hal itu dapat diambil pelajaran bahwa setiap budaya selalu memiliki hal positif dan wajib dianut serta dikembangkan hal yang menjadi alasan kebaikan tersebut.

Demikian artikel kali ini, semoga mudah dipahami oleh anda dapat menjadi wacana yang bermanfaat untuk anda, jangan lupa selalu luangkan waktu untuk membaca artikel kami agar anda selalu mendapat wawasan yang bermanfaat. Terima kasih sudah membaca. Salam hangat dari penulis.

 

Sponsors Link
, , , , ,




Oleh :
Kategori : Psikologi Sosial