Autisme pertama kali ditemukan oleh seorang psikiater anak yang bernama Leo Kanner dengan menjabarkan gejala-gejala ‘aneh’ yang ada pada 11 pasien anak. Anak-anak itu sangat asik dengan dirinya sendiri dan merasa hidup dalam dunianya tersebut (Nugraheni, 2012; Maryanti, 2012).
Menurut Hartono, 2002), autisme adalah gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, merespons lingkungan, serta mengendalikan emosi menjadi berkurang atau bahkan hilang.
Secara umum, menurut Patricia Rodier yang merupakan ahli embrio, gangguan autis pada anak disebabkan oleh terjadinya kerusakan jaringan otak. Di sisi lain, Suteja (2014) mengungkapkan bahwa ukuran bagian otak untuk mengendalikan memori dan emosi pada anak autisme lebih kecil dari anak normal sehingga kemampuan otak menjadi berkurang.
Terdapat beberapa faktor yang mungkin saling berkaitan satu sama lain dalam terjadinya autisme. Berikut adalah 6 faktor penyebab autisme pada anak, di antaranya:
Faktor ini berasal dari gangguan susunan saraf pusat di otak. Gangguan ini pada umumnya terjadi karena pertumbuhan sel-sel di beberapa bagian otak tidak berjalan dengan baik pada masa tiga bulan pertama kehamilan (Maulana, 2007).
Faktor genetik ini berkaitan juga dengan faktor lingkungan. Terdapat ratusan gen dalam tubuh bayi yang yang menjadi penyebab autisme. Hal ini dikarenakan gen tersebut mengalami proses mutasi (Devlin & Scherer, 2012; Elamin & Al-Ayadhi, 2015).
Proses yang terjadi selama ibu mengandung dan melahirkan pasti memiliki pengaruh terhadap gejala autisme pada anak. Misalnya ibu menjadi perokok pasif, ibu mengalami ketidakstabilan emosi, dan terdapat riwayat penyakit dan pengobatan selama kehamilan, contohnya gangguan tiroid, diabetes, hipertensi, dan hepatitis B (Affandi, 2014). Selain itu, persalinan sectio caesaria, hipoksia, serta trauma dan komplikasi saat persalinan juga dapat menjadi faktor penyebab autisme.
Faktor lingkungan juga berkontribusi dalam terjadinya gangguan autisme (Sari, Amin, & Lukiati, 2017). Hal ini dapat terjadi karena komplikasi sebelum dan setelah melahirkan, seperti rubella kongenital, sklerosis tuberosa, lipidosis serebral; alergi terhadap makanan (Affandi & Pratiwi, 2014); polusi lingkungan baik pada udara maupun air (Sealey, dkk., 2016); masalah pada nutrisi (Wijngaarden. 2013); serta keracunan logam berat, seperti timbal, merkuri, dan kadmium ketika dalam kandungan.
Salah satu gangguan sistem imun yang terjadi adalah neuroimun yang mempengaruhi proses kerja sistem saraf sehingga memicu terjadinya neuroinflamasi (Gottfried, dkk., 2015; Vargas, dkk., 2005). Neuroinflamasi ini kemudian dapat menjadi salah satu faktor penyebab autisme terjadi pada anak.
Meskipun masih terjadi perdebatan sampai saat ini, tetapi vaksinasi MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) diduga menjadi penyebab autisme pada anak. Vaksin ini memiliki zat pengawet Thimerosal yang diduga menyebabkan autisme (Maryanti, 2012).
Demikianlah 6 faktor penyebab autisme pada anak. Konsultasikan kepada dokter mengenai kondisi anak sedini mungkin sehingga deteksi dapat dilakukan lebih awal dan intervensi untuk mencegah kondisi yang lebih buruk dapat segera diberikan.
Каким образом фокус определяет увлечение Фокус представляет собой действенный инструмент людского мышления, который не просто…
Каким образом психологический настрой воздействует на интерпретацию результата Личностное понимание успехов и неудач составляет собой…
Почему индивиды высоко оценивают чувства, даже неприятные Природа человека природа построена странно: мы стремимся к…
В какой мере внутренний настрой оказывает воздействие на восприятие достижения Индивидуальное понимание успехов и провалов…
В какой мере душевный подход оказывает воздействие на интерпретацию результата Индивидуальное восприятие достижений и поражений…
Каким образом внимание соединено с вовлечённостью Фокус выступает как базовый ментальный инструмент, который определяет характер…